Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan
Mei 16, 2012
Bagaimanakah Perbedaan Cinta karena Allah dgn Cinta karena Nafsu
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIMI
ASSALAMUALAIKUM WARAHMATULLAH WABARAKATUH
Sahabatku: Apa batasan benar-benar mencintai seseorang karena ALLAH atau mencintai seseorang karena NAFSU ?
NAFSU itu diibaratkan KEHENDAK KUDA, sedangkan AKAL diibarkatkan PENUNGGANG KUDANYA.
Diandaikan ada PENUNGGANG KUDA, tetapi kalau KUDANYA TAK MAU JALAN, maka apakah PENUNGGANG KUDA bisa sampai ke JAKARTA ? Tentu jawabannya bisa, tetapi sampai kapan tiba jika dari Jawa tengah ke Jakarta mesti jalan kaki ? (pengandaiannya kendaraan cuma Kuda, belum ada kereta atau mobil). Begitu pulalah kira-kira jika manusia tak punya NAFSU maka sudah pasti jalannya lelet. gairah hidupnya melemah.
UNTUK MAKAN SAJA DIPERLUKAN NAFSU. Ketika NAFSU MAKAN TAK ADA, maka apakah SESEORANG BISA MENIKMATI MAKANAN ?????? JUSTRU DENGAN ADANYA NAFSU, MEMBUAT HIDUP TERASA BERGAIRAH. TERASA NIKMAT. Diandaikan manusia tak punya nafsu, sudah pasti terasa garing.
MAHA BESAR ALLAH YANG TELAH MELIMPAHKAN NAFSU KEPADA MANUSIA, yg dengan NAFSU itu pula MANUSIA DAPAT MERASKAN NIKMATNYA CINTA. Diandaikan NAFSU TAK ADA, sudah pasti CINTA menjadi tidak bermakna. CINTA bisa menjadi bermakna oleh karena ada NAFSU di dalamnya. KALAU BEGITU APA YANG SALAH DARI NAFSU ????
KUDA punya kehendak. Dan kehendak KUDA tentunya tidak terarah (Liar). Jika KUDA dilepas sendirian dari KAMPUNG Gw (Jateng) dan disuruh ke JAKARTA, maka kemungkinan besar tidak akan sampai. Untuk bisa sampai ke rumah JAKARTA mesti ada penunggangnya. Begitulah kira-kira penggambaran hubungan CINTA KARENA NAFSU DENGAN CINTA KARENA ALLAH.
Tiap kali ada orang wafat: kita berucap "INNA LILILLAHI WAINNA ILAHI RAJI'UN" (Sesungguhnya semua berasal dari ALLAH & KEMBALI (pulang) ke ALLAH).
JIWA manusia berasal dari ALLAH, tentu akan merasa bahagia jika PULANG KEMBALI ke ALLAH. Ibarat kata, sekalipun rumah teman ATAU rumah saudara kita itu bagus & mewah, namun ketika kita bertamu, tetap sj kurang nyaman. Kita ingin pulang ke Kosan atau ke rumah sendiri. PULANG bukan hanya peristiwa jasmani pindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi di dalam KEPULANGAN itu sendiri terkandungi rasa nyaman/damai/tenang, dll, sekalipun Kosan/rumah kita itu kecil, tetap sj lebih nyaman dibanding kalau kita bertamu.
Cinta itu bersifat kejiwaan. Dan jiwa manusia itu ada 2 tarikan, tarikan ke atas dan tarikan ke bawah. Tarikan ke atas adalah tarikan ke Jalan ALLAH, sedangkan tarikan ke bawah adalah tarikan ke jalan materi.
TARIKAN KE BAWAH ITULAH YANG DISEBUT CINTA KARENA NAFSU. Karena itu jiwa makin meronta. Akibatnya JIWA TIDAK AKAN SAMPAI BISA PULANG KE ASALNYA. Dan yg demikian itu persis dengan KEHENDAK KUDA yg tanpa PENUNGGANG. Jika KUDA dilepas sendirian, pasti tidak akan sampai pada tujuan.
Agar jiwa bisa sampai pulang ke asalnya, maka ALLAH memberikan jalan yg disebut SYARIAT ISLAM. Jika seseorang di dalam menjalin CINTA berjalan di atas jalan SYARIAT, maka itulah yg disebut CINTA KARENA ALLAH. Sebaliknya, jika seseorang di dalam bercinta melanggar Syariat, maka itulah yg disebut cinta karena nafsu.
SYARIAT MEMERINTAHKAN supaya selama belum dinikahi, diharamkan untuk bersentuhan, bergandengan, berciuman, bersetubuh. TERMASUK MEMANGGIL DENGAN SEBUTAN: CINTAKU, SAYANGKU KEPADA YANG BUKAN MUHRIM. Jika itu dilanggar itulah yg disebut CINTA KARENA NAFSU. DI SINILAH PEMBEDA ORANG YANG BERIMAN DAN TIDAK BERIMAN. Ternyata banyak yg tidak kuat. Mereka belum nikah, tapi sudah meanggil-manggil dengan sebutan: cintaku, sayangku. Mereka juga berani berpelukan, berciuman, dll. Model CINTA yg seperti itulah yg dikatakan CINTA KARENA TARIKAN NAFSU.
BATAS TEGAS PEMBEDA CINTA KARENA NAFSU DAN CINTA KARENA ALLAH terletak pada TUNDUK PADA KEMAUAN SYARIAT ATAU TIDAK. Jika CINTA tunduk pada SYARIAT, di jamin jiwa akan bisa PULANG KEMBALI pada asalnya (bertemu ALLAH) yg itu diibarakat KUDA DENGAN PENUNGANGNYA.
Kita punya nafsu adalah sesuatu yg tidak bisa diungkuri karena itu adalah anugrah ALLAH, namun agar nafsu tidak liar sehingga sampai pd tujuan yg benar maka mesti tunduk pd Syariat.
