Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan

Februari 16, 2012

Pasangan Jiwa

Cerita ini sangat bagus untuk seseorang yang ingin mencari pasanganya...
Semoga Barokah...Amin

Andri telah beranjak dewasa. Sudah saatnya ia mencari gadis yang baik untuk dijadikan istri. Tapi sampai saat ini, ia belum juga berhasil. Bukan suatu hal yang aneh. Ia memang terlalu mempertimbangkan bibit-bebet-bobot calon istrinya. Maka, saat Musim panas mulai bertiup, Andri melakukan perjalanan ke Yogya. Di tengah perjalanan, Andri memutuskan untuk beristirahat di sebuah rumah penginapan yang berada di Sekitar Malioboro. Kebetulan ia bertemu dengan teman sekolahnya dulu. Maka Andri tak segan untuk menceritakan maksud perjalanannya itu. Seperti gayung bersambut, temannya menyarankan Andri untuk mencoba melamar anak gadis keluarga Surya.

Menurut temannya itu, keluarga Surya adalah keluarga yang status sosial ekonominya sederajat dengan Andri. Lagipula, gadis itu sangat cantik dan terpelajar. Andri girang bukan main.Sebelum berpisah, teman Andri berjanji untuk mempertemukannya dengan 'Pak Comblang' dari keluarga Surya , esok pagi. Pak Comblang inilah yang akan meneruskan data pribadi Andri kepada gadis tersebut. Bila keluarga itu berkenan menerimanya, maka Andri akan segera berkenalan, sebelum lamaran resmi atau khitbah diajukan.

Kegembiraan yang meluap-luap memenuhi rongga dada Andri. Dibentangkannya sajadah, lalu ia mulai sholat istikhoroh. Baru kali ini Andri merasa melakukannya dengan sepenuh hati, dengan kepasrahan yang murni ... Ah. Tak terasa air mata Andri berjatuhan. Diam-diam menyelinap suatu penyesalan. Mengapa ia baru bisa khusyu' dan dapat merasakan ikatan yang erat dengan Allah, ketika ada masalah berat dan serius yang harus ia hadapi ? ...

Waktu subuh belum lama berlalu, namun Andri telah bersiap untuk pergi menemui Pak Comblang. Makin cepat makin baik, pikirnya. Di bawah sinar bulan sabit yang kepucatan, Andri bergegas menuju tempat itu. Fajar belum juga merekah ketika Andri sampai di tempat yang dijanjikan. Sepi sekali. Nyanyian jangkrik perlahan menghilang. Andri benar-benar sendirian. Di tengah kegamangan hatinya, Andri mencoba mengitari bangunan itu. Seperti sebuah musholla kecil. Cahaya lilin yang memantul di sela-sela kaca jendela, membangkitkan rasa ingin tahunya.



Andri berjingkat ke arah jendela. Ditempelkan matanya ke celah-celah ...
"Hei, masuklah!"

"Jangan mengintip seperti itu!"

Andri tersentak. Rasa malu, kaget dan takut berbaur menjadi satu.
"Ayo, masuklah. Jangan takut!"

Suaranya lebih lembut namun tetap berwibawa. Andri ragu-ragu. Tetapi rasa ingin tahu sedemikian menyerbunya. Akhirnya ia memberanikan diri melangkah ke dalam.
"Kemarilah!" ajaknya tanpa melihat muka Andri.

Andri memperhatikan dengan penuh seksama. Laki-laki itu belum terlalu tua, tapi wajahnya memancarkan kebaikan yang seolah-olah bersumber dari seluruh aliran darahnya. Bijak, arif, lembut namun tegas. Tentulah ia pengemban amanah yang luar biasa, pikir Andri. Laki-laki itu duduk di atas permadani sambil membaca sebuah buku.
Lalu ia berkata perlahan: "Belum saatnya Andri .... Belum saatnya." Andri menatap wajahnya dengan penuh kebingungan.

Lalu laki-laki itu kembali melanjutkan. Kali ini ditatapnya Andri dengan ketajaman jiwa.
"Kau tahu? Semenjak seseorang ada dalam kandungan ibunya, Allah Ta'ala telah menetapkan 3 hal untuknya. Kau sudah tahu bukan! Salah satu di antaranya adalah jodohnya.. pasangan hidupnya."

"Hmmmm..... seperti benang sutera."

"Ya, seperti benang sutera yang diikatkan di antara mereka berdua. Kepada kaki laki-laki atau bayi perempuan yang lahir dan ditakdirkan berjodohan satu dengan yang lainnya. Begitu simpul diikatkan, maka tak ada suatu hal pun yang dapat memisahkan mereka."

"Salah seorang diantara mereka mungkin saja berasal dari keluarga yang miskin, sedang yang lainnya dari keluarga yang kaya. Atau mereka terpisah bermil-mil jaraknya, bahkan mungkin ada yang berasal dari dua keluarga yang saling bermusuhan. Tapi pada akhirnya, bila saatnya telah tiba, mereka akan menjadi suami istri. Tak ada suatu hal pun yang dapat mengubah takdir itu." Laki-laki itu terdiam sesaat. Andri kini sudah sepenuhnya duduk terpekur di hadapannya.

