Tampilkan postingan dengan label Fisiologi Hewan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fisiologi Hewan. Tampilkan semua postingan

Maret 28, 2012

Rangkuman Sistem Endokrin

Rangkuman Sistem Endokrin • Sistem endokrin lebih dikenal dengan system neuroendokrin yang berkerja sama untuk menyelenggarakan fungsi kendali dan koordinasi pada tubuh hewan .Seperti fungsi fisiologi tubuh antara lain aktivitas metabolism,,pertumbuhan ,reproduksi,regulasi osmotic, dan regulasi ionic. Fungsi endokrim secara umum • Sistem endokrim system kelenjar buntu, yaitu kelenjar yang tidak mempunyai saluran khusus untuk mengeluarkan sekretnya (hormon). Sekret iniberperan penting untuk mengatur altivitas dalam tubuh hewan , Aktivitas berupa pertumbuhan ,reproduksi,osmoregulasi,pencernaan,dan intergrasi serta koordinasi tubuh. Pencernaa dan fungsi metabolic yang terkait • Sekretin,gastrin,insulin,glucagon,noradrenalin,tiroksindan hormone dari konteks adrenalin Osmoregulasi, pengeluaran ,dan metabolism air serta garam • Prolaktin,vasopressin,aldosteron Metabolisme kalsium • Hormone partiroid,kalsitonin Pertumbuhan dan perubahan morfologis • Hormone pertumbuhan,androgen dari konteks adrenal • Tiroksin (untuk metamorphosis amfibi) • MHS (perubahan warna amfibi) Organ dan proses reproduksi • FSH, LH,estrogen,progesterone,prolaktin,testosterone • Sistem indokrin didalam tubuh sellu bekerja sama dengan system saraf, tapi dalam mengendalikan aktivitas tubuh dari sitem saraf. Perbedaan tersebut adalah : 1. Dibandingkan dengan sisten saraf system endokrin lebih banyak bekerja melalui transmisi kimia 2. Sistem endokrin memperlihatkan waktu respon lebih lambat dari pada system saraf. Pada system saraf potensial aksi lebih bekerja sempurna dalam hanya waktu 1-5milidetik,tetepi kerja indokrin melalui hormone baru akan sempurna dalam waktu yang sangat bervareasi, berkisar antara beberapa menit higga beberapa jam. Hormon adrenalin hanya bekerja dalam waktuyang singkat ,namun hormone pertumbuhan bekerja dalam waktu yang sangat lama • Organ sasaran endokrin adalah organ yang memiliki reseptor khusus untuk hormone yang sesuai dan merupakan tempat yang tepat bagi hormone untuk memperlihtakan efek hayatinya. • Contoh yang baik untuk hormone ini adalah histamine, yang bekerjauntuk mengontrol sekresi asam pada lambung vertebrata,misalnya pada sapi. Apabil rangsang mempengarui sel master (mast cell) dan sel parietal pada lambung.sele-sel tersebut akan mengeluarkan histamine,yang selanjutnya akan merangsang pengeluaran asam lambung . • Kadang-kadang senyawa kimia yang di keluarkan oleh suatu sel akan mempengaruisel itu sendiri. Peristiwa ini dikenla dengan istilah control/kendali autokrin. • Contoh : ialah prostraglandin danfaktor pertumbuhan mirip insulin,adanya system kendali neuroendokrin ,parakrin,autokrin sudah tentu akan mengaburkan definisi dan konsep mengenai cara kerja endokrin dan hormone. Sel penyusu endokrin dibedakan menjadi dua 1. Sel neurosekretori,adalah sel yang berbentuk seperti saraf,tetapi berfungsi sebagai penghasil hormone, contoh : sel sraf pada hipotalamus memperlihatkan fungsi endokrin. 