SIDARTA SANG BUDDHA GAUTAMA bertutur kepadaa umatnaya: "Mengapa manusia bisa sedih ? Itu tak lain karena manusia punya TANHA. Apa itu TANHA ? TANHA adalah KEINGINAN (nafsu). Gara-gara ada KEINGINANLAH manusia menjadi menderita. Mengapa ? Karena antara KEINGINAN/NAFSU dgn kenyataaan sangat berbeda. KARENA ITU UNTUK MEMBEBASKAN MANUSIA DARI DERITA MANUSIA MESTI MEMBUNUH NAFSUNYA".
NAFSU TAK BISA DIBUNUH. KONSEP ISLAMLAH YG TEPAT: Bukan membunuh nafsu, tapi mengendalikan nafsu. JIHADUN NAFS, bukanlah membunuh nafsu. Dalam bahasa ARAB, membunuh itu al-qatl bukan al-jihad.
HASAN ALBANA, membagi jihad dalam 5 bentuk; (a). Jihad untuk lebih dekat dengan Allah, (b). Jihad melawan hawa nafsu, (c). Jihad melawan bisikan Syetan, (d). Jihad melawan kemunkaran dengan menggunakan argumen, (e). Jihad melawan kemunkaran dengan pedang (al-Qatl).
NAH JIHAD MELAWAAN NAFSU dgn cara MENGENDALIKAN NAFSU KE ARAH YANG BENAR, bukan mematikan nafsu. SIAPAPUN yg berusaha mencari kebahagaian dgn cara MEMBUNUH NAFSU, sudah pasti kesia-sian yg didapati.
RASULULLAH s.a.w yg dijamin masuk Surga, TIDAK TEPEKUR LARUT DALAM DZIKIR, tapi Beliau Kawin, Makan, Tidur, Perang, Dakwah, dll.
Nafsu dan cinta itu satu paket. Pembeda orang yg beriman & tidak beriman terletak pd seberapa jauh mampu mengendalikan nafsunya. Punya nafsu BUKANLAH AIB, justru yg tidak punya nafsu patut dipertanyakan apakah dia masih manusia apa bukan ? hehehhehe....
Selain faktor di atas, BATASAN TEGAS antara cinta karena nafsu dan cinta karena ALLAH terletak pada VISI/MISI CINTA ORANG YANG BERSANGKUTAN.
Orang yg tidak beriman dlm meletakkaan VISI CINTANYA (cita-cita tertinggi) bersifat kesenangan indrawi semata, misalnya sekedar MENYALURKAN SEKS. Makanya MEREKA begitu ketemu lawan jenis bukan NIKAH yg dibicarakan, tapi LEBIH KE PENYALURAN HASRAT. Dengan kata PACARAN, mereka memperoleh apa yg diinginkan: bergandengan, berpelukan, berciuman, bahkan bersetubuh. Banyak diantara mereka yg kalau ditanya soal pernikahan justru tidak siap. Mereka sebatas mau “PACARAN” sj, yg dengan itu hasrat seksnya terlampiaskan. Nah CINTA yg model tsb adalah patut dikategorikan CINTA KARENA NAFSU.
VISI TERTINGGI DALAM HIDUP adalah MASUK SURGA. Dan untuk bisa masuk Surga tentu harus selaras dgn kehendak ALLAH. Dan ALLAH berkehendak agar setiap mukmin mesti berdakwah/berjihad, yg dengan itu dpt imbalannya surga.
DAKWAH ADALAH MISI BAGI TIAP MUKMIN. Karena itu aktifitas MUKMIN mesti BERORIENTASI AKHERAT DAN DAKWAH. Nah cinta yg SELARAS DENGAN KEHENDAK ALLAH ITULAH YANG DINAMAKAN CINTA KARENA ALLAH.
Atas dasar itu cinta bagi seorang mukmin justru merupakan jalan mendekatkan pada Allah. Menikah adalah sarana menggapai Surga di dunia dan Surga di akaherat. Barang siapa yg cintanya karena Allah, sudah pasti dapat kebahagiaan dunia, sekaligus kebahagiaan akherat.
Pertanyaannya adalah bagaimana dengan cintamu ?????? hehehehe.... jawablah di hati masing-masing. Tugas Gw cuma menjawab pertanyaan dan menyampaikan jawaban. hmmmmmm ....*_*
Maret 16, 2012
Merampas Tanah dan Mengubah Tanda Batas Tanah
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
Saudaraku umat islam marilah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah berkenan memberikan berbagai keni’matan bahkan hidayah kepada kita. Shalawat dan salam semoga Allah tetapkan untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia dengan baik sampai akhir zaman.Mari kita senantiasa bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, menjalani perintah-perintah Allah sekuat kemampuan kita, dan menjauhi larangan-laranganNya.
Merampas tanah adalah sebuah perbuatan zhalim yang banyak terjadi di masyarakat, termasuk juga dilakukan oleh banyak petani. Perbuatan ini banyak dianggap sebagai perkara yang sepele pada masa sekarang. Mereka para pelaku perbuatan ini menganggap remeh perkara ini bahkan menganggap hal yang biasa terjadi di masyarakat.