Kalimat demi kalimat disimaknya dengan seksama. "Jodoh adalah masalah yang paling ajaib dan paling gaib. Suatu rahasia kehidupan yang tak akan pernah tuntas untuk dimengerti. Bayangkan. Dua anak yang berbeda, tumbuh di lingkungannya masing-masing. Sebagian besar mungkin tidak menyadari kehadiran satu dengan lainnya. Tapi bila saatnya tiba, mereka akan bertemu dan mengekalkan ikatannya dalam tali pernikahan."

"Kalau ada wanita atau laki-laki lain yang muncul di antara keduanya, ia akan terjatuh. la tak akan mampu melewati bentangan tali sutera yang telah diikatkan pada mereka. Ah, kau pasti pernah melihat orang yang patah hati bukan? Hhh, sebagian orang yang bodoh dan tak kuat menahan cobaan, memilih mati daripada patah hati. Bukan takdir yang memilihnya untuk bunuh diri. Itu pilihannya sendiri, ia cuma tak sabar menanti saat pertemuan itu datang."

"Ketahuilah,Andri . Masalah jodoh adalah rahasia Allah. Kau harus dapat berdamai dengan takdirmu."

"Bagaimana dengan aku!" sela Andri. "Apakah aku akan berhasil menikah dengan anak gadis dari keluarga Surya? Apakah ia takdirku?" tanyanya tak sabaran. Laki-laki itu tersenyum.

"Belum saatnya Andri. Belum saatnya. Suatu saat nanti, kau akan menikah dengan seorang gadis shalihat, cantik dan pintar. Pun dari keluarga yang terhormat. Kelak, setelah menikah, kalian akan mempunyai anak laki-laki. Dan anakmu akan menjadi pedagang yang terpelajar. Ia dermakan kekayaannya untuk agama Allah. la juga akan menjadi anak yang senantiasa memelihara kedua orang tuanya. Meskipun kalian sudah tua renta nanti. Hal ini tak lepai dari peranan ibunya dalam mendidik anak itu."

"Tapi itu nanti. Bila calon istrimu telah mencapai usia 17 tahun. Sayangnya, saat ini dia masih berumur 7 tahun."

"Hah!" Andri kebingungan. "Jadi saya harus membujang selama 10 tahun ?!"
Andri menatap tak percaya. Ia berharap semua hanya kemungkinan karena ia salah dengar saja. Andri mencari kesungguhan di sana. Tapi semua sia-sia. Air muka laki-laki itu tak berubah sedikit pun. Dan Andri menyadari semua adalah kebenaran.

"Kalau begitu, di mana dia sekarang? Dimana saya dapat menemui calon istri saya? Tolonglah?!" Andri memohon padanya. "Oh, gadis itu tinggal dengan wanita penjual sayur. Tak jauh dari sini. Setiap pagi, wanita itu datang ke pasar dan menjajakan sayurannya di sebelah kios ikan." Kukuruyukkkkk ...!! Suara nyaring ayam jantan memecah keheningan. Andri tersentak. Kukuruyukkkkk...! ! Kokok nyaring ayam jantan membangunkan Andri dari tidurnya. Ah, rupa-rupanya ia tertidur di atas sajadah. Alhamdulillah, waktu subuh belum habis. Andri bersegera mengambil wudhu. Sehabis sholat subuh,Andri kembali teringat mimpinya. Seolah semua menjadi teka-teki. Andri belum tahu apakah harus menganggapnya sebagai jawaban atas sholat istikhorohnya atau tidak. Untuk mcnyingkap tabir mimpi itu, cuma ada satu cara yang bisa dilakukannya: mencari gadis kecil yang katanya calon istrinya itu!

Lalu Andri pun bergegas ke pasar terdekat. Sepanjang jalan ia berdoa dan berjanji. Berdoa agar calon istrinya memang benar-benar baik bibit, bebet dan bobotnya. Sebagaimana telah diisyaratkan dalam mimpi. Dan berjanji untuk menerima takdirnya dan berusaha menjadi muslim yang baik. Lebih baik dari kualitasnya sekarang. Fajar telah lama merekah saat Andri tiba di sana. Orang-orang mulai melakukan kegiatannya. Pembeli mulai berdatangan. Ramai. Namun belum seramai satu jam yang akan datang. Maka Andri lebih leluasa untuk mengamati sekitarnya. Matanya berkeliling mengitari pasar, lalu tertumbuk pada sosok kecil di samping kios ikan.

Wanita itu tua, kotor, lusuh. Kumal. Rambutnya telah keabu-abuan. Dengan sebelah mata tertutup lapisan katarak, ia duduk di selembar alas sambil menggendong bocah kecil di dadanya. "Oh, tidak!! Bagaimana mungkin?! Ini pasti kekeliruan!"Andri menatap kembali bocah terlantar yang kurus kering itu. Hatinya hancur. Ah, mimpi semalam benar-benar hanya bunga tidur. Andri kembali ke penginapannya dengan hati lesu. Kali ini bukan saja ia kecewa karena calon istrinya ternyata hanya seorang bocah gelandangan, tapi juga karena 'Pak Comblang' dari keluarga Surya tidak datang pada pertemuan yang ia janjikan. Tanpa suatu penjelasan apapun. Ah, sudah jatuh dari tangga, tertimpa genteng pula!

