Tampilkan postingan dengan label Metode Penelitian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Metode Penelitian. Tampilkan semua postingan
Maret 28, 2012
Cara Membuat Judul Penelitian
Kesulitan pertama mahasiswa akhir adalah saat pengajuan judul dan secara pintas mengadopsi dari hasil skripsi orang lain tanpa memahami latar belakang masalah penelitian. sehingga kendala nampak saat pada proses penentuan analisa datanya.
Seorang peneliti merasakan adanya"sesuatu yang tidak beres", (dalam arti tidak atau belum sesuai dengan kondisi yang seharusnya), artinya seorang peneliti harus memiliki keingintahuan yang tinggi dan keinginan untuk memperbaiki keadaan.
Contoh : "Selama saya kuliah, belum pernah saya temui seorang mahasiswa pun berjalan sambil membaca buku di kampus karena saking gemarnya membaca, misalnya.ini juga menguatkan survei UNESCO bahwa pringkat membaca Indonesia, berada di bawah negara-negara tetangga kita seperti Malaysia bahkan Vietnam. Mungkin juga beralasan bahwa lesunya membaca ini adalah pemicu sepinya diskusi-diskusi kecil atau publik di kampus. Padahal, menurut mahasiswa yang sudah alumni, kegiatan diskusi adalah kegiatan yang biasa ditemui di setiap sudut kampus ini dulu.
Mengacu pada masalah yang dapat dilihat dari suatu kasus bisa diambil rumusan masalah yang diungkapkan dalam kalimat tanya :
1. Apakah benar bahwa mahasiswa kita kurang minat membaca?
2. Apakah benar lesunya minat membaca berakibat lesunya forum diskusi di kampus?
3. Apakah benar dengan lesunya membaca dan diskusi ini mengakibatkan kurang ada gairah dalam penelitian dan menulis dikalangan mahasiswa?
Dari pertanyaan diatas peneliti harus bisa menentukan apa variabel penelitian atau yang menjadi objek penelitian yang merupakan inti dari masalah penelitiannya. dengan kata lain untuk menyusun masalah penelitian peneliti harus mengetahui terlebih dahulu apa variabelnya. ketiga pertanyaan diatas diajabarkan berdasarkan tiga gejala yang penliti baca di media berdasarkan pengamatan sendiri.
Hal lain yang bisa diamati dari " Hal yang tidak beres", dapat dilihat dari hal yang positif dari kegiatan mahasiswa dengan adanya kegiatan mentoring yang diselenggarakan oleh "lembaga dakwah kampus' terutama dikampus umum yang marak dibandingkan dengan kampus berbasis agama. sehingga anda rumuskan juga dalam kalimat pertanyaan :
1. Kegiatan positif apa saja yang dilakukan mahasiswa melalui kelompok mentoring tersebut?
2. Motif-motif apakah yang mendorong para mahasiswa untuk mengadakan kelompok mentoring tersebut?
3. Apakah ada kaintan yang erat antara mentoring dengan kegiatan salah satu partai sebagai sel kaderisasi?
Untuk menjawab semua pertanyaan dari asumsi dasar yang diajukan peneliti dapat mengajukan pertanyaan "Manakah kira-kira yang paling baik, mulai dengan mendaftar sebanyak mungkin pertanyaan atau langsung menentukan sejumlah pertanyaan?"
Asumsinya sebagian orang dengan cepat memperoleh pertanyaan penelitian karena sensitif terhadap lingkungan dan dapat merasakan adanya permasalahan disekelilingnya sehingga ingin memecahkan permasalahan tersebut melalui kegiatan penelitian. sebaliknya sebagian orang sukar menemukan permaslahan yang akan diteliti sehingga apabla seorang mahasiswa, setelah lama menyelesiakan teori, tidak habis-habis berada dalam "masa berpikir mencari judul "untuk skripsinya.
Intinya modal utama mahasiswa dalam menentukan judul harus menguasai permasalahan lalu lanjut pada pemahaman terhadap literatur yang relevan dengan judul penelitiannya. dalam keadaan mantap peneliti harus juga meninjau kembali rumusan pertanyaan yang diajukan dan sambungkan dengan bahan pustaka, sebaliknya jika dalam mengkaji bahan pustaka untuk teori tidak memperoleh dukungan maka lebih baik mengurungkan niatnya untuk walaupun judul dirasakan sudah sesuai dengan keinginan peneliti.
Secara garis besar, proses penelitian pada umunya melalui langkah-angkah sebagai berikut ;
1. Mencari permasalahan yang pantas untuk diteliti.
2. Menelaah buku-buku untuk mencari dukungan teori dengan cara membaca buku teori maupun laporan hasil penelitian dari hasil telaah ini peneliti menentukan langkah untuk terus atau harus menghentikan penelitiannya.
3. Meninjau kembali rumusan serta memantapkan problematika tersebut dan dilanjutkan dengan merumuskan tujuan dan hipotesis penelitian.
4. Menyusun instrumen pengumpul data.
5. Melaksanakan penelitian
6. Melakukan tabulasi pengolahan data
7. Mengambil kesimpulan
8. Menyusun laporan penelitian
Acuan menentukan sebuah judul skripsi
Setelah memahami urutan proses penelitian secara umum kembali pada prumusan problematika dan judl penelitian. apabila peneliti sudah merasa bahwa ia telah memiliki problematika penelitian dan hal ini berarti bahwa peneliti dengan jelas sudah menguasai permasalahan penelitiannya, maka ia dapat mencari rumsuan untuk judulnya. rumusan problematika saja memang belum cukup, peneliti harus juga mengetahui hal-hal lain yang berkaitan dengannya.