Padahal merampas tanah termasuk suatu perbuatan yang tergolong dosa besar dan pelakunya diancam di akherat dengan adzab yang keras dan pedih akherat.Mengenai masalah mengambil tanah orang lain tanpa izin pemiliknya ada beberapa hadits yang akan disebutkan diantaranya;
1.Hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha bahwasanya telah bersabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam
:مَنْ ظَلَمَ قِيْدَ شِبْرٍ مِنَ الأَرْضِ طُوِّقَهُ مِنْ سَبْعِ أَرَضِيْنَ
“Barang siapa yang berbuat zhalim (dengan mengambil) sejengkal tanah maka dia akan dikalungi (dengan tanah) dari tujuh lapis bumi.” [1]
2.Hadits yang diriwayatkan dari Sa’id bin Zaid rodhiyallohu ‘anhu bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berasabda
:مَنْ ظَلَمَ مِنَ الأَرْضِ شَيْئًا طُوِّقَهُ مِنْ سَبْعِ أَرَضِيْنَ
“Barang siapa yang mengambil sejengkal tanah secara zhalim maka dia akan dikalungit (dengan tanah) dari tujuh lapis bumi.”[2]
3.Hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar rodhiyallohu ‘anhuma, dia berkata bersabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam
:مَنْ أَخَذَ مِنَ الأَرْضِ شَيْئًا بِغَيْرِ حَقِّهِ خُسِفَ لَهُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى سَبْعِ أَرَضِيْنَ
“Barang siapa yang mengambil tanah (meskipun) sedikit tanpa haknya maka dia akan ditenggelamkan dengan tanahnya pada hari kiamat sampai ke dasar tujuh lapis bumi.”[3]
4.Hadits yang diriwayatkan dari Ya’la bin Murrah rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata telah bersabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam
أَيُّمَا رَجُلٍ ظَلَمَ شِبْرًا مِنَ الأَرْضِ كَلَّهُ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ أَنْ يَحْفِرَهُ حَتَّى يَبْلُغَ آخِرَ سَبْعِ أَرَضِيْنَ, ثُمَّ يُطَوِّقَهُ إَلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَقْضَى بَيْنَ النَّاسِ
“Siapa saja orang yang menzhalimi (dengan) mengambil sejengkal tanah (orang lain), niscaya Alloh akan membebaninya hingga hari kiamat dari tujuh lapis bumi, lalu Alloh akan mengalungkannya (di lehernya) pada hari kiamat sampai seluruh manusia diadili.”[4]
5.Hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Tsabit rodhiyallohu ‘anhu, ia berkata; aku mendengar Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda
مَنْ أَخَذَ اَرْضًا بِغَيْرِ حَقِّهَا كُلِّفَ أَنْ يَحْمِلَ تُرَابَهَا إِلَى الْمَحْشَرِ
“Barangsiapa yang mengambil tanah tanpa ada haknya, maka dia akan dibebani dengan membawa tanahnya (yang dia rampas) sampai ke padang mahsyar”[5]
Itulah beberapa hadits yang menerangkan tentang masalah merampas atau mengambil tanah yang dapat di ambil banyak pelajaran, diantarnya:Kerasnya siksa bagi pelakunya
Berkata Syaikh Salim Al-Hilali menerangkan bentuk adzabnya: “Maksud dari dikalungi dari tujuh lapis bumi adalah Alloh membebaninya dengan apa yang dia ambil (secara zhalim) dari tanah tersebut, pada hari kiamat sampai ke padang mahsyar dan menjadikannya sebagaimana membebani di lehernya atau dia disiksa dengan menenggelamkan ke tujuh lapis bumi, dan mengambil seluruh tanah tersebut dan dikalungkan di lehernya.”[6]
Semantara Syaikh Abdullah Al-Bassam menjelaskan: “Oleh karena itu Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwasanya barangsiapa yang mengambil tanah orang tanpa izinnya (merampasnya) baik sedikit ataupun banyak maka dia datang pada hari kiamat dengan adzab yang berat, dimana lehernya menjadi keras dan panjang kemudian dikalungkan tanah yang dirampasnya dan apa yang berada di bawahnya sampai tujuh lapis bumi sebagai balasan baginya yang telah merampas tanah.”[7]
Demikian juga Syaikh Utsaimin menjelaskan bagaimana adzab bagi orang yang merampas tanah orang lain dengan mengatakan: “Manusia jika merampas sejengkal tanah maka dia akan dikalungi dengan tujuh lapis bumi pada hari kiamat, maksudnya menjadikan baginya kalung pada lehernya, kita berlindung kepada Alloh, dia membawanya di hadapan seluruh manusia, di hadapan seluruh makhluk, dia dihinakan pada hari kiamat.”[8]
Sebuah Kezhaliman dan Dosa Besar Merampas tanah merupakan kezhaliman, termasuk dosa besar dan kita harus menghindarinya baik sedikit ataupun banyaknya, sempit maupun luasnya karena tetap saja itu haram dan merupakan dosa besar.
Berkata Syaikh Al Utsaimin rohimallohu, “Hadits ini memberikan contoh jenis dari macam-macam perbuatan zhalim yaitu kezhaliman dalam masalah tanah, dan masalah merampas tanah termasuk dosa besar.Dan sabdanya (sejengkal tanah) bukanlah ini bentuk penentuan kadar tetapi bentuk mubalaghah (kiasan) yaitu berarti jika merampas kurang dari sejengkal tanah juga tetap dikalungkan. Orang arab menyebutkannya sebagai bentuk mubalaghah yaitu walaupun sekecil apa pun maka akan dikalungkan kepadanya pada hari kiamat.”[9]
Syaikh Saliem mengaskan: “Kandungan dari hadits (di atas) adalah janganlah meremehkan kezhaliman meski sekecil apapun (walaupun Cuma merampas sejengkal tanah), dan merampas tanah termasuk dosa besar.”[10]
Pemilik bagian atas dan bawahnyaDari hadits-hadits di atas juga dapat diambil pelajaran bahwa orang yang memiliki tanah maka dia memiliki juga bagian bawah sampai tujuh lapis bumi dan juga bagian atas berupa ruang udara.Syaikh Utsaimin rohimallohu menjelaskan: “Di dalam Hadits ini (hadits ‘Aisyah) menunjukkan dalil bahwa orang memiliki tanah maka dia memiliki juga (tanah) bagian bawahnya sampai tujuh lapis bumi, tidaklah boleh seseorang melubangi kecuali dengan izinnya. Misalkan kamu ditakdirkan mempunyai tanah seluas tiga meter persegi dan sekeliling (tanahmu) adalah tanah milik tetanggamu, kemudian tetanggamu bermaksud untuk membuat lubang/terowongan diantara tanahnya, dan melewati bagian bawah tanahmu maka tidaklah dia dibenarkan dalam hal ini karena kamu memiliki tanah dan apa saja yang berada di bawah tanah tersebut sampai tujuh lapis bumi.
Sebagaimana juga ruang udara (di atas tanahmu) adalah milikmu sampai ke langit. Maka seseorang tidak bisa untuk membangun atap kecuali dengan izinmu. Oleh karena itu berkata ulama, ‘Udara itu mengikuti apa yang tetap (tanah), dan tanah itu sampai tujuh lapis bumi.