2. Selendokrin sejati, adalahsel endokrin yan bener-bener berfungsi sebagi penghasil hormone, tidakmemiliki bentuk seperti sel saraf. Kelenjar endokrin sejatim melepaskan hormon yang dihasilkan secara langsung kedalamdarah, ini ditemukan pada hewan yng mempunyai silkulasi baik vertebrata maupun intevertebrata . Invertebrata yang sering menjadi objek system endokrin yaitu insekta,krustasea,cephalopoda, dan molusca. • Sel neurosekretori yang terdapat dihipotalamus akan melepaskan hormon (neurohormon) yang dihasilkan ke sirkulasi darah dan selanjutnya dibawa ke selsasaran . Organeurohemal adalah organ yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara dan pelepasan hormon yang dihasilkan oleh sel neurosekretori. Klasifikasi, Fungsi,dan Sifat Hormon Berdasarkan hakikat kimianya,hormone dapat diklasifikasikan menjadi tiga Peptida • Hormon hipotalamus,agiotensin,somatotestatin,gastrin,sekretin,glucagon,kalsitonin,insulin,paratormon Protein • Hormon pertumbahan, prolaktin, LH,FSH,TSH Steroid • Testosteron,estrogen,progesterone,kortikosteroid,vitamin D3 Turunan terosin • Katekolamin,nor adrenalin,adrenalin,hormone teroid • Zatkimiayangmenyerupaihormoneantaralain,bradikinin,eritropuitin,histamine,kinin,rennin,prostaglandin, dan hormon thymic. Hormon thymic adalah hormone dari kelenjar timus yang berperan dan memepengaruhi perkembangan sel limfosit B menjadi sel plasma yaitu sel penghasil antibody. Bradikinin dihasilkan oleh kelenjar yang sedang aktif, contoh kelenjar keringat,kelenjar ludah pada saat aktif sehingga menjadi lebih banyak hal ini mengakibatkan untuk meningkatakan jumlah oksigen yang diangkut oleh darah. • Feronom adalah suatu senyawa kimia yang dilepaskan oleh hewan kelingkunganya dan dapat menimbulkan respon perilaku,respon perkembangan,respon produktif. Manfaat senyawa kimia tersebut yaitu untuk memberikan daya tarikseksual,menandai daerah kekeuasaanya,mengenali individu yang lain dalam spesies yang sama dan berperan penting dalam sinkronisasi siklus seksual. Sifat umum yang diperlihatkan hormone 1. Hormon polipeptida biasanya disentesis dalam bentuk precursor yang belum aktif 2. Yang mana hormone bias berfungsi dalam konsentrasi yang sangat rendah dan sebagai hormone yang berumur pendek. 3. Padas el sasaran hormon akan berikatan dengan reseptornya. 4. Hormon kadang-kadang memberikan pesan kedua Mekanisme Kerja Hormon • Suatu hormon harus berinteraksi dengan sel sasaran melalui reseptor khusus bagi hormone tersebut disebut reseptor hormon. Reseptor hormon pada sel sasaran berupa molekul protein besar dengan bentuk tiga dimensi yang unik. Reseptor hanya berikatan dengan analognya,atau mempunyai gugus fungsi yang mirip dengan gugus fungsional hormon. • Mengapa hormon yang ada silkulasi darah hanya memengaruhi sel-sel tertentu saja, walaupun hormon tersebut beredar di seluruh cairan tubuh.? • Kita ketahui kekhususan hormon dari kenyataan bahwa suatu jenis hormon dapat memengaruhi sel tertentu. Dan kemampuan suatu hormon mempengaruhi sel sasaran ditntukan oleh keberadaan reseptor khusus,dan kalu tidak mempunyai reseptor kusus jenis hormon maka suatu sel tidak akan tanggap terhadap hormone yang dimaksud, sekalipun hormon itu ada didekatnya. Reseptor Hormon Pada Membran • Reseptor ini terlatak pada membrane dan sitoplasma, kalu pada membrane biasanya reseptor untuk protein dan peptide. Hormon klau udah tepat sasaran maka akan segera membentuk suatu ikatan . Pada gambar (5.3) rinkasan peristiwa yang terjadi dalam sel setelah hormone berkombinasi dengan reseptornya pada membrane(Kay,1998) Tangapan hayati seperti apakah yang akan terjadi pada sel tersebut? • Bahwa fosfolisasi akan dapat merubah protein inaktif menjadi aktif dan mengubah komponen protein seandainya yang berubah protein penyusun maka pintu untuk ion ,keadaan akan berubah, misalnya dri keadaan tertutup menjadi keadaan terbuka. Pintu ion yang terbuka adalah pintu ion Ca2+, ion Ca2+ akan dapat melewati membrane . Ion Ca2+ yang melewati membrane tersebut akan bergerak dari luar dalam sel , jadi tangapan hayati yang timbul adalah peningkatan konsentrasi kalsium didalam sel , dan apabila terjadi di membran presinaps maka akan terjadi pengeluaran sejumlah neuro transmitter ke celah sinaps. Contonya: 1. Perubahan aktivitas enzim, perubahan ini memungkinkan proses metabolisme tertentu dapat terselngara atau berhenti. 