Berpatokan pada masalah bukan pada judul skripsi yang ada
Walaupun judul selalu tercantum dibagian paling depan dari setiap penelitian, tetapi tidak berarti penelitian berangkat dari judul. bahkan untuk jenis penelitian kualitatif, judul penelitian dapat dibuat setelah penelitian selesai. Kekeliruan sebagian mahasiswa selalu menentukan judul berasal dari judul yang sudah ada, padahal judul bisa diambil dari permasalahan yang ada dalam mata kuliah, fenomena sehari-hari ditempat kerja, dari hasil sharing seminar, pola pikir membuat judul dapat dilihat :
Masalah -------> Identifikasi masalah............> Batasan masalah ...............> Judul
Dari pola diatas maka judul penelitian itu sudah spesifik karena berangkat dari batasan masalah. jadi variabel penelitian yang telah dibatasi itulah yang diangkat menjadi judul penelitian. Masalah dapat dilihat dari asumsi dasar (dasar berpijak masalah yang bisa dijadikan sebuah acuan judul) seperti :
"Kesulitas mahasiswa UNSURI "universitas sunan giri surabaya"untuk menghilangkan logat daerah saat pengucapan bahasa jepang"
"PT KAI seringkali terjadi kecelakaan yang tidak bisa diprediksi"
Judul harus netral
Karena pada dasarnya meneliti adalah keinginan mengetahui data atau gejala sebagaimana adaya (bukan sebagaimana seharusnya) maka judul penelitian harus netral, tidak dipengaruhi unsur-unsur subyektif yang belum diketahui kebenarannya. judul penelitian harus netral dan didasarkan pada bentuk-bentuk permasalahan. untuk bentuk permasalahan deskriptsif yang bersifat estimasi (yang menggambarkan keadaan satu variabel/uni variabel)
Teks judul sederhana dan spesifik
untuk penelitian harus ada pembatasan maslah dengan memperkecil jumlah variabel, memperkecil jumlah subjek penelitian, mempersempit lingkup wilayah penelitian menggunakan instrumen dengan memilih metode pengumpulan data yang lebih sederhana, menganalisis data dengan teknik yang tepat guna dan menyusun laporannya sesingkat mungkin.
Sebuah judul harus berisikan ;
1. teks pengantar (analisa, hubungan dengan..., studi deskriptif..., studi ekssploratif, dll);
2. variabel pokok yang merupakan objek yang akan diteliti,
3. subjek penelitian tempat diperolehnya data untuk variabel yang diteliti,
4. lokasi tempat penelitian dilaksanakan,
5. waktu data penelitian diambil atau waktu penelitian dilaksanakan.Teks judul dapat ditulis dalam skrisi seperti berikut :
• Peranan......................terhadap...............................
• pengaruh.....................terhadap..............................
• pengaruh.....................dan......................terhadap...
• Hubungan ...................dengan.................................
• hubungan.....................dan.....................dengan......
Judul penelitian selain berbentuk hubungan sebab-akibat bisa juga bersifat komparatif (membandingkan), maka judulnya penelitian dengan teks yang sering digunakan ;
• "Perbandingan...................antara......................................
• "perbandingan..................... terhadap ..............................
karena dalam penelitian kualitatif banyak variabel yang diamati dan masalah yang diteliti belum jelas, maka judul-judul penelitian tidak harus eksplisit serti pada batasan masalah. judul-judl penelitiannya masih bersifat sementara, dapat berubaha dan dapat dirumuskan judlnya setelah penelitian selesai.
Judul bisa juga dari pembimbing anda
Kalau Anda beruntung, bisa saja dosen pembimbing sudah memiliki topik dan menawarkan judul skripsi ke Anda. Biasanya, dalam hal ini dosen pembimbing sedang terlibat dalam proyek penelitian dan Anda akan "ditarik" masuk ke dalamnya. Kalau sudah begini, penulisan skripsi jauh lebih mudah dan (dijamin) lancar karena segalanya akan dibantu dan disiapkan oleh dosen pembimbing.Akan tetapi terlalu banyak mempunyai permasalahan lalu berkonsultasi dengan pembimbing, setelah mengetahui adanya kesulitan lalu berubah ingin mengganti judul. dengan proposal yang diajukan dengan berbagai alasan latar belakang masalah diajukan, belum selesai terpikir masalah lain sangat menarik untuk diajukan kembali menjadi sebuah judul. bisa jadi mahasiswa yang sering gunta-ganti judul tidak menguasai permasalahan dengan baik. dipihak lain ada mahassiwa yang sulit menemukan judul, tidak segan-segan meminta pada calon pembimbing atau judul diberikan oleh dosen tapi kesulitan mencerna karena mahasiswa belum terbiasa merangkai kata-kata, nasehat dosen sangat bermanfaat, tapi terkadang judul skripsi pemberian dosen sulit dipahami oleh mahasiswa maknanya sehingga ada kompromi semu padahal tidak paham dengan permasalahan.
Sayangnya, kebanyakan mahasiswa tidak memiliki keberuntungan semacam itu. Mayoritas mahasiswa, seperti ditulis sebelumnya, harus bersikap proaktif sedari awal. Jadi, persiapan sedari awal adalah sesuatu yang mutlak diperlukan.