Saya adalah seorang yang terpelajar. Sudah selayaknya saya mendapatkan seorang gadis dari keluarga terhormat. Semakin lama Andri memikirkan hal tersebut, semakin jijik ia membayangkan kemungkinan menikahi bocah kumal itu. Benar-benar menggelikan. Andri khawatir hal tersebut benar-benar akan terjadi. Dan ia tidak dapat tidur semalaman. Keesokan hatinya. Andri pergi ke pasar bersama dengan pelayan setianya. Andri menjanjikan imbalan yang sangat besar apabila ia berhasil membunuh bocah kumal itu. Andri dan pelayannya berdiri di belakang pembeli. Begitu kesempatan datang, pelayan Andri menikamkan pisaunya ke arah si anak, lalu mereka kabur. Bocah kecil itu menangis dan wanita buta yang menggendongnya berteriak-teriak: "Pembunuh! Pembunuh!" Kegemparan segera menyebar ke seluruh penjuru pasar.

Sementara itu, Andri dan pelayannya telah lenyap dari tempat kejadian. "Kau berhasil membunuh dia?" tanya Andri terengah-engah. "Tidak," jawab pelayannya. "Begitu saya menghunjamkan pisau ke arahnya, anak itu berbalik secara tiba-tiba. Saya rasa saya hanya melukai mukanya. Dekat alisnya." Andri segera meninggalkan penginapan. Kejadian itu dengan segera terlupakan oleh masyarakat sekitar. Ia kemudian pergi ke arah Barat menuju ibukota. Karena kecewa dengan kegagalan pernikahannya, Andri memutuskan untuk berhenti memikirkan perkawinan. Tiga tahun kemudian Andri dijodohkan dengan gadis yang mempunyai reputasi baik yang berasal dari keluarga Hartono. Sebuah keluarga yang cukup terkenal di masyarakat sekitar. Anak gadisnya terpelajar dan sangat cantik.

Semua orang memberi selamat pada Andri. Persiapan pernikahan tengah dilangsungkan, ketika suatu pagi Andri menerima berita yang menyakitkan. Calon istrinya melarikan diri dengan laki-laki yang dicintainya. Mereka berdua telah menikah di kota lain. Selama dua tahun Andri berhenti memikirkan pernikahan. Saat itu ia berusia dua puluh delapan tahun. Ia berubah pikiran tentang mencari pasangan dari masyarakat yang sekelas dengannya; seorang gadis kota terpelajar.

Maka Andri pergi ke pedesaan, mencari suasana baru. Di desa, Andri menghabiskan waktu dengan mempelajari buku-buku. Suatu hari ia membawa bukunya ke sungai di dekat ladang, agar lebih nyaman membacanya. Tanpa sengaja ia melihat gadis desa yang sedang memanen kentang. Andri jatuh hati padanya dan bersegera menemui orang tua gadis itu. Gayung bersambut, gadis itu menerima lamarannya. Maka Andri bergegas ke kota untuk membeli perhiasan dan baju sutera serta segala persiapan pernikahan. Selama beberapa hari, Andri berkeliling mengunjungi saudara-saudaranya untuk mengabarkan berita gembira itu.

Seminggu kemudian ia kembali ke desa. Tapi yang ditemuinya hanya kabar buruk tentang sakitnya sang calon. Andri bersedia menunggu sampai ia sembuh. Sampai setahun hampir berlalu, penyakit calon istrinya malah semakin parah. Gadis itu kehilangan seluruh rambutnya dan menjadi buta. Ia menolak menikahi Andri dan berpesan pada orang tuanya untuk meminta Andri melupakan dia. Ia mohon agar Andri mencari gadis lain yang layak untuk dijadikan istri.

Tahun demi tahun berlalu, sampai akhirnya Andri mendapatkan calon yang sempurna. Bukan saja ia cantik dan masih muda, tapi juga pencinta buku dan seni. Tak ada rintangan, khitbah pun segera dilangsungkan. Tiga hari sebelum pernikahan, gadis itu terjatuh dari tangga dan mati. Sepertinya nasib mengolok-olokkan Andri.Andri Ku menjadi fatalis. Ia tidak lagi peduli pada wanita, ia hanya bekerja dan bekerja. Sekarang ia bekerja di kantor pemerintahan di Yogya. Mengabdikan diri pada tugas dan sama sekali berhenti memikirkan pernikahan. Tapi ia bekerja dengan sangat baik, sehingga atasannya, Hakim Sulaiman, terkesan pada dedikasi dan kesungguhannya. Lalu mengusulkan Andri untuk menikahi keponakannya. Pembicaraan itu sangat menyakitkan Andri.