2. Peningkatan mekanisme transport aktif 3. Aktivitas pembentukan mikrotubulus 4. Pengubahan aktivitas metabolisme DNA Reseptor hormone pada sitoplasma (Reseptor Sitosolik) • Reseptor sitosolik adalah hormone steroid dan hormone turunan asam amino. Dan hormone ini sangat mudah larut dalam lipid sehinga mudah melewati membrane sel sasaran. Didalam sel sasaran hormone hormone berkombinasi dengan reseptor khusus sehingga menghasilkan kompleks hormone reseptor yang aktif. • Dalam peredaran darah hormone selalu berikatan dengan pengembanya. Dalam sitoplasma sel sasaran,hormone berkombinasi dengan reseptor khusus sehingga menghasilkan kompleks. Kopleks tersebut mempunyai daya gabung (afinitas) yang snagat tinggi terhadap DNA, dan berkombinasi dengan DNA ,inilah awal trjadinya transkipsi DNA. Sistem Endokrim Pada Invertebrata • Sel neureseptor merupakan sumber hormon utama pada invertebrate, dijumpai pada hewan semua metazoan (hewan bersel banyak) Antara Lain Koelenterata • Contoh Hidra, Hidra mempunyai sejumlah sel yang mampu menghasilkan senyawa kimia yang berperan dalam proses reproduksi,pertumbuhan dan regenerasi, dan apabila kepala hydra dipotong sisa tubuhnya akan mengeluarkan molekul peptide yang disebut activator kepala, zat ini bisa menyebabkan sisa tubuh hydra dapat membentuk mulut dan tentakel dan selanjutnya membentuk daerah kepala. Platiherminthes • Hewan ini dapat menghasilkan hormone yang berperan dalam regenerasi, yaitu dalam regulasi osmotic dan ionic dan proses reproduksi. Nematoda • Hewan yang menganti kulit (molting) hingga empat kali dalam siklus hidupnya.Hewan ini punya struktur khusus untuk sekresi neurohorman , yang berkaitan erat dengan system saraf Annelida • Otak hewan yang mempunyai sejumlah besar sel saraf yang berfungsi sebagi sel sekretori, contoh yang baik adalah cacing polisekta dewasa yang dikenal dengan istilah epitoki. Epitoki adalah perubahan sejumlah ruas tubuh menjadi struktur reproduktif.Epitoki dikendalikan oleh system neuroendokrim. Moluska • Sejumlah besar moluska mempunyai neuroendokrin yang terletak pada sel saraf pusat, dan berperan dalm proses osmoregulasi,pertumbuhan dan reproduksi. • Bersifat hermaprodit (gamet jantan dan betina terdapat dalam satu tubuh. Dan bersifat protandri yang mana sel gamet jantan terbentuk dahulu dari pada gamet betina • Pada cphalopoda, hewan yang tidak bersifat hermaprodit, proses reproduksi dikendalikan oleh endokrin Krustasea • Punya endokrin klasik,fungsi tubuh yang dikendalikan oleh system endokrin antara lain osmoregulasi,denyut jantung ,komposisi darah,pertumbuhan dan pergantian kulit. Organ neuroendokrin krustasea terdapat padatiga daerah utama, yaitu sebagai berikut : 1. Kompleks kelenjar sinus, dan kadang disebut sinus – organ X, karena menerima akson sel neuroendokrin dari ganglion kepala dan lobus optic pada tangkai mata. 2. Organ post-komisural, menerima dari otak kemudian berakhir pada awal esofogus. 3. Organ pericardial. Yang terletak dekat jantung dan menerima akson dari gangion toraks. • Krustasea mempunyai sel endokrin klasik, yatu organ Y dan kelenjar mandibula. • Salah stu proses krustasea dikendalikan oleh system endokrim adalah pada perubahan warna kulit yang mana dipengaruhi oleh pigmen yang terdapat kromatofor yang tedapat di sel luar tubuh,tetapi juga terletak pada organ yang lebih dalam , fungsi kromatofor dapt diubah oleh sejumlah hormone. Insekta • Dalam insekta system saraf terdapat tiga kelompok sel neuroendokrin yang utama 1. Sel neurosekretori,medialis memiliki akson yang membentang hingga ke corpora kardiaka, adalah sepasang organ yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan dan pelepasan neurohormon. 