Idealnya, skripsi disiapkan satu-dua semester sebelum waktu terjadwal. Satu semester tersebut bisa dilakukan untuk mencari referensi, mengumpulkan bahan, memilih topik dan alternatif topik, hingga menyusun proposal dan melakukan bimbingan informal.
Dalam mencari referensi/bahan acuan, pilih jurnal/paper yang mengandung unsur kekinian dan diterbitkan oleh jurnal yang terakreditasi. Jurnal-jurnal top berbahasa asing juga bisa menjadi pilihan. Kalau Anda mereplikasi jurnal/paper yang berkelas, maka bisa dipastikan skripsi Anda pun akan cukup berkualitas.
Unsur kekinian juga perlu diperhatikan. Pertama, topik-topik baru lebih disukai dan lebih menarik, bahkan bagi dosen pembimbing/penguji. Kalau Anda mereplikasi topik-topik lawas, penguji biasanya sudah "hafal di luar kepala" sehingga akan sangat mudah untuk menjatuhkan Anda pada ujian skripsi nantinya.
Kedua, jurnal/paper yang terbit dalam waktu 10 tahun terakhir, biasanya mengacu pada referensi yang terbit 5-10 tahun sebelumnya. Percayalah bahwa mencari dan menelusur referensi yang terbit tahun sepuluh-dua puluh tahun terakhir jauh lebih mudah daripada melacak referensi yang bertahun 1970-1980.
Salah satu tahap persiapan yang penting adalah penulisan proposal. Tentu saja proposal tidak selalu harus ditulis secara "baku". Bisa saja ditulis secara garis besar (pointer) saja untuk direvisi kemudian. Proposal ini akan menjadi guidance Anda selama penulisan skripsi agar tidak terlalu keluar jalur nantinya. Proposal juga bisa menjadi alat bantu yang akan digunakan ketika Anda mengajukan topik/judul kepada dosen pembimbing Anda. Proposal yang bagus bisa menjadi indikator yang baik bahwa Anda adalah mahasiswa yang serius dan benar-benar berkomitmen untuk menyelesaikan skripsi dengan baik.
Judul yang sesuai dengan tingkat analisa dan penentuan topik
Kadang kala yang harus dilakukan bagaimana cara menentukan sampai seberapa besar cakupan analisa. Hal ini sangat penting karena dengan menentukan tema atau judul yang sesuai dengan tingkatan analisa tepat maka anda akan lebih mudah menentukan rumusan masalah dan pembatasan penelitian. Jadi, sebenarnya untuk menentukan judul dalam berbagai kajian ilmu apapun tidaklah sesulit yang mahasiswa bayangkan.
Dalam penetuan topik disarikan bahwa topik harus penting (significanne of topic), harus menarik perhatian penelitian (interesting topic), harus didukung oleh data atau dngan kata lain untuk topik harus tersedia datanya (obtainable data) dan topik penelitian harus dapat dilaksanakan dalam arti sebatas kemampuan penelitian (manageble topic)
Berikut merupakan langkah yang harus anda lakukan ketika memilih tema atau judul untuk skripsi bahasa ;
A.Bagaimana untuk mendapatkan judul yang sesuai dalam ilmu bahasa.
Untuk mendapatkan judul atau tema skripsi ilmu bahasa maka saya sarankan anda harus membaca banyak referensi. Banyak referensi, tidak berarti tidak harus bersumber pada buku-buku atau jurnal yang membahas tematik bahasa. Saya seringkali menemukan judul ilmu bahasa yang kemudian saya angkat menjadi skripsi ketika membaca majalah-majalah seperti National Geography atau bahkan majalah wanita seperti Femina.
Jadi bisa saja, artikel yang membahas analisa sastra namun juga mempunyai muatan ilmu komunikasi dan feature bahasa, kalau anda cukup teliti untuk menangkap ide ini. Jadi, jangan mengkotakkan diri anda dalam sebuah ilmu yang anda pelajari selama kuliah saja. Banyak membaca Novel dan komik berarti anda memperluas wawasan anda.
Langkah kedua untuk mencari ide judul skripsi adalah sharing dengan teman, atau dosen pembimbing akademis anda. Percakapan dengan teman yang anda lewatkan di kantin ataupun ketika dosen menyampaikan materi kuliah, terus keluar ide dan anda menangkapnya. Jadilah sebuah judul skripsi.Untuk penerimaan judul biasanya ditentukan dari kebaruan dan kesulitan mengenai objek yang diteliti
B. Menentukan Wilayah lingusitik kebahasan yang paling kita pahami.
Perlu diingat bahwa ilmu bahasa adalah sangat luas dan berpatokan pada konsep Speaking, listening, writing dan reading. Jadi untuk mencari kajian apa dan bagaimana ilmu bahasa maka dapat dikembalikan dalam esensi dari ilmu bahasa itu sendiri. Jadi tema atau judul dalam bahasa dapat di dasarkan pada kajian-kajian wilayah lingua bahasa yang luar biasa luasnya dan juga bahasa ada kaitannya dengan ilmu sastra. Ilmu sastra sendiri bersumber dari kajian yang mengulas secara tematik mengenai sastra, Baik input, output maupun lingkungan; ke semuanya membentuk sistem yang saling terkait dan saling mempengaruhi.