Jadi seseorang (yang memiliki tanah) mempunyai bagian atas bagian bawah (dari tanahnya), tidak boleh seseorang (merampasnya).Berkata Syaikh ‘Utsaimun menyebutkan bahwa para ulama berkata, ‘Seandainya tetanggamu memiliki pohon, kemudian dahannya memanjang ke tanahmu dan ranting-rantingnya menjadi menutupi tanahmu, maka sesungguhnya tetanggamu harus membenggokkan (dahan tersebut) dari tanahmu, jika tidak memungkinkan untuk dibengkokkan maka (dahan tersebut) harus dipotong, kecuali kamu mengizinkan keberadaannya, karena ruang udara (di atas tanahmu) adalah milikmu, mengikuti (kepemilikkan) apa yang tetap (tanah).”[11]
Berkata Syaikh Saliem: “Barangsiapa memiliki tanah, maka berarti dia memilikinya dari bawah sampai atas. Dan dia berhak melarang orang menggali bagian yang berada di bawah tanahnya, baik berupa lubang ataupun sumur tanpa meminta izin dan persetujuan darinya. Dan dia juga merupakan pemilik tambang dan barang-barang berharga berharga dibawahnya. Dia boleh memperdalam lubang di bawah tanahnya sekehendak hatinya selama tidak membahayakan orang lain yang bertetangga dengannya.”[12]
Kemudian Syaikh Abdullah Al-Bassam melanjutkan penjelasannya: “Pelajaran yang bisa diambil dari hadits ini (Hadits Aisyah rodhiyallohu ‘anha): Bahwa perampasan tanah itu adalah haram baik sedikit maupun banyak, inilah faidah penyebutan kata sejengkal tanah, Benda yang diam (tanah) merampasnya dengan cara menguasainya. Berkata Al-Qurthubi : “Dari hadits ini memungkinkan merampas tanah termasuk dosa besar.”, dan Sesungguhnya orang yang memiliki permukaan tanah dia juga memiliki bagian bawahnya maka tidak boleh seseorang melubangi dari bawah atau membuat lubang atau sumur atau selainnya (ditanah orang lain).” [13]
Bumi terdiri dari tujuh lapisDalam hadits di atas juga terdapat pelajaran bahwa bumi itu tersusun dari tujuh lapis sebagimana langit yang terdiri lapis, berkata Syaikh Saliem: “Bumi ini terdiri dari tujuh lapis, yang antara satu lapisan dengan yang lainnya tidak saling terpisah. Seandainya lapisan tanah itu terpisah-pisah, niscaya cukup bagi perampas tanah untuk dikalungi tanah yang dirampasnya saja, karena terpisahannya dari tanah yang berada di bawahnya. Wallohu a’lam. Tanah tujuh lapis itu bertingkat-tingkat sebagaimana halnya dengan langit. Hal itu tampak pada lahiriyah firman Alloh subhanahu wa ta’ala “Alloh yang menciptakan tujuh lapis langit dan bumi seperti itu pula.” (QS. Ath Thalaq: 12)”[14]
Berkata Syaikh Al Utsaimin rohimallohu: “Kesempurnaan siksa yang lain (selain laknat dari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam) adalah apa yang disebutkan dalam hadits ini (Hadits ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha) bahwa jika seseorang merampas sejengkal tanah saja maka dia akan dikalungi dengan (tanah yang dirampas) sampai tujuh lapis bumi pada hari kiamat, karena bumi itu terdiri dari tujuh lapis, sebagaimana yang datang dari as-Sunnah yang jelas, dan sebagaimana yang Alloh subhanahu wa ta’ala sebutkan di dalam al-Quran yaitu yang ditunjukkan dalam firman-Nya subhanahu wa ta’ala: “Alloh-lah yang menciptakan tujuh lapis langit dan begitu pula bumi.” (QS. Ath Thalaq : 12)
dan sudah ketahui bahwa permisalan di sini bukanlah bentuknya, karena di antara langit dan bumi terdapat perbedaan yang jauh. Langit jauh lebih besar , lebih luas dan lebih agung dari bumi. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: “Dan langit itu dibangun dengan dengan tangan.” (Adz Dzariyat: 47) , maksudnya dengan kuat dan Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: “Dan Kami bangun di atasmu tujuh langit yang kokoh” (An Naba’ : 12).”[15]
Pengubahan Tanda Batas Tanah Kemudian masalah yang kedua adalah merubah tanda batas tanah. Dalil tentang larangan merubah tanda batas adalah hadits yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib ra, dia berkata: ” Rosululloh memberitahukan kepadaku empat kalima
لَعَنَ اللهُ مُنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ, لَعَنَ اللهُ مَنْ لَعَنَ وَالِدَيْهِ, لَعَنَ اللهُ مَنَ آوَى مُحْدِثًا, لَعَنَ اللهُ مَنْ
غَيَّرَ مَنَارَ الأَرْضِ ,
‘Alloh melaknat orang yang menyembelih bagi selain Alloh; Alloh melaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya; Alloh melaknat orang yang memberi perlidungan orang yang mengada-adakan sesuatu yang baru (bid’ah); dan Alloh melaknat orang yang merubah tanda batas tanah.” (HR. Imam Muslim dari berbagai jalur)
.Perkataan Alloh melaknat maksudnya penjauhan dari rahmat Alloh .Berkata Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rohimahulloh: “Alloh melaknat orang yang merubah tanda batas tanah (Manarul Ardhi) yaitu tanda atau simbol yang membedakan antara tanah yang menjadi hakmu dan menjadi hak tetanggamu, kemudian kamu merubah batasnya dengan memajukan tanda tersebut atau memundurkannya.”[16]
Berkata Syaikh Al-Utsaimin rohimallohu: “Perkataan ‘Manarul Ardhi’ berarti tanda-tanda pembatas tanah yang telah ditetapkan antar tetangga (antar para pemilik tanah). Siapa yang mengubahnya secara zhalim maka dia terlaknat. Berapa banyak orang yang mengubah batas tanah, apalagi apabila nilai jual tanah itu tinggi, tanahnya subur dengan lokasi yang strategis. Mereka tidak tahu bahwa Nabi bersabda: “Barangsiapa mengambil tanah secara zhalim maka dia akan dibenamkan ke dalam tujuh lapis bumi.” Jadi masalah ini tidak bisa dianggap enteng. Padahal orang yang menyerobot tanah dan mengubah tanda pembatas tanah serta mengambil sesuatu yang bukan haknya tidak tahu bahwa ternyata dia tidak dapat mengambil manfaat dari tanah yang diserobotnya itu karena keburu meninggal dunia sebelum dapat mengambil manfaat darinya atau kemungkinan dia mendapat bencana dari apa yang dia ambilnya.Kesimpulannya, hadits ini merupakan dalil bahwa mengubah tanda batas tanah termasuk dosa besar, karena itulah Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam menggabungkan dengan syirik, durhaka kepada kedua orang tua, dan perbuatan bid’ah. Ini menunjukkan yang demikian itu merupakan masalah yang besar, yang harus dihindari oleh manusia dan hendaknya dia takut kepada Alloh.” [17]
Solusi dari dua masalah di atas:Bagi para perampas tanah orang lain maka wajib bagi dia mengembalikan tanah yang dia ambil itu kepada pemiliknya.Berkata Syaikh Abdul Azhim Al Badawi: “Barangsiapa yang merampas tanah kemudian menanaminya atau membangun di dalam tanah tersebut, maka diharuskan untuk mencabut tanamannya dan menghancurkan bangunannya.