2. Sel neurosekretori lateralis, akson yang membentang 3. Sel neurosekretori subesofageal, yang terdapat pada bagian kerongkongan dan membentang ke corpora alata, dan merupakan endokrin klasik • Orngan endokrin klasik pada insekta adalah kelenjar protoraks,terdapat didaerah troaks namun pada insekta kurng berkembang dapat ditemukan pada bagian kepala,,yang man berfungsi sebagai aktivitas pertumbuhan. • Proses pengelupasan kulit insekta berlangsung dibawah kendali hormone 1. Kultikula tua dilepaskan dan sejumlah kultikula baru diperbanyak melalui proses mitosis 2. Kultikula baru yangmasi lunak mulai terbentuk ,sementara kultikul lama dicerna dan diserap oleh sel epidermal. 3. Tubuh insekta yang baru muncul dari kultikula lama , yang disebut ekdisisproses pengelupasanatau berganti kulit. 4. Kultikula baru yang terbentuk akan mengeras. • Kelompok neurosekretori medialis menghasilkan protorasikotropik (PTTH), (PTTH) akan merangsang kelenjar protoraks untuk melepaskan hormone edikson , hormone edikson adalah hormone yang menyebabkan terlupasnya kulit insekta, dan hormone juvenile,sebagai yang bertanggung jawab mengendalikan metamorphosis insekta. Sistem Endokrin pada Vertebrata Pada vertebrata dibedakan menjadi tiga kelompok • Hipotamus atau pituitary Ini merupakan organ endokrin pusat,yang terletak dibawah thalamus dan berperan dalam mempertemukan system saraf dan endokrin. Talamus merupakan kumpulan sel saraf yang terlatak dibagian tengah otak vertebrata,dan berfungsi mengendalikan kelenjar endokrin, sehingga hipotalamus disebut kelenjar nduk (master of gland) Hormon hipotalamus dilepskn ke pitiutari,ada dua ke pituitari depan (adhenohipofisis),dan hormone yang dilepskan ke pituitary belakang adalah (neurohipofisis) Hormon yang dilepaskan ke pitiutari belakang mengalir melalui akso plasma yang membentang dari hipotalamus hingga ke bagian yang disebut neuroendokinal sebab pada daerah ini banyak ditemukan juluran saraf Hipotalamus yang dilepas di pitiutari belakang ialah vasopressin atau hormone antidiuretik (ADH) danoksitosin. ADH sangat penting untuk mengendalikan penyerapan air disaluran ginjal, sedangkan oksitosin berperan merangsang kontraksi otot polos pada dinding rahim dan kelenjar susu Hormon yang paling penting oleh hipotalamus adalah hormone pelepas (releasing hormone RH) dan hormone penghambat (release inhibiting hormon RIH). Dri hipotalamus RH,RIH dibawaoleh darah ke pituitari depan, yang disebut adenohipofisis. Organ Indokrin Tepi • Organ indokrin tepi adalah semua organ endokrin diluar hipotalamus dan pituitary. • Di dalam jantung menghasilkan hormone atrial natureticp peptide (ANP), yang berkaitan erat dengan pengaturan ion di ginjal .Hampir semua aktivitas dipengarui oleh hormon • Sebagai contoh hipokalsemia akan meningkatkan kepekaan saraf beberapakli lipat menimbulkan kejang otot. Organ Hormon Fungsi hormon Paratiroid Parathormon Meningkatkan kadar kalsium darah Tiroid Kalsitonin Menurunkan kadar kalsium darah Tiroksin Meningkatkan metabolisme sel dan berpaeran penting dalam pertumbuhan serta pemasakan sel (tubuh), secara normal. Lambung gastrin Mengatur sekresi asam lambung Medula drenal Adrenalin Respons sgera terhadap stes, meningkatnya jadar gula darah dan curah jantung. Konteks Adrenal Glukorkotikoid menerakorkotikoid Regulasi metabolisme Mengatur kadar elektrolit Ovarium Testis