"Mengapa Tuan mau menikahkan keponakan Tuan pada saya! Saya terlalu tua untuk menikah." Pejabat itu menasehati Andri tentang keburukan membujang. Lagipula menikah adalah sunnah Rasulullah. Maka Andri menyetujuinya, meskipun ia sama sekali tidak antusias. Andri benar-benar tidak melihat istrinya sampai pernikahan benar-benar selesai dilangsungkan. Istrinya ternyata masih muda, Andri lega melihatnya. Tingkah lakunya sangat baik dan Andri harus mengakui bahwa ia adalah istri yang sangat baik. Taat, sholihat dan selalu menyenangkan. Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak menyukainya. Bila di rumah, istrinya selalu menata rambut dengan cara yang khas, sehingga menutupi pelipis kanannya. Menurut Andri, dengan tata rambut seperti itu istrinya kelihatan sangat cantik, tetapi ia agak heran. Tak kurang dari satu bulan, Andri telah benar-benar jatuh cinta kepadanya. Suatu saat ia bertanya, "Mengapa dinda tidak mengganti gaya rambut sekali-kali? Maksudku, mengapa dinda selalu menyisirnya ke satu arah?"

Istri Andri menyibakkan rambutnya dan berkata, "Lihatlah!" Ia menunjuk ke luka di pelipis kanannya. "Bagaimana bisa begitu?" "Aku mendapatkannya saat berumur tujuh tahun. Ayahku meninggal di kantornya, sedangkan ibu dan abangku meninggal dunia pada tahun yang sama. Kemudian aku dirawat oleh ibu susuku. Kami mempunyai rumah di dekat Gerbang Selatan Yogya, dekat kantor ayahku. Suatu hari, seorang pencuri tanpa alasan apa pun, mencoba membunuhku.Kami sama sekali tidak mengerti, kami tidak pernah punya musuh. Ia tidak berhasil, tapi ia meninggalkan luka di kepala sebelah kananku. Karena itulah aku selalu menutupinya darimu."

"Apakah ibu susumu hampir buta?"

"Ya. Kok tahu?"

"Akulah pencuri itu. Ah, tapi bagaimana mungkin! Semua begitu aneh. Semua terjadi, seperti ada yang telah mentakdirkan."

Andri kemudian menceritakan semuanya. Bermula dari mimpinya setelah ia sholat istikhoroh, sekitar sepuluh tahun yang lalu. Istrinya juga bercerita, ketika ia berusia sembilan atau sepuluh tahun, pamannya menemukan ia di Sung-Cheng dan mengambilnya untuk tinggal bersama keluarganya di Shiang-Chow.

Akhirnya mereka menyadari bahwa pernikahan mereka adalah sebuah takdir yang telah digariskan Allah Ta'ala. Andri menangis. Ia malu pada Penciptanya. Malu pada kesombongannya untuk menentang takdir. Ah ... pada saat itulah, Andri menyerahkan segala urusannya kepada Allah. Tapi kenapa ketika ia mendapatkan petunjuk, ia malah mengingkarinya ?

Saat itu juga, Andri melakukan sholat taubat. Untuk menjadi mukmin yang baik. Begitulah, kasih sayang di antara mereka kian tumbuh subur. Setahun kemudian lahirlah anak laki-laki. Istri Andri mendidiknya dengan sangat baik. Setelah dewasa, ia menjadi seorang yang terpelajar. Usahanya di bidang perdagangan maju pesat. Ia sangat penyantun dan terkenal kedermawanannya.

Ketika sang anak menjadi gubernur, Andri telah lanjut usia. Anak dan istrinya tetap setia memelihara dan mencintainya. Di tempat mereka pertama kali bertemu, empat belas tahun sebelum pernikahan, anak Andri membangun tempat peristirahatan untuknya.
"Dan segala sesuatu kami jadikan berjodoh-jodohan, agar sekalian kamu berpikir." (QS 51 : 49).

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (QS. 30:21)

Januari 08, 2012

ARTI CINTA YANG SEBENAR.

MENGENAL ARTI CINTA YANG SEBENAR.

Selamat datang ke laman iman akhir. laman yang membawa anda kealam cinta yang suci.
“Cinta itu mensucikan akal, menghilangkan kerisauan, memunculkan keberanian, mendorong berpenampilan rapi, membangkitkan selera makan, menjaga akhlak mulia, membangkitkan semangat, mengenakan kewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan kepribadian. Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang soleh dan cubaan bagi ahli ibadah,” Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam bukunya Raudah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin memberikan ulasan mengenai pengaruh cinta dalam kehidupan seseorang.


Bila seorang kekasih telah singgah di hati, fikiran akan terpaut pada cahaya wajahnya, jiwa akan menjadi besi dan kekasihnya adalah magnet. Rasanya selalu ingin bertemu walaupun sekadar sekejab. Memandang sekilas bayangan sang kekasih membuat jiwa ini seakan terbang menuju langit ke tujuh dan bertemu dengan jiwanya.

Indahnya cinta terjadi saat seorang kekasih secara samar menatap bayangan orang yang dikasihi. Bayangan indah itu laksana air yang menyirami, menyegarkan, menyuburkan pepohonan taman di jiwa.