Berdasarkan bagan diatas maka kita dapat meletakkan topik tersebut di dalam wilayah proses input, output (kebijakan), maupun lingkungan. Berikut merupakan berbagai contoh tema yang dapat diangkat dalam menganalisa bahasa seperti bahasa inggeris
1.Input
Bentuk input dalam ilmu bahasa dibedakan menjadi dua yaitu komunikasi dan tematis Input dalam tuntutan disebabkan adanya kesulitasn dalam hal berkomunikasi dengan demikian timbulnya input berupa upaya meningkatkan kemampuan conversation oleh karena ada fenomena belajar bahasa inggeris sejak SD sampai PT tapi kemampuan percakapan kita sangat sulit, hal ini disebabkan oleh adanya sebuah kondisi psikologis kalau bahasa inggeris itu bahasa asing, dipelajari saat benar-benar dibutuhkan, kurangnya pembiasaan percakapan, kurangnya dukugan sekitar kita untuk selalu menggunakan bahasa itu sebagai bahasa sehari-hari kita
2.Output
Output dalam suatu sistem kebahasan adakalah peningkatan kompetensi kebahasan yang dirasa masih kurang. Jadi secara meluas, tema yang dapat diangkat dalam wilayah output untuk sebuah judul bahasa adalah jalannya pelaksanaan, keefektifan serta implikasi kebahasan tersebut dalam struktur bahasa.
3.Lingkungan
Untuk menciptakan proses dimana sistem tersebut berjalan maka dibutuhkan adanya lingkungan bahasa. Lingkungan bahasa merupakan suatu penggambaran secara sistematik dari setiap pola penggunaan bahasa yaitu baik struktur maupun fungsi dari yang bisa didaptasi oleh bangsa indonesia artinya bahasa inggeris bisa diterima sebagai bahasa kedua setelah bahasa Indonesia Lingkungan ini dapat berupa lingkungan internal atapun eksternal. Tema inilah yang paling banyak tidak dicermati mahasiswa sebagai tema dalam penelitian bahasa dari sudut budaya dan tema kesusastraan, padahal bahasa sangat begitu dekat dengan tema omunikasi sastra dan komunikasi, padahal banyak bidang yang bisa dikaji, misalkan analsia tematis novel, film dan sastrayang berasal dari permasalahan bahasa setempat seperti logat bahasa ataupun perbedaan pola budaya dan sastra dalam berbahasa.
Ke semua bagian dalam sistem kebahasan akan seperti yang diuraikan di atas dapat menjadi dasar kegiatan dalam meenentukan judul penelitian bahasa Hal ini akan membantu anda dalam menentukan ruang lingkup dalam menentukan judul bahasa yang tidak hanya terpokus pada grammer, conversation, fonetik tapi kajian tema sastra juga bisa diadopsi dan dijadikan sebagai dasar judul dalam kajian ilmu bahasa.
C.Menentukan Tingkatan Analisa
Langkah berikutnyan adalah menentukan tingkatan analisa masalah. Untuk langkah ini maka kita dapat membagi berdasarkan tingkatan mana yang paling mempengaruhi dan dipengaruhi dari tema kebahasan dapat dilihat nanti dalam hubungan antar variabel dalam paradigma penelitian.
Dalam perakteknya model judul penelitian cukup bervariasi dan tidak sesuai dengan teori yang diberikan diatas. terdapat judul penelitian yang mencerminkan permasalahan dan ada juga judul penelitian yang mencerminkan saran yang akan diberikan
SISTEMATIKA PENULISAN SKRIPSI MODEL PENELITIAN KUANTITATIF
SISTEMATIKA PENULISAN SKRIPSI
MODEL PENELITIAN KUANTITATIF
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
B. IDENTIFIKASI MASALAH
C. PEMBATASAN DAN PERUMUSAN MASALAH
D. TUJUAN DAN SIGNIFIKASI PENELITIAN
E. SISTEMATIKA PENULISAN
BAB II
LANDASAN TEORI PENELITIAN
A. DESKRIPSI TEORI
B. KERANGKA BERFIKIR
C. HIPOTESIS.
BAB III
KERANGKA METODOLOGIS
A. METODE PENELITIAN
B. POPULASI, SAMPEL DAN TEKNIK PENARIKAN SAMPEL
C. INSTRUMENTASI PENELITIAN
D. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
E. TEKNIK ANALISIS DATA
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. DESKRIPSI DAERAH/INSTITUSI
B. DESKRIPSI KARAKTERISTIK RESPONDEN
C. PENYAJIAN ANALISIS DATA
D. INTERPRETASI HASIL PENELITIAN.
BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
B. REKOMENDASI
Maret 22, 2012
PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF
PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF
Dalam penelitian kuantitatif yakni bahwa satu-satunya pengetahuan (knowledge) yang valid adalah ilmu pengetahuan (science), yaitu pengetahuan yang berawal dan didasarkan pada pengalaman yang tertangkap lewat panca indra untuk kemudian diolah oleh nalar (reason) secara epistemologis, dalam penelitian kuantitatif, diterima suatu paradigma, bahwa sumber pengetahuan yang paling utama adalah fakta yang sudah pernah terjadi, dan lebih khusus lagi hal-hal yang dapat ditangkap panca indra (exposed to sensory experience), hal ini sekaligus mengindikasikan bahwa secara ontologis objek studi penelitian kuantitatif adalah fenomena dan hubungan-hubungan umum antara fenomena-fenomena (general relations between phenomena) yang dimaksud fenomena disini adalah sejalan dengan prinsip sensory experience yang trbetas pada eksternal appearance given in sense perception saja. Karena pengetahuan itu bersumber dati fakta yang diperoleh dari panca indra, maka ilmu pengetahuan harus didasarkan pada eksprimen, induksi, dan observasi.