Estrogen Progesterone Androgen Menginisiasi proliferasi endometrium Mempertahankan ketebalan endometrium Mempertahankan pembentukan sperma Dan terlibat dalam perkembangan cirri seks skunder • Hormon insulin dihasilkan oleh sel-sel pangkreas dan sangat penting untuk menurunkan kadar gula dalam darah , dan juga meningkatkan aktivitas enzim glukoginase. • Kekurangan insulin dalam tubuh akan menurunkan katabolisme glukosa serta menurunkan sintesis dan penyimpana glikogen , akibatnya gula dalam darah meningkat. • Peningkatan kadar gula disebabkan oleh adanya hormone glukagen ,epinefrin,adrenokortrikotopik(ACTH) dan glukortikoid. Glukago dihasilkan oleh sel alfa pada pangkreas , sedangkan epinefrin merupakn hormon dari medula adrenal, pelepasan dari kedua hormon ini sering dipacu oleh adanya stes fisik maupun psikis seseorang • Glukagen menyebabkan peningkatan aktivitas enzim fosforilase, yaitu enzim yang mempercepat pemecahan glikogen dihati. Akhirnya meningkatnya pemecahan glikogen dan menghasilkan banyak glukosa ,akibatnya kadar glukosa dalam darah meningkat. • Epinefrin punya car kerja yang sama seperti glucagon, • Hormon yang lain juga mempengaruhi kadar gula dalam darah, yaitu hormone pertumbuhan(GH) , hormone pemacu tiroid (TSH), GH menyebabkan peningkatan kadar gula dalam darah , dan kalau TSH memiliki pengaruh yang kompleks. • Peningkatan kadar gula juga dapat timbul dalam kondisi stes, yang mana dalam kondisi stress manusia dan hewan mengalami perubahan dalam kondisi fisiologi yang sering kali merugikan individu. Atau bias menyebabkan manusia atau hewan jadi sanggat kuat, dan sebaliknya.

SISTEM HORMON PADA SERANGGA

SISTEM HORMON PADA SERANGGA HORMON-HORMON PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN Pada mulanya studi tentang hormon hanya dilakukan pada vertebrata. Ada anggapan bahwa serangga tidak menghasilkan hormon dalam kehidupannya. Dilakukan pula studi-studi ekstirpasi, memotong bagian tubuh yang dicurigai sebagai sumber hormon dan dilihat akibatnya, atau kemudian mencangkokkannya ke hewan lain yang tidak memiliki organ serupa (transplantasi). Kedua teknik ini, ketika dilakukan pada serangga, tidak menghasilkan apa-apa. Sebab utamanya (pada saat itu tidak/kurang disadari) adalah asal bahan uji dari mammalia/vertebrata, karena anggapan salah bahwa hormon hanya dihasilkan oleh vertebrata. Pendekatan lain digunakan oleh Stefan Kanfer (Polandia), yang menggunakan ulat Lymantria dispar. Pertanyaan hipotetisnya adalah: apa yang menyebabkan larva berubah menjadi pupa? Adakah bahan kimia yang mengatur pertumbuhan demikian? Dia menganggap bahwa otak serangga pastilah memiliki peran penting dalam hal ini. Digunakan teknik-teknik ekstirpasi dengan sham-operation, membuka bagian kepala, ambil otaknya dan ditutup lagi. Juga teknik ligasi, dengan mengikat tubuh pada bagian tertentu erat-erat, sehingga tidak ada hubungan antara bagian anterior dan posterior. Teknik-teknik ini ternyata inkonklusif. Kenyataan yang pada saat itu tidak disadari adalah bahwa hormon dilepasakan hanya pada saat-saat tertentu saja, tidak sepanjang waktu. Ada saat yang disebut sebagai critical period, dan pengertian-pengertian precritical dan post-critical, atau perioda pra dan pasca kritis. Pada ekstirpasi dan ligasi, hasilnya adalah: Larva instar 5 umur 7 hari umur 10 hari Ekstirpasi tidak terjadi pupa ada pupa Ligasi hanya bagian dekat kepala yang jadi pupa semua bagian jadi pupa Mengkonfirmasikan bahwa studi hormon haruslah memperhatikan saat yang tepat/adanya perioda kritis tersebut. Uji konfirmasi hormon sendiri kemudian diikuti dengan teknik transfusi, menyuntikkan darah