Dahulu di kota Kufah tinggallah seorang pemuda tampan rupawan yang tekun dan rajin beribadat, dia termasuk salah seorang yang dikenali sebagai ahli zuhud. Suatu hari dalam pengembaraannya, pemuda itu melalui sebuah perkampungan yang banyak didiami oleh kaum An-Nakha’. Demi melepaskan penat dan lelah setelah berhari-hari berjalan maka singgahlah dia di kampung tersebut. Di persinggahan si pemuda banyak berkenalan dengan kaum muslimin. Di tengah kekhusyu’annya berkenalan itulah dia bertemu dengan seorang gadis yang cantik jelita.

Sepasang mata bertemu, seakan saling menyapa, saling bicara. Walau tak ada gerak lidah! Tak ada kata-kata! Mereka berbicara dengan bahasa jiwa. Kerana bahasa jiwa jauh lebih jujur, tulus dan apa adanya. Cinta yang tak terucap jauh lebih berharga dari pada cinta yang hanya ada di hujung lidah. Maka jalinan cintapun tersambung erat dan membahu kuat. Begitulah sejak melihatnya pertama kali, dia pun jatuh hati dan tergila-gila. Sebagai anak muda, tentu dia berharap cintanya itu tak bertepuk sebelah tangan, namun begitulah ternyata gayung bersambut. Cintanya tidak berada di alam khayal, tapi mejelma menjadi kenyataan.


Benih-benih cinta itu bagai anak panah melesat dari busurnya, pada pertemuan yang tersamar, pertemuan yang berlangsung sangat sekejab, pertemuan yang selalu terhalang oleh hijab. Demikian pula si gadis merasakan hal serupa sejak melihat pemuda itu pada kali yang pertama.

Begitulah cinta, ketika ia bersemi dalam hati… berkembang dalam kata… terurai dalam perbuatan…Ketika hanya berhenti dalam hati, itu cinta yang lemah dan tidak berdaya. Ketika hanya berhenti dalam kata, itu cinta yang disertai dengan kepalsuan dan tidak nyata…

Ketika cinta sudah terurai jadi perbuatan, cinta itu sempurna seperti pohon; akarnya terhujam dalam hati, batangnya tertegak dalam kata, buahnya terjurai dalam perbuatan. Persis seperti iman, terpatri dalam hati, terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh amal.


Semakin dalam makna cinta direnungi, semakin besar fakta ini ditemui. Cinta hanya kuat ketika ia datang dari peribadi yang kuat, bahwa integriti cinta hanya mungkin lahir dari peribadi yang juga punya integriti. Kerana cinta adalah keinginan baik kepada orang yang kita cintai yang harus lihat setiap masa sepanjang bersama....

Begitu pun dengan si pemuda, dia berfikir cintanya harus diselamatkan! Agar ia tidak jadi liar, agar ia selalu ada dalam keabadian. Ada dalam bingkai syari’atnya. Akhirnya diapun mengutus seseorang untuk meminang gadis pujaannya itu. Akan tetapi keinginan tidak selalu seiring dengan takdir Allah. Ternyata gadis tersebut telah ditunangkan dengan saudaranya.

Mendengar keterangan ayah si gadis itu, pupus sudah harapan si pemuda untuk menyemai cintanya dalam keutuhan syari’at. Gadis yang telah dipinang tidak boleh dipinang lagi. Tidak ada jalan lain. Tidak ada jalan belakang, simpang kiri, atau simpang kanan. Mereka sedar betul bahwa jalinan asmaranya harus diakhiri, kerana kalau tidak, justeru akan merosakkan ’anugerah’ Allah yang terindah ini.

Bayangkan, bila dua kekasih bertemu dan masing-masing silau serta mabuk oleh cahaya yang terpancar daripada orang yang dikasihi, ia akan melupakan harga dirinya, ia akan melepas baju kemanusiaannya dengan melanggar batasan. Dan, sekali bunga dipetik, ia akan layu dan akhirnya mati, dipijak orang kerana sudah tak berguna lagi. Jalan belakang tak ubahnya seperti anak kecil yang merosakkan mainannya sendiri. Penyesallan pasti akan datang kemudian hari, menangispun tak berguna, menyesal tak mengubah keadaan, badan hancur jiwa binasa.


Cinta si gadis cantik dengan pemuda tampan masih menggelora. Mereka seakan menahan beban cinta yang sangat berat. Si gadis berfikir mungkin masih ada ruang untuk ’diikhtiarkan’ maka rancangan disusun dengan segala kemungkinan terpahit. Maka si gadis mengutus seorang hambanya untuk menyampaikan sepucuk surat kepada pemuda tambatan hatinya:

”Aku tahu betapa engkau sangat mencintaiku dan kerana betapa besar penderitaanku terhadap dirimu sekalipun cintaku tetap untukmu. Seandainya engkau mahu, aku akan datang ke rumahmu atau aku akan memberikan kemudahan kepadamu bila engkau mahu datang ke rumahku.”

Setelah membaca isi surat itu dengan saksama, si pemuda tampan itu pun berpesan kepada hamba pembawa surat wanita pujaan hatinya itu.