Dalam penelitian kuantitatif yakni diyakini sejumlah asumsi sebagai dasar otologisnya dalam melihat fakta atau gejala asumsi-asumsi yang dimaksud adalah sebagai berikut.
1.objek-objek tertentu mempunyai keserupaan satu sama lain, baik bentuk, struktur, sifat maupun dimensi lainnya.
2.suatu benda atau keadaan tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu.
3.suatu gejala bukan merupakan suatu kejadian yang bersifat kebetulan, melainkan merupakan akibat dari factor-faktor yang mempengaruhinya.
Sejalan dengan penjelasan diatas, secara epistomologi pradigma kuantitatif berpandangan bahwa sumber ilmu terdiri dari dua, yaitu pemikiran rasional san emperis. Karena itu, ukuran kebenaran terletak pada koherensi dan korespondensi. Adapun yang dimaksud dengan kohrensi berarti sesuai dengan teori-teori terdahulu, dan yang dimaksud dengan korespondensi berarti sesuai dengan kenyataan emperis. Kerangkan pengembangan ilmu itu dimulai dengan proses perumusan hipotesis yang dideduksi dari teori, kemudian diuji kebenarannya melalui verifikasi untuk diproses lebih lanjut secara induktif menuju perumusan teori baru. Jadi, secara epistemologis pengembangan ilmu itu berputar mengikuti siklus, logico, hipotetico, dan verifikatif.
Sedangkan penelitian kualitatif adalah suatu model penelitian humanistic, yang menempatkan manusia sebagai subjek utama dalam peristiwa social budaya, jenis penelitian ini berlandaskan pada filsafat fenomenologis dari Edmund Husserl (1859-1928) dan kemudian dikembangkan oleh Max Weber (1864-1920) kedalam sosiologi. Sifat humanis dari aliran pemikiran ini terlihat dari pandangan posisi manusia sebagai penentu utama perilaku individu dan gejala social. Dalam pandangan Weber, tingkah laku manusia yang tampak merupakan konsekuensi dari sejumlah pandangan atau dokrin yang hiduo dikepala manusia pelakunya. Jadi, ada sejumlah pengertian batasan-batasan atau kompleksitas maka makna yang hidup di kepala manusia pelaku, yang membentuk tingkah laku yang terekspresi secara eksplisit.
Didalam aliran kualitatif terdapat sejumlah aliran filsapat yang mendasarinya seperti fenomenologi, interaksionisme simbolik, dan etnometodologi. Harus diakui bahwa aliran-aliran tersebut memiliki perbedaan-perbedaan, namun demikian ada satu benang merah yag mempertemukan mereka yaitu pandangan yang sama tentang hakikat manusia sebagai subjek yang mempunyai kebebas menentukan pilihan atas dasar system makna yang membudaya pada diri masing-masing pelaku.
Bertolak dari posisi diatas, secara ontologis pradika kualitatif berpandangan bahwa fenomena social budaya dan tongkah laku manusia tidak cukup dengan merekam hal-hal yang secara nyata, melainkan juga harus mencermati secara keseluruhan dalam totalitas konteksnya. Sebab tingkah laku (sebagai fakta) tidak dilepaskan atau dipisahkan begitu saja dari setiap konteks yang melatar belakanginya, serta tidak dapat disederhanakan dalam hokum-hukum tunggal yang diterministik dan bebas konteks.
Dalam interaksionisme simbolis, sebagai salah satu rujukan penelitian kualitatif, lebih dipertegas lagi tentang batasan tingkah laku manusia sebagai objek studi. Di sini ditekankan persefektif pandangan sosiodiskologis yang sasaran utamanya adalah individu dengan kepribadian diri pribadi dan pada interaksi antara pendapat intern dan emosi seseorang dengan tingkah laku sosialnya.
Pardigma kualitatif meyakini bahwa dalam masyarakat terdapat keteraturan itu terbentuk secara natural, karena itu tugas peneliti adalah menemukan keteraturan itu bukan menciptakan atau membuat sendiri batasn-batasannya berdasarkan teori yang ada. Atas dasar itu, pada hakikatnya penelitian kualitatif adalah suatu kegiatan sistematis untuk menemukan teroi dari kancah bukan untuk menguji teori atau hipotesis. Karenanya secara epistemologis pradigma kualitatif tetap mengakui fakta emperis sebagai sumber pengetahuan tetapi tidak menggunakan teori yang ada sebagai bahan dasar untuk melakukan ferifikasi.
Dalam penelitian kualitatif proses penelitian merupakan sesuatu yang lebih penting dibandingkan dengan hasil yang diperoleh, karena itu peneliti sebagai instrument pengumpul data merupakan satu prinsip utama hanya dengan keterlibatan peneliti dalam proses pengumpulan datalah hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan.
Khusus dalam proses analisis dan kesimpulan pradigma kualitatif menggunakan indusi analitis (analytic induction) dan ekstra polasi (extra polation).
Induksi analitis adalah satu pendekatan pengolahan data kedalam konsep dan kategori-kategori bukan frekuensi. Jadi symbol-simbol yang digunakan tidak dalam bentuk numeric melainkan dalam bentuk deskripsi yang ditempuh dengan cara mengubah ke formulasi. Sedangkan ekstra polasi adalah suatu cara pengambilan kesimpulan yang dilakukan simultan pada saat proses induksi analitis dan dilakukan secara bertahap dari satu kasus kekasus lainnya. Kemudian dari proses analisis itu dirumuskan suatu pernyataan teoritis.