Karena sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam
:لَيْسَ لِعِرْقٍ ظَالِمٍ حَقٌّ”
Tidak ada hak bagi akar yang zhalim.”[18]
Dan apabila dia menanam tanamannya dengan biaya, maka dia mengambil biayanya dan tanaman bagi pemilik tanah. Dari Rafi’ bin Khudaij rodhiyallohu ‘anhu Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda
:مَنْ زَرَعَ فِيْ أَرْضِ قَوْمٍ بِغَيْرِ إِذْنِهِمْ فَلَيْسَ لَهُ مِنَ الزَّرْعِ شَيْءٌ, وَ لَهُ نَفَقَتُهُ
“Barangsiapa menanam di tanah suatu kaum dengan tanpa izin mereka maka tidak ada baginya (hak) dari tanamanitu sedikitpun, dan baginya biaya penanamannya.” [19]
Berkata Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi[20]:
“Jika barang yang dirampas berupa tanah, kemudian perampas membangun rumah di atasnya ataupun menanam tanaman di atasnya maka rumah tersebut harus dirobohkan/dihancurkan dan tanaman itu harus dicabut, dan tanah tersebut harus diperbaiki kerena kerusakan yang disebabkan pembangunan rumah dan penanaman tanaman tersebut. Atau rumah itu tidak dirobohkan dan tanaman tersebut tidak dicabut, sebagai gantinya perampas meminta ganti atas biaya pembangunan rumah tersebut atau biaya penanaman tanaman tersebut namun itupun jika pemilik tanah menyetujuinya. Karena Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Tidak ada hak pada tanaman atau bangunan di tanah orang lain tanpa izinnya.”[21]
Perkataan beliau juga diperkuat dengan hadits dari Urwah bin Az-Zubair, dia berkata: telah berkata seorang dari sahabat Rosululloh berkata: sesungguhnya ada dua orang bertengkar mengadu kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam tentang masalah tanah. Salah seorang di antara mereka telah menanam pohon kurma di atas tanah milik yang lain. Maka Rosululloh memutuskan tanah tetap menjadi milik si empunya dan menyuruh pemilik pohon kurma untuk mencabut pohon kurmanya dan beliau bersabda:“Akar yang zhalim tidak mempunyai hak.”Demikianlah penjelasan dari masalah ini, semoga petani bisa menghindarinya, karena masalah ini sering terjadi di masyarakat dan hendaknya berhati-hati darinya karena termasuk dosa besar dan ancaman siksanya sangat keras dan pedih. Dan apabila diantara kita ada yang telah melakukan perampasan tanah maka segeralah dikembalikan tanah rampasan tersebut sebelum menjadi siksa di akherat. Marilah kita berusaha dengan cara yang halal dan baik dan janganlah kita memberi makan keluarga dengan cara yang haram dan bathil. Firman Alloh subhanahu wa ta’ala: “Dan janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian di antara kalian dengan jalan yang bathil.” (QS. Al-Baqarah : 188).
[1] Muttafaqun ‘Alaih, Riyadhush Shalihin no. 206.
[2] Muttafaqun ‘Alaih, Imam Bukhari (5/103/2452), Imam Muslim (3/1230/1610).
[3] HR. Imam Bukhari (5/103/2454), Shahih Jami’ush Shaghir no.6385.
[4] HR. Ibnu Hibban no.1167, Imam Ahmad (4/173), Ash Shahihah no.240.
[5] HR. Imam Ahmad (4/173), Ash Shihah no.242.
[6] Kitab Bahjatun Nazhirin Syarhu Riyadhish Shalihin, jilid 1 hal. 302
[7] Taisirul ‘Alam jilid 2 hal. 231
[8] Syarhu Riyadush Shalihin Libnil Utsaimin, jilid 1 hal. 753.
[9] Syarhu Riyadush Shalihin Libnil Utsaimin, jilid 1 hal. 753.
[10] Syarah Riyadush Shalihin, jilid hal. 522.
[11] Syarhu Riyadush Shalihin Libnil Utsaimin, jilid 1 hal. 753.
[12] Syarah Riyadush Shalihin, jilid hal. 522
.[13] Taisirul ‘Alam jilid 2 hal. 231.
[14] Syarah Riyadush Shalihin, jilid hal. 522.
[15] Syarhu Riyadush Shalihin Libnil Utsaimin, jilid 1 hal. 753.
[16] Kitabut Tauhid, hal.28.
[17] Syarah Kitab Tauhid, hal.184.
[18] HR. Tirmidzi (2/419/1394), Shahih Tirmidzi (6385), Baihaqi (6/142).
[19] HR. Tirmidzi (2/410/1378), Shahih Jami’ush Shaghir (6272), Ibnu Majah (2/824/2466).