“Dua tawaran itu tidak ada satu pun yang kupilih! Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar bila aku sampai durhaka kepada Tuhanku. Aku juga takut akan neraka yang api dan jilatannya tidak pernah surut dan padam.”

Pulanglah hamba kekasihnya itu dan dia pun menyampaikan segala yang disampaikan oleh pemuda tadi.

Tawaran dijawap? Dua orang kekasih? Sungguh sebuah tawaran yang memancarkan harapan, membersitkan kenangan, menerbitkan keberanian. Namun bila cinta dirampas oleh gelora nafsu rendah, keindahannya akan lenyap seketika. Dan berubah menjadi naga yang memuntahkan api dan menghancurkan harga diri kita. Sungguh hairan bila saat ini orang suka menjadi mangsa dari amukan api yang menghilangkan harga dirinya, dari pada merasakan keindahan cintanya.

“Sungguh selama ini aku belum pernah menemui seorang yang zuhud dan selalu takut kepada Allah swt seperti dia. Demi Allah, tidak seorang pun yang layak menyandang gelaran yang mulia kecuali dia, sementara hampir kebanyakan orang berada dalam kemunafikan.” Si gadis berbangga dengan kesolehan kekasih hatinya.

Setelah berkata demikian, gadis itu merasa tidak perlu lagi kehadiran orang lain dalam hidupnya. Pada diri pemuda itu telah ditemui seluruh keutuhan cintanya. Maka jalan terbaik setelah ini adalah mengekalkan diri kepada ’Sang Pemilik Cinta’. Lalu diapun meninggalkan segala urusan duniawinya serta membuang jauh-jauh segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia. Memakai pakaian dari tenunan kasar dan sejak itu dia tekun beribadat, sementara hatinya merana, badannya juga kurus oleh beban cintanya yang besar kepada pemuda yang dicintainya.

Bila kerinduan kepada kekasih telah memuncak, dan dada tak sanggup lagi menahan kehausan untuk bersua, maka saat malam tiba, saat manusia terlelap, saat bumi menjadi lengang, diapun berwuduk. Solatlah dia dikegelapan gelita, lalu menadahkan tangan, memohon bantuan Sang Maha Pencipta agar melalui kekuasaa-Nya yang tak terbatas dan dapat menjangkaui ke semua wilayah yang tak dapat disentuh manusia., menyampaikan segala perasaan hatinya pada kekasih hatinya. Dia berdoa kerana rindu yang sudah tak tertanggung, dia menangis seolah-olah saat itu dia sedang berbicara dengan kekasihnya. Dan ketika tidur kekasihnya hadir dalam mimpinya, berbicara dan menjawab segala keluh-kesah hatinya.


Dan kerinduannya yang mendalam itu menyelimuti sepanjang hidupnya hingga akhirnya Allah memanggil ke ribaNya. Gadis itu wafat dengan membawa serta cintanya yang suci. Yang selalu dijaganya dari belitan nafsu syaithoni. Jasad si gadis boleh terbujur dalam kubur, tapi cinta si pemuda masih tetap hidup subur. Namanya masih disebut dalam doa-doanya yang panjang. Bahkan makamnya tak pernah sepi diziarahi.

Cinta memang indah, bagai pelangi yang mengsyihir kesedaran manusia. Demikian pula, cinta juga sangat perkasa. Ia akan menjadi benteng, yang menghalau segala dorongan yang hendak merosakan keindahan cinta yang bersemayam dalam jiwa. Ia akan menjadi penghubung antara dua anak manusia yang terpisah oleh jarak bahkan oleh dua dimensi yang berbeza.

Pada suatu malam, saat kaki tak lagi dapat menyanggah tubuhnya, saat kedua mata tak kuasa lagi menahan mengantuknya, saat salam mengakhiri qiyamullailnya, saat itulah dia tertidur. Sang pemuda bermimpi seakan-akan melihat kekasihnya dalam keadaan yang sangat menyenangkan.


“Bagaimana keadaanmu dan apa yang kau dapatkan setelah berpisah denganku?” Tanya Pemuda itu di dalam mimpinya itu.

Gadis kekasihnya itu menjawap dengan menyenandungkan untaian syair:


Kasih…

cinta yang terindah adalah mencintaimu,

sebuah cinta yang membawa kepada kebajikan.

Cinta yang indah hingga angin syurga merasa malu

burung syurga menjauh dan malaikat menutup pintu.

Mendengar kata-kata kekasihnya itu, pemuda tersebut lalu bertanya kepadanya, “Di mana engkau berada?”

Kekasihnya menjawab dengan melantunkan syair:

Aku berada dalam kenikmatan

dalam kehidupan yang tiada mungkin berakhir

berada dalam syurga abadi yang dijaga

oleh para malaikat yang tidak mungkin binasa

yang akan menunggu kedatanganmu,

wahai kekasih…

“Di sana aku bermohon agar engkau selalu mengingatku dan sebaliknya aku pun tidak dapat melupakanmu!” Pemuda itu pon cuba membalas syair kekasihnya

“Dan demi Allah, aku juga tidak akan melupakan dirimu. Sungguh, aku telah memohon untukmu kepada Tuhanku juga Tuhanmu dengan kesungguhan hati, hingga Allah berkenan memberikan pertolongan kepadaku!” jawab si gadis kekasihnya itu.