Selain pemaparan diatas pendekatan kualitatif juga menekankan pada makna, penalaran, definisi suatu situasi tertentu (dalam konteks tertentu) lebih banyak meneliti hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, penggunaan pendekatan kuantitatif membuat peneliti harus mengikuti suatu pola y7ang sesuai dengan karakteristik pendekatan kuantitatif. Implikasi yang terjadi, antara lain pola linear yang terjadi dalam tahap-tahap penelitian, pola linear ini juaga berakibat peneliti juga harus melakukan tahap demi tahap yang ada didalam suatu proses penelitian.
Pendekatan kualitataf lebih lanjut mementingkan pada proses dibandingkan hasil akhir oleh karena itu urutan-urutan kegiatan papat berubah-ubah tergantung pada kondisi dan banyaknya gejala-gejala yang ditemukan. Tujuan penelitian biasanya berkaitan dengan hal-hal yang bersifat praktis.
Pendekatan kuantitatif mementingkan adanya variabel-variabel sebagai objek penelitian dan variabel-variabel tersebut harus didefenisikan dalam bentuk operasionalisasi variabel masing-masing. Reabilitas dan validitas merupakan syarata mutlak yang harus dipenuhi dalam menggunakan pendekatan ini karena kedua elemen tersebut akan menentukan kualitas hasil penelitian dan kemampuan replikasi serta generalisasi penggunaan model penelitian sejenis. Selanjutnya, penelitian kuantitatif memerlukan adanya hipotesa dan pengujiannya yang kemudia akan menentukan tahapan-tahapan berikutnya, seperti penentuan teknik analisa dan formula statistik yang akan digunakan. Juga, pendekatan ini lebih memberika makna dalam hubungannya dengan penafsiran angka statistik bukan makna secara kebahasaan dan kulturalnya.
Hakekat masalah penelitian, bagaimana cara menemukan permasalahan, dan membuat rumusan masalah
1. Hakekat masalah penelitian
Penelitian atau riset adalah terjemahan dari bahasa Inggris research, yang merupakan gabungan dari kata re (kembali) dan to search (mencari). Beberapa sumber lain menyebutkan bahwa research adalah berasal dari bahasa Perancis recherche.Intinya hakekat penelitian adalah “mencari kembali”.
Definisi tentang penelitian yang muncul sekarang ini bermacam-macam, salah satu yang cukup terkenal adalah menurut Webster’s New Collegiate Dictionary yang mengatakan bahwa penelitian adalah “penyidikan atau pemeriksaan bersungguh-sungguh, khususnya investigasi atau eksperimen yang bertujuan menemukan dan menafsirkan fakta, revisi atas teori atau dalil yang telah diterima”.
Dalam buku berjudul Introduction to Research, T. Hillway menambahkan bahwa penelitian adalah “studi yang dilakukan seseorang melalui penyelidikan yang hati-hati dan sempurna terhadap suatu masalah, sehingga diperoleh pemecahan yang tepat terhadap masalah tersebut”. Ilmuwan lain bernama Woody memberikan gambaran bahwa penelitian adalah “metode menemukan kebenaran yang dilakukan dengan critical thinking (berpikir kritis)”.
Penelitian bisa menggunakan metode ilmiah (scientific method) atau non-ilmiah (unscientific method). Tapi kalau kita lihat dari definisi diatas, penelitian banyak bersinggungan dengan pemikiran kritis, rasional, logis (nalar), dan analitis, sehingga akhirnya penggunaan metode ilmiah (scientific method) adalah hal yang jamak dan disepakati umum dalam penelitian. Metode ilmiah juga dinilai lebih bisa diukur, dibuktikan dan dipahami dengan indera manusia. Penelitian yang menggunakan metode ilmiah disebut dengan penelitian ilmiah (scientific research).
1. Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang berguna untuk memperoleh penemuan-penemuan yang tidak terduga sebelumnya dan membangun kerangka teoritis baru. Penelitian kualitatif biasanya mengejar data verbal yang lebih mewakili fenomena dan bukan angka-angka yang penuh prosentaase dan merata yang kurang mewakili keseluruhan fenomena. Dari penelaitian kualitatif tersebut, data yang diperoleh dari lapangan biasanya tidak terstruktur dan relative banyak, sehingga memungkinkan peneliti untuk menata, mengkritis, dan mengklasifikasikan yanglebih menarik melalui penelitian kualitatif. Istilah penelitian kualitatif, awalnya beraasal dari sebuah pengamatan pengamatan kuantitatif yang dipertentangkan dengan pengamatan kualitatif (Suwardi Endraswara, 2006:81).
Menurut Brannen (1997:9-12), secara epistemologis memangada sedikit perbedaan antara penelitian kualitatif dan kuantitatif. Jika penelitian kuantitatif selalu menentukan data dengan variabel-veriabel dan kategori ubahan, penelitian kualitatif justru sebaliknya. Perbedaan penting keduanya, terletak pada pengumpulan data. Tradisi kualitatif, peneliti sebagai instrument pengumpul data, mengikuti asumsi cultural, dan mengikuti data.