[20] Ensiklopedi Muslim hal. 552
.[21] HR. Abu Dawud, Ad Daruqutni, berkata Tirmidzi, ‘Hadits ini di amalkan sebagian ulama.’
November 29, 2011
KISAH NABI HUD dan KAUM 'AD
KISAH NABI HUD dan KAUM 'AD
Post 30 Nop 2011
Setelah Nabi Nuh as wafat, dan waktu terus berputar tahun demi tahun. Umat manusia kembali lupa akan Allah Swt. Mereka kembali menjadikan patung-patung sebagai sesembahan. Lalu Allah Swt rnengutus junjungan kita Nabi Hud as di tengah-tengah kaumnya.
Nabi Hud berasal dari kabilah yang bernama 'Ad. Kabilah ini tinggal di suatu tempat yang bernama al-Ahqaf, yaitu padang pasir yang dipenuhi dengan pegunungan pasir dan tampak dari puncaknya lautan. Adapun tempat tinggal mereka berupa tenda-tenda besar dan mempuyai tiang-tiang yang kuat dan tinggi. Kaum 'Ad terkenal dengan fisik yang kuat dan memiliki tubuh yang tinggi dan tegak. Tiada seorang pun di masa itu yang dapat menandingi kekuatan mereka.
Meskipun mereka memiliki tubuh yang kuat, namun akalnya jongkok. Kaum ‘Ad menyembah berhala dan membelanya, bahkan mereka siap berperang untuk mempertahankan berhala yang mereka sembah. Mereka malah menuduh hal-hal yang jelek terhadap nabi mereka dan mengejeknya. Selama mereka menganggap bahwa kekuatan adalah hal yang patut dibanggakan, maka seharusnya mereka melihat bahwa Allah SWT yang menciptakan mereka lebih kuat dari mereka. Sayangnya mereka lupa, melainkan kecongkakan yang timbul.
Nabi Hud berkata kepada mereka: "Wahai kaumku, sembahlah Allah yang tiada tuhan lain bagi kalian selain-Nya. " (QS. Hud: 50)
Itu adalah perkataan yang sama yang diucapkan oleh seluruh nabi dan rasul. Perkataan tersebut tidak pernah berubah, tidak pernah berkurang, dan tidak pernah dicabut kembali.
Kaumnya bertanya kepada Hud as: "Apakah engkau ingin menjadi pemimpin bagi kami melalui dakwahmu ini? Imbalan apa yang engkau inginkan?"
Nabi Hud memberitahu mereka bahwa ia hanya mengharapkan imbalan dari Allah Swt. Ia tidak menginginkan sesuatu pun dari mereka selain agar mereka menerangi akal mereka dengan cahaya kebenaran. Ia mengingatkan mereka tentang nikmat Allah Swt terhadap mereka. Bagaimana Allah Swt memberikan kekuatan fisik bagi mereka, bagaimana Allah Swt menempatkan mereka di bumi yang penuh dengan kebaikan, bagaimana Allah Swt mengirimkan hujan lalu menghidupkan bumi dengannya.
Kaum Hud membuat kerusakan dan mengira bahwa mereka orang-orang yang terkuat di muka bumi, sehingga mereka menampakkan kesombongan dan semakin menentang kebenaran. Mereka berkata kepada Nabi Hud: "Bagaimana engkau menuduh tuhan-tuhan kami yang nenek moyang kami pun menyembahnya?"
Nabi Hud menjawab: "Sungguh orang tua kalian telah berbuat kesalahan." Walaupun Nabi Hud menerangkan kepada mereka sebagaimana apa yang diterangkan oleh semua nabi, namun penduduk ‘Ad mendustakannya.
Para pembesar kaum ’Ad berkata: "Bukankah hal yang aneh ketika Allah SWT memilih manusia biasa di antara kita untuk menerima wahyu dari-Nya?"
Nabi Hud balik bertanya: "Apa keanehan dalam hal itu? Sesungguhnya Allah SWT mencintai kalian dan oleh karenanya Dia mengutus aku kepada kalian untuk mengingatkan kalian. Sesungguhnya perahu Nuh dan kisah Nuh tidak jauh dari ingatan kalian. Janganlah kalian melupakan apa yang telah terjadi. Orang-orang yang menentang Allah SWT telah dihancurkan dan begitu juga orang-orang yang akan mengingkari-Nya pun akan dihancurkan, sekuat apa pun mereka."
Para pembesar kaum berkata: "Siapakah yang dapat menghancurkan kami wahai Hud?"
Nabi Hud menjawab: "Allah SWT."
Orang-orang kafir dari kaum Nabi Hud berkata: "Tuhan-tuhan kami akan menyelamatkan kami."
Nabi Hud memberitahu mereka, bahwa tuhan-tuhan yang mereka sembah ini dengan maksud untuk mendekatkan mereka kepada Allah SWT pada hakikatnya justru menjauhkan mereka dari-Nya. Ia menjelaskan kepada mereka bahwa hanya Allah SWT yang dapat menyelamatkan manusia, sedangkan kekuatan lain di bumi tidak dapat mendatangkan mudarat dan manfaat.
Pertarungan antara Nabi Hud dan kaumnya semakin seru. Dan setiap kali pertarungan berlanjut dan hari berlalu, kaum Nabi Hud meningkatkan kesombongan, pembangkangan, dan pendustaan kepada nabi mereka. Mereka mulai menuduh Nabi Hud sebagai seorang bodoh dan gila. Pada suatu hari mereka berkata kepadanya: "Sekarang kami memahami rahasia kegilaanmu. Sesungguhnya engkau menghina tuhan kami dan tuhan kami telah marah kepadamu, dan karena kemarahannya engkau menjadi gila."
Sampai pada batas inilah penyimpangan itu telah terjadi pada kaum ’Ad, dan menganggap bahwa Nabi Hud telah mengigau karena salah satu tuhan mereka telah murka kepadanya, sehingga ia terkena sesuatu penyakit gila.