“Bilakah aku dapat melihatmu kembali?” Tanya si pemuda menegaskan

“Tak lama lagi engkau akan datang menyusulku kemari,” Jawab kekasihnya.

Tujuh hari sejak pemuda itu bermimpi bertemu dengan kekasihnya, akhirnya Allah mewafatkan dirinya. Allah mempertemukan cinta keduanya di alam baqa, walau tak sempat menghadirkan romantisnya di dunia. Allah mencurahkan kasih sayang-Nya kepada mereka berdua menjadi pengantin syurga.

Subhanallaah! Cinta memiliki kekuatan yang luar biasa. Harus lah kalau cinta memerlukan aturan. Tidak lain dan tidak bukan, agar cinta itu tidak berubah menjadi cinta yang membabi buta yang dapat menjerumuskan manusia kepada kehidupan haiwan dan penuh kenistaan. Bila cinta dijaga kesuciannya, manusia akan selamat. Para pasangan yang saling mencintai tidak hanya akan dapat bertemu dengan kekasih yang dapat menghapus kerinduan, tapi juga mendapatkan ketenangan, kasih sayang, cinta, dan keridhaan dari dzat yang menciptakan cinta yaitu Allah SWT. Di negeri yang fana ini atau di negeri yang abadi nanti.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Ruum : 21).

wallahualam..................iman akhir






Cinta dan Kebencian tidak Bersatu
Allah swt berfirman" Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya" (al-Ahzab33:4)

Imam Ali bin Abi Talib as berkata:Tidak akan berhimpun cinta kami (hubbu-na) dan cinta musuh kami(hubbu 'aduwwi-na) di dalam rongga seseorang. Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya" Justeru itu cinta dan kebencian tidak akan bertemu.Adapun pencinta kami (muhibbu-na), maka cintanya bersih sepertilah emas yang dibersihkan dengan api,tanpa sebarang kekotoran padanya..Lantaran itu sesiapa yang ingin mengetahui cinta kami, maka hendaklah dia memeriksa hatinya.Jika cintanya kepada kami dikongsi bersama oleh cintanya kepada musuh kami, maka dia bukanlah dari kami,dan kami bukanlah daripadanya.Allah adalah musuh mereka, Jibrail , Mika'il dan Allah adalah musuh bagi mereka yang ingkar" ( Bihar al-Anwar,27, hlm.51, hadis no.1)

Semalam adalah kenangan, hari ini adalah kenyataan, esok adalah harapan….. Iman itu bukan hanya harapan, ia adalah apa yang terpancar di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan.........

jangan menangis kerana gagal dalam cinta..sebab manusia akan meninggalkan apa yg di cinta

Tidak semua orang yang engkau cintai, mencintaimu dan sikap ramahmu kadang kala dibalas dengan sikap tidak sopan. Jika cinta suci tidak datang daripada tabiatnya, maka tidak ada gunanya cinta yang dibuat-buat.

Desember 10, 2011

Pernikahan..

Pernikahan..


Bukan sekedar menyatukan dua hati..

Yang berdiri diatas janji suci..

Tapi.. bermakna saling melengkapi..

Yang terus berjalan selamanya, sehidup semati..

Selalu bersyukur atas apa yang dimiliki..

Melangkah maju bersama menapaki kehidupan penuh misteri..

Dunia ada ditangan engkau, wahai pasangan serasi..

Tunjukkanlah bahwa kalian tak akan melupakan tanggung jawab sebagai suami istri..

Demi tuk menggapai Ridho ILLAHI..

Antara Cinta dan Dosa

Tuhan, tak patut rasanya aku berharap sesuatu kepada-Mu, mataku penuh dengan dosa , lisanku telah mengalir perkataan yang sia-sia, entah telah berapa banyak dosa yang telah mengalir dalam darahku. Aku terlelap dalam tidur penuh dengan angan-angan, aku lalai dalam mimpiku akan keindahandunia, mata hatiku terpejam tanpa mengingat-Mu, lidahku telah melupakan nama-Mu, hatiku penuh dengan kotoran, jiwaku beku sehingga tak terasa nikmat yang Engkau berikan. Tuhan, akankah Engkau melupakanku, jauh dari pandangan mataku, sejukkanlah mataku dengan memandang-Mu penuh dengankecintaan. Berilah aku setetes embun dari surga-Mu, agar dapat membersihkan jiwaku yang beku dan penuh dosa. Tuhan, basahilah tubuhku ini dengan air surga-Mu, agar tak kaku, berilah aku cahaya dari surga-Mu yang dapat menerangi hatiku yang gelap gulita, agar hatiku merasakan keindahan cinta-MU . Tuhan, jadikanlah cintaku dapat menghapus dosa, dosa yang telah menghalangi pandangan mata hati akan wajah-Mu yang Agung. Dosa yang telah membuat aku menderita, berilah aku cinta-Mu . Tuhan, bintang di langit telah mengeluarkan cahayanya, semua mata telah tertidur, lindungilah aku dari mata yang terlelap tanpa mengingat-Mu. Tuhan peliharalah aku dari segala hal yang dapat memalingkan aku dari Engkau dan dari segala yang dapat menghambat antara Engkau dan aku. Tuhan, terimalah cintaku , aku mohon kepada-Mu janganlah Engkau tolak ketika aku mengetuk pintu-Mu, karena disana aku berharap Engkau menerima cintaku dan mema'afkan atas kesalahanku.