Penelitian kualitatif (termasuk penelitian historis dan deskriptif)adalah penelitian yang tidak menggunakan model-model matematik, statistik atau komputer. Proses penelitian dimulai dengan menyusun asumsi dasar dan aturan berpikir yang akan digunakan dalam penelitian. Asumsi dan aturan berpikir tersebut selanjutnya diterapkan secara sistematis dalam pengumpulan dan pengolahan data untuk memberikan penjelasan dan argumentasi. Dalam penelitian kualitatif informasi yang dikumpulkan dan diolah harus tetap obyektif dan tidak dipengaruhi oleh pendapat peneliti sendiri. Penelitian kualitatif banyak diterapkan dalam penelitian historis atau deskriptif. Penelitian kualitatif mencakup berbagai pendekatan yang berbeda satu sama lain tetapi memiliki karakteristik dan tujuan yang sama. Berbagai pendekatan tersebut dapat dikenal melalui berbagai istilah seperti: penelitian kualitatif, penelitian lapangan, penelitian naturalistik, penelitian interpretif, penelitian etnografik, penelitian post positivistic, penelitian fenomenologik, hermeneutic, humanistik dan studi kasus. Metode kualitatif menggunakan beberapa bentuk pengumpulan data seperti transkrip wawancara terbuka, deskripsi observasi, serta analisis dokumen dan artefak lainnya. Data tersebut dianalisis dengan tetap mempertahankan keaslian teks yang memaknainya. Hal ini dilakukan karena tujuan penelitian kualitatif adalah untuk memahami fenomena dari sudut pandang partisipan, konteks sosial dan institusional. Sehingga pendekatan kualitatif umumnya bersifat induktif.
Penelitian kualitatif adalah satu model penelitian humanistik, yang menempatkan manusia sebagai subyek utama dalam peristiwa sosial/budaya. Jenis penelitian ini berlandaskan pada filsafat fenomenologis dari Edmund Husserl (1859-1928) dan kemudian dikembangkan oleh Max Weber (1864-1920) ke dalam sosiologi. Sifat humanis dari aliran pemikiran ini terlihat dari pandangan tentang posisi manusia sebagai penentu utama perilaku individu dan gejala sosial. Dalam pandangan Weber, tingkah laku manusia yang tampak merupakan konsekwensi-konsekwensi dari sejumlah pandangan atau doktrin yang hidup di kepala manusia pelakunya. Jadi, ada sejumlah pengertian, batasan-batasan, atau kompleksitas makna yang hidup di kepala manusia pelaku, yang membentuk tingkah laku yang terkspresi secara eksplisit.
2. Penelitian Kuantitatif
Menurut August Comte (1798-1857) menyatakan bahwa paradigma kuantitatif merupakan satu pendekatan penelitian yang dibangun berdasarkan filsafat positivisme. Positivisme adalah satu aliran filsafat yang menolak unsur metafisik dan teologik dari realitas sosial. Karena penolakannya terhadap unsur metafisis dan teologis, positivisme kadang-kadang dianggap sebagai sebuah varian dari Materialisme (bila yang terakhir ini dikontraskan dengan Idealisme).
Dalam penelitian kuantitatif diyakini, bahwa satu-satunya pengetahuan (knowledge) yang valid adalah ilmu pengetahuan (science), yaitu pengetahuan yang berawal dan didasarkan pada pengalaman (experience) yang tertangkap lewat pancaindera untuk kemudian diolah oleh nalar (reason). Secara epistemologis, dalam penelitian kuantitatif diterima suatu paradigma, bahwa sumber pengetahuan paling utama adalah fakta yang sudah pernah terjadi, dan lebih khusus lagi hal-hal yang dapat ditangkap pancaindera (exposed to sensory experience). Hal ini sekaligus mengindikasikan, bahwa secara ontologis, obyek studi penelitian kuantitatif adalah fenomena dan hubungan-hubungan umum antara fenomena-fenomena (general relations between phenomena). Yang dimaksud dengan fenomena di sini adalah sejalan dengan prinsip sensory experience yang terbatas pada external appearance given in sense perception saja. Karena pengetahuan itu bersumber dari fakta yang diperoleh melalui pancaindera, maka ilmu pengetahuan harus didasarkan pada eksperimen, induksi dan observasi (Edmund Husserl 1859-1926).
Sejalan dengan penjelasan di atas, secara epistemologi, paradigma kuantitatif berpandangan bahwa sumber ilmu itu terdiri dari dua, yaitu pemikiran rasional data empiris. Karena itu, ukuran kebenaran terletak pada koherensi dan korespondensi. Koheren besarti sesuai dengan teori-teori terdahulu, serta korespondens berarti sesuai dengan kenyataan empiris. Kerangka pengembangan ilmu itu dimulai dari proses perumusan hipotesis yang deduksi dari teori, kemudian diuji kebenarannya melalui verifikasi untuk diproses lebih lanjut secara induktif menuju perumusan teori baru. Jadi, secara epistemologis, pengembangan ilmu itu berputar mengikuti siklus; logico, hypothetico, verifikatif.
Tindakan
Tindakan adalah suatu perbuatan yang dilakukan dalam penelitian guna mencapai penelitian yang senpurna. Tindakan ini dimaksudkan agar peneliti mengetahui dengan jelas bahwa ada beberapa ketentuan dalam melakukan tindakan penelitian. Seperti halnya penelitian kualitatif dan kuantitatif, tindakan termasuk aspek yang perlu dikaji oleh seorang peneliti. Tindakan merupakan salah satu ketentuan dalam penelitian.