Nabi Hud hanya pasrah kepada Allah Swt dan ia hanya memberikan peringatan serta ancaman jika merekat tetap mendustakan dakwahnya. Nabi Hud berkata: "Sesungguhnya aku jadikan Allah sebagai saksiku, dan saksikanlah oleh kalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan dari selain-Nya. Sebab itu, jalankanlah tipu daya kalian semuanya terhadapku dan janganlah kalian memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus. Jika kalian berpaling, maka sesungguhnya aku telah menyampaikan kepada kalian apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. Dan Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudarat kepada-Nya sedikit pun. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu. " (QS. Hud: 54-57)
Dalam ucapannya, Nabi Hud menjelaskan kepada kaumnya bahwa ia melaksanakan amanat dan menyampaikan agama. Jika mereka mengingkari dakwahnya, niscaya Allah SWT akan mengganti mereka dengan kaum selain mereka. Yang demikian ini berarti bahwa mereka sedang menunggu azab.
Nabi Hud dan kaumnya menunggu janji Allah SWT. Kemudian terjadilah masa kering di muka bumi di mana langit tidak lagi menurunkan hujan. Matahari bersinar sangat kuat, hingga laksana percikan-percikan api yang menimpa kepala manusia.
Kaum Nabi Hud segera menemuinya dan bertanya: "Mengapa terjadi kekeringan ini wahai Hud?"
Nabi Hud berkata: "Sesungguhnya Allah SWT murka kepada kalian. Jika kalian beriman, maka Allah SWT akan rela terhadap kalian dan menurunkan hujan serta menambah kekuatan kalian." Namun kaum Nabi Hud justru mengejeknya dan malah semakin menentangnya., maka masa kekeringan semakin bertambah dan menguningkan pohon-pohon yang hijau dan matilah berbagai tanaman yang ada di muka bumi.
Lalu datanglah suatu hari di mana terdapat awan besar yang menyelimuti langit. Kaum Nabi Hud begitu gembira dan mereka keluar dari rumah sambil berkata: "Hari ini kita akan dituruni hujan." Tiba-tiba udara berubah, yang tadinya sangat kering dan panas kini menjadi sangat dingin. Angin mulai bertiup dengan kencang. Semua benda menjadi bergoyang. Angin terus-menerus bertiup siang dan malam, hari demi hari, dan hawa dingin semakin bertambah.
Kaum Nabi Hud mulai berlari. Mereka segera menuju ke tenda dan bersembunyi di dalamnya. Angin semakin bertiup dengan kencang dan menghancurkan tenda. Angin menghancurkan pakaian dan menghancurkan kulit. Setiap kali angin bertiup, ia menghancurkan dan membunuh apa saja yang di laluinya. Angin bertiup selama tujuh malam dan delapan hari dengan mengancam kehidupan dunia. Kemudian angin berhenti dengan izin Allah Swt.
Allah SWT berfirman:
"Maka tatkala mereka melihat azab itu, berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: 'Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.' (Bukan)! Bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya." (QS. al-Ahqaf: 24-25) "Yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus;, maka kamu lihat kaum 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). " (QS. al-Haqqah: 7)
Tiada yang tersisa dari kaum Nabi Hud as, kecuali pohon-pohon kurma yang lapuk. Nabi Hud as dan beberapa orang yang beriman kepadanya selamat, sedangkan orang-orang yang menentangnya binasa.
Post 30 Nop 2011
Setelah Nabi Nuh as wafat, dan waktu terus berputar tahun demi tahun. Umat manusia kembali lupa akan Allah Swt. Mereka kembali menjadikan patung-patung sebagai sesembahan. Lalu Allah Swt rnengutus junjungan kita Nabi Hud as di tengah-tengah kaumnya.
Nabi Hud berasal dari kabilah yang bernama 'Ad. Kabilah ini tinggal di suatu tempat yang bernama al-Ahqaf, yaitu padang pasir yang dipenuhi dengan pegunungan pasir dan tampak dari puncaknya lautan. Adapun tempat tinggal mereka berupa tenda-tenda besar dan mempuyai tiang-tiang yang kuat dan tinggi. Kaum 'Ad terkenal dengan fisik yang kuat dan memiliki tubuh yang tinggi dan tegak. Tiada seorang pun di masa itu yang dapat menandingi kekuatan mereka.
Meskipun mereka memiliki tubuh yang kuat, namun akalnya jongkok. Kaum ‘Ad menyembah berhala dan membelanya, bahkan mereka siap berperang untuk mempertahankan berhala yang mereka sembah. Mereka malah menuduh hal-hal yang jelek terhadap nabi mereka dan mengejeknya. Selama mereka menganggap bahwa kekuatan adalah hal yang patut dibanggakan, maka seharusnya mereka melihat bahwa Allah SWT yang menciptakan mereka lebih kuat dari mereka. Sayangnya mereka lupa, melainkan kecongkakan yang timbul.
Nabi Hud berkata kepada mereka: "Wahai kaumku, sembahlah Allah yang tiada tuhan lain bagi kalian selain-Nya. " (QS. Hud: 50)
Itu adalah perkataan yang sama yang diucapkan oleh seluruh nabi dan rasul. Perkataan tersebut tidak pernah berubah, tidak pernah berkurang, dan tidak pernah dicabut kembali.
Kaumnya bertanya kepada Hud as: "Apakah engkau ingin menjadi pemimpin bagi kami melalui dakwahmu ini? Imbalan apa yang engkau inginkan?"
Nabi Hud memberitahu mereka bahwa ia hanya mengharapkan imbalan dari Allah Swt. Ia tidak menginginkan sesuatu pun dari mereka selain agar mereka menerangi akal mereka dengan cahaya kebenaran. Ia mengingatkan mereka tentang nikmat Allah Swt terhadap mereka. Bagaimana Allah Swt memberikan kekuatan fisik bagi mereka, bagaimana Allah Swt menempatkan mereka di bumi yang penuh dengan kebaikan, bagaimana Allah Swt mengirimkan hujan lalu menghidupkan bumi dengannya.
Kaum Hud membuat kerusakan dan mengira bahwa mereka orang-orang yang terkuat di muka bumi, sehingga mereka menampakkan kesombongan dan semakin menentang kebenaran. Mereka berkata kepada Nabi Hud: "Bagaimana engkau menuduh tuhan-tuhan kami yang nenek moyang kami pun menyembahnya?"