Dasar-Dasar Cinta Kepada Allah SWT

Dasar-dasar cinta kepada Allah adalah makrifat, sebab seseorang itu tidak mungkin mencintai sesuatu tanpa mengenal bentuk dan kepribadian terhadap orang yang hendak dicintai. Seorang hamba bisa dikatakan sudah sampai kepada Allah dengan benar-benar makrifat, maka akan timbul dalam dirinya rasa cinta, rindu, dan kasih kepada Allah, karena cinta itu buah dari hasil mengenal, yaitu kenal dengan Allah. Oleh karena itu tidak mungkin seseorang itu jatuh cinta kalau tidak kenal terlebih dahulu. Orang yang telah jatuh cinta itu akan memberikan apa saja termasuk nyawanya sendiri kepada orang yang ia cintai. Begitu juga jika seorang hamba telah jatuh cinta kepada Allah, ia akan berusaha untuk memberikan apa yang Allah minta darinya, seperti Nabi Ibrahim dengan rasa cinta yang sangat dalam kepada Allah swt. ia rela memberikan Ismail kepada Allah sebagai wujud cinta yang hakiki.


Seseorang hamba timbul rasa cinta di hatinya kepada Allah, karena adanya dorongan rasa keindahan yang hadir dalam jiwa yang bersih, melihat dengan penyaksian akan wujud Allah yang haq dan mutlak dengan kejujuran yang timbul dari dalam jiwa yang bersih, dan kebeningan mata hati rohani, sehingga seluruh hawa nafsu telah ditawan oleh cinta, lalu ia tenggelam dalam lautan cinta, tidak ada lagi yang ia pedulikan karena ia telah bersatu melebur menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, yaitu ia telah merasakan nikmatnya bercinta kepada Allah.

Selanjutnya seorang hamba yang larut dalam lautan cinta kepada Allah akan merasakan, bahwa cintanya terpadu pada puncak segala keindahan, kepada sang pencipta yang memiliki keindahan. Apabila seorang hamba itu terus berusaha untuk mendekati-Nya ia akan merasakan keindahan yang mutlak, puncak dari segala keindahan yaitu mendapatkan cintanya Allah. Tidak mudah untuk mendapatkan cinta Allah itu, seseorang hamba akan dihadapkan segala bentuk ujian, disinilah Allah akan memberikan cinta-Nya kepada seorang hamba, jika ia lolos atau berhasil dari ujian yang diberikan Allah, jika Allah swt. telah cinta kepada seseorang hamba, Dia akan memberikan pandangan yang khusus terhadapnya.

Orang yang berkasih sayang karena keagungan Allah, ia akan berada dalam naungan-Nya. Ia akan diberikan mimbar yang terbuat dari cahaya yang di inginkan oleh para nabi dan para syuhada.

Rabi'atul Adawiyah adalah seorang wanita yang warak, zuhud, dan cinta kepada Allah, beliau pernah berkata, "Cinta yang suci itu lebih tinggi daripada takut dan raja'. Cinta yang suci itu tidak mengharapkan sesuatu, cinta yang murni kepada Allah adalah puncak tasawuf. Rabi'ah al Adawiyah dalam syairnya yang berbunyi, "Aku cinta kepadamu ya Allah, dua macam cinta." Pertama cinta kepada Engkau hanya Engkau. Kedua cinta yang semata-mata rindu. Adapun cinta karena Engkau hanya Engkau yang aku kenang, tiada yang lain. Adapun cinta karena Engkau berhak menerimanya. Agar Engkau bukakan bagiku hijab, supaya aku dapat melihat Engkau. Pujian atas dua perkara itu bukanlah bagiku. Pujian atas kedua perkara itu adalah bagi-Mu sendiri, ku jadikan Engkau teman bercakap dalam hatiku. Tubuh yang kasarku biar bercakap dengan yang duduk. Jisimku biarlah bercengkrama dengan temannya. Isi hatiku hanyalah tetap Engkau sendiri."

Sudahkan kita mendapat cinta Allah dan bagaimana rasanya jika kita dicintai Allah, sungguh jika kita telah mendapatkan cinta Allah, maka kita tidak akan berpaling dengan yang lain, karena yang lain itu adalah tidak ada dan sesungguhnya kitapun tidak ada, cinta kita adalah milik Allah dan sebenarnya jika Allah mencintai kita, sesungguhnya Dia telah mencintai diri-Nya sendiri. Karena tak patut bagi Allah ada dua cinta. Berbahagialah orang-orang yang mendapat cintanya Allah. Semoga kita adalah salah satu hamba yang mencintai dan dicintai Allah.