2. Bagaimana cara menemukan permasalahan.
Pada umumnya guru kurang atau belum menyadari bahwa apa yang dihadapi adalah masalah, dan tidak mempermasalahkan. Biasanya sesuatu baru dianggap sebagai masalah jika guru telah merasa kewalahan, tidak berdaya dan tidak mampu menghadapi sendiri. Maka cara yang dapat dilakukan guru
1. Menuliskan semua hal yang dirasakan memerlukan perhatian, kepedulian karena akan mempunyai dampak yang tidak diharapkan terjadi, terutama terkait dengan pembelajaran; seperti intensitas waktu pembelajaran, penyampaian, daya tangkap dan serap siswa, alat/ media pembelajaran, manajemen kelas, motivasi, sikap dan nilai perilaku siswa, dan lain-lain.
2. Kemudian dipilahkan dan diklasifikasikan menurut jenis/ bidang permasalahannya, jumlah siswa yang mengalami, dan tingkat frekuensi timbul.
3. Urutkan dari yang ringan, jarang terjadi, banyaknya siswa mengalami dan masing-masing jenis permasalahannya.
4. Dari setiap urutan ambillah 3-5 masalah dan coba dikonfirmasikan kepada guru yang mengajar mata pelajaran sejenis, baik di dalam sekolah sendiri atau guru di sekolah lain.
5. Jika apa yang dirumuskan ternyata mendapat konfirmasi, maka masalah tersebut memang merupakan masalah yang patut untuk diangkat sebagai calon masalah.
6. Masalah yang telah dikonfirmasi tersebut kemudian dikaji kelayakan dan signifikansiniya untuk dipilih.
7. Pilihlah fokus permasalahan yang terbatas. yang berukuran kecil, yang dapat dicari solusinya dalam waktu singkat yang tersedia untuk melakukan penelitian tindakan.
8. Pilihlah fokus permasalahan yang penting untuk diselesaikan bagi kepentingan guru/dosen dan siswa/mahasiswa, dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari di kelas/ruang kuliah.
9. Bekerjalah secara kolaboratif bersama mitra sejawat dalam penelitian ini, tanyalah apakah dia juga pernah menghadapi permasalahan yang semacam dengan masalah yang dihadapi guru/dosen.
10. Sebaiknya fokus permasalahan yang dipilih relevan dengan tujuan dan rencana perkembangan sekolah atau fakultas secara keseluruhan.
3. Bagaimana membuat rumusan masalah.
Dalam memformulasikan atau merumuskan masalah, kiranya peneliti perlu memperhatikan beberapa ketentuan yang biasanya berlaku yaitu dengan memperhatikan:
1. aspek substansi;
2. aspek formulasi; dan
3. aspek teknis.
Dari sisi aspek substansi atau isi yang terkandung, perlu dilihat dari bobot atau nilai kegunaan manfaat pemecahan masalah melalui tindakan seperti nilai aplikatifnya untuk memecahkan masalah serupa/mirip yang dihadapi guru, kegunaan metodologik dengan diketemukannya model tindakan dan prosedurnya, serta kegunaan teoritik dalam memperkaya atau mengoreksi teori pembelajaran yang berlaku. Sedang dari sisi orisinalitas, apakah pemecahan dengan model tindakan itu merupakan suatu hal baru yang belum pernah dilakukan guru sebelumnya. Jika sudah pernah berarti hanya merupakan pengulangan atau replikasi saja.
Pada aspek formulasi, seyogyanya masalah dirumuskan dalam bentuk kalimat interogatif (pertanyaan), meskipun tidak dilarang dirumuskan dalam bentuk deklaratif (pernyataan). Hendaknya dalam rumusan masalah tidak terkandung masalah dalam masalah, tetapi lugas menyatakan secara eksplisit dan spesifik tentang apa yang dipermasalahkan.
Dan aspek teknis, menyangkut kemampuan dan kelayakan peneliti untuk melakukan penelitian terhadap masalah yang dipilih. Pertimbangan yang dapat diajukan seperti kemampuan teoritik dan metodologik pembelajaran, penguasaan materi ajar, kemampuan metodologi penelitian tindakan, kemampuan fasilitas untuk melakukan penelitian seperti dana, waktu, tenaga, dan perhatian terhadap masalah yang akan dipecahkan. Oleh karena itu, disarankan untuk berangkat dari permasalahan sederhana tetapi bermakna, guru dapat melakukan di kelasnya dan tidak memerlukan biaya, waktu, dan tenaga yang besar.
Analisis Masalah
Yang dimaksud dengan analisis masalah di sini ialah kajian terhadap permasalahan dilihat dan segi kelayakannya. Sebagai acuan dapat diajukan beberapa hal berikut.
1. konteks, situasi atau iklim di mana masalah terjadi
2. kondisi-kondisi prasyarat untuk terjadinya masalah
3. keterlibatan komponen, aktor dalam terjadinya masalah
4. kemungkin adanya alternatif solusi yang dapat diajukan
5. ketepatan dan lama waktu yang diperlukan untuk pemecahan masalah
Analisis masalah tersebut dipergunakan untuk merancang rencana tindakan baik dalam menentukan spesifikasi/jenis tindakan, keterlibatan aktor yang berkolaborasi (berperan), waktu dalam satu siklus, identifikasi indikator perubahan peningkatan dan dampak tindakan, cara pemantauan kemajuan, dan lain-lain. Formulasi alternatif solusi yang dirumuskan dalam bentuk hipotesis tindakan hanya mungkin dapat dilakukan jika analisis masalah dapat dilakukan dengan balk.
Langganan:
Postingan (Atom)