Nabi Hud menjawab: "Sungguh orang tua kalian telah berbuat kesalahan." Walaupun Nabi Hud menerangkan kepada mereka sebagaimana apa yang diterangkan oleh semua nabi, namun penduduk ‘Ad mendustakannya.
Para pembesar kaum ’Ad berkata: "Bukankah hal yang aneh ketika Allah SWT memilih manusia biasa di antara kita untuk menerima wahyu dari-Nya?"
Nabi Hud balik bertanya: "Apa keanehan dalam hal itu? Sesungguhnya Allah SWT mencintai kalian dan oleh karenanya Dia mengutus aku kepada kalian untuk mengingatkan kalian. Sesungguhnya perahu Nuh dan kisah Nuh tidak jauh dari ingatan kalian. Janganlah kalian melupakan apa yang telah terjadi. Orang-orang yang menentang Allah SWT telah dihancurkan dan begitu juga orang-orang yang akan mengingkari-Nya pun akan dihancurkan, sekuat apa pun mereka."
Para pembesar kaum berkata: "Siapakah yang dapat menghancurkan kami wahai Hud?"
Nabi Hud menjawab: "Allah SWT."
Orang-orang kafir dari kaum Nabi Hud berkata: "Tuhan-tuhan kami akan menyelamatkan kami."
Nabi Hud memberitahu mereka, bahwa tuhan-tuhan yang mereka sembah ini dengan maksud untuk mendekatkan mereka kepada Allah SWT pada hakikatnya justru menjauhkan mereka dari-Nya. Ia menjelaskan kepada mereka bahwa hanya Allah SWT yang dapat menyelamatkan manusia, sedangkan kekuatan lain di bumi tidak dapat mendatangkan mudarat dan manfaat.
Pertarungan antara Nabi Hud dan kaumnya semakin seru. Dan setiap kali pertarungan berlanjut dan hari berlalu, kaum Nabi Hud meningkatkan kesombongan, pembangkangan, dan pendustaan kepada nabi mereka. Mereka mulai menuduh Nabi Hud sebagai seorang bodoh dan gila. Pada suatu hari mereka berkata kepadanya: "Sekarang kami memahami rahasia kegilaanmu. Sesungguhnya engkau menghina tuhan kami dan tuhan kami telah marah kepadamu, dan karena kemarahannya engkau menjadi gila."
Sampai pada batas inilah penyimpangan itu telah terjadi pada kaum ’Ad, dan menganggap bahwa Nabi Hud telah mengigau karena salah satu tuhan mereka telah murka kepadanya, sehingga ia terkena sesuatu penyakit gila.
Nabi Hud hanya pasrah kepada Allah Swt dan ia hanya memberikan peringatan serta ancaman jika merekat tetap mendustakan dakwahnya. Nabi Hud berkata: "Sesungguhnya aku jadikan Allah sebagai saksiku, dan saksikanlah oleh kalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan dari selain-Nya. Sebab itu, jalankanlah tipu daya kalian semuanya terhadapku dan janganlah kalian memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus. Jika kalian berpaling, maka sesungguhnya aku telah menyampaikan kepada kalian apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. Dan Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudarat kepada-Nya sedikit pun. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu. " (QS. Hud: 54-57)
Dalam ucapannya, Nabi Hud menjelaskan kepada kaumnya bahwa ia melaksanakan amanat dan menyampaikan agama. Jika mereka mengingkari dakwahnya, niscaya Allah SWT akan mengganti mereka dengan kaum selain mereka. Yang demikian ini berarti bahwa mereka sedang menunggu azab.
Nabi Hud dan kaumnya menunggu janji Allah SWT. Kemudian terjadilah masa kering di muka bumi di mana langit tidak lagi menurunkan hujan. Matahari bersinar sangat kuat, hingga laksana percikan-percikan api yang menimpa kepala manusia.
Kaum Nabi Hud segera menemuinya dan bertanya: "Mengapa terjadi kekeringan ini wahai Hud?"
Nabi Hud berkata: "Sesungguhnya Allah SWT murka kepada kalian. Jika kalian beriman, maka Allah SWT akan rela terhadap kalian dan menurunkan hujan serta menambah kekuatan kalian." Namun kaum Nabi Hud justru mengejeknya dan malah semakin menentangnya., maka masa kekeringan semakin bertambah dan menguningkan pohon-pohon yang hijau dan matilah berbagai tanaman yang ada di muka bumi.
Lalu datanglah suatu hari di mana terdapat awan besar yang menyelimuti langit. Kaum Nabi Hud begitu gembira dan mereka keluar dari rumah sambil berkata: "Hari ini kita akan dituruni hujan." Tiba-tiba udara berubah, yang tadinya sangat kering dan panas kini menjadi sangat dingin. Angin mulai bertiup dengan kencang. Semua benda menjadi bergoyang. Angin terus-menerus bertiup siang dan malam, hari demi hari, dan hawa dingin semakin bertambah.
Kaum Nabi Hud mulai berlari. Mereka segera menuju ke tenda dan bersembunyi di dalamnya. Angin semakin bertiup dengan kencang dan menghancurkan tenda. Angin menghancurkan pakaian dan menghancurkan kulit. Setiap kali angin bertiup, ia menghancurkan dan membunuh apa saja yang di laluinya. Angin bertiup selama tujuh malam dan delapan hari dengan mengancam kehidupan dunia. Kemudian angin berhenti dengan izin Allah Swt.
Allah SWT berfirman:
"Maka tatkala mereka melihat azab itu, berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: 'Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.' (Bukan)! Bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya." (QS. al-Ahqaf: 24-25) "Yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus;, maka kamu lihat kaum 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). " (QS. al-Haqqah: 7)
Tiada yang tersisa dari kaum Nabi Hud as, kecuali pohon-pohon kurma yang lapuk. Nabi Hud as dan beberapa orang yang beriman kepadanya selamat, sedangkan orang-orang yang menentangnya binasa.
Langganan:
Postingan (Atom)