serangga yang telah mengalami perioda pasca kritis kepada serangga dalam kondisi prakritis. Selain itu juga dengan mencari kemungkinan lain: apakah bukan hanya impuls syaraf saja ? Ketika korda syaraf dipotong, Ini ternyata pupasi masih terjadi. berarti yang mendorong terjadinya pupasi adalah sesuatu yang terkandung dalam darah. Studi-studi selanjutnya dilakukan oleh Gotfried Fraenckel (Jerman) dan Vincent B. Wigglesworth (Inggris) pada tahun 1934. Sampai saat ini VBW dianggap sebagai bapak Fisiologi Serangga. Wigglesworth menggunakan kepik Rhodnius prolixus (Hemiptera) karena mudah dipelihara dan mudah dimanipulasi, sedang Fraenckel menggunakan genus-genus Calliphora, Sarcophaga dan Phormia, lalat dari subordo Cyclorrapha, ordo Diptera. Teknik yang dipergunakan oleh VBW adalah parabiosis, dengan asumsi hormon adalah substansi yang dibawa oleh darah, dan telah diketahui adanya konsepsi tentang perioda prakritis. Parabiosis dilakukan dengan memotong suatu serangga, menghilangkan bagian yang dicurigai mengandung kelenjar endokrin, kemudian dipasangkan pada serangga lain yang masih memiliki kelenjar tersebut (gambar 48.0 hand-out bhs. Inggris). Untuk mengetahui waktu kritis, dilakukan ekstirpasi kepala, kemudian serangga dikumpulkan sesuai dengan usia/waktunya sesudah makan. Eksperimen VWB dengan menyambungkan serangga instar 5 usia sehari dengan instar 5 usia delapan hari ternyata menghasilkan 50:50, artinya 50% mengalami molting, 50% lagi tidak. Ini dapat dipahami karena hormon diproduksi dalam jumlah terbatas. Juga kemudian terjadi pengenceran (ada dilution factor) yang mengakibatkan titer (konsentrasi) hormon belum mencapai ambang tertentu sehingga tidak menginduksi molting. Karena itu dilakukan parabiosis terhadap lebih dari dua individu (lihat gambar 6.12). Kemudian dilakukan juga gabungan antara dua individu instar 4 dengan satu dewasa. Yang terjadi serangga dewasa mengalami pertumbuhan mundur (regressi) sehingga menyerupai bentuk muda. Ini disebabkan karena titer hormon pada instar 4 lebih tinggi daripada instar 5 (akhir), yang memang sudah mendekati nol. Kombinasi-kombinasi yang lain adalah: Dari penelitian VBW ini dapat disimpulkan bahwa dari otak terdapat bahan/hormon yang menginduksi molting, dan kemudian diketahui pula bahwa ada hormon lain yang menyertai proses molting itu, yang kemudian disebut sebagai juvenile hormone. Sementara itu Fraenckel (GF) melakukan penelitian dengan menggunakan puparium berdasarkan pengertian bahwa integumen larva instar terakhir akan menjadi covering atau penutup pupa yang berbentuk seperti tong kecil (barrel shaped). Pada saat itu konsep perioda kritis juga sudah diketahui. Sementara itu untuk mendapatkan pupa bentuk tong, diperlukan korda syaraf yang masih utuh, tidak terpotong. Oleh karena itu untuk larva lalat ini tidak dapat dilakukan teknik-teknik ekstirpasi dan mitigasi. Dilakukan kemudian ligasi (pengikatan), dan kemudian ke bagian posterior disuntikkan hormon yang telah diekstraksi. Prosedur ini kemudian dikenal sebagai bioesei Calliphora (Calliphoran bioassay), meski dalam perkembangannya larva Sarcophaga dan Phormiajuga dipergunakan (larva Musca lebih banyak digunakan untuk bioassay toksikologi). Bioesei Calliphora selanjutnya merupakan uji yang umum dipergunakan untuk mencek suatu substansi apakah memiliki kemampuan hormonal atau tidak. Satu-satunya kekurangannya adalah bahwa uji ini sangat tergantung pada jumlah bahan yang dicek. Cara penentuan konsentrasinya haruslah tepat dan meliput sampai tingkat yang diskriminatif. Apabila hormonnya dapat diidentifikasi dengan baik, selanjutnya digunakan jumlah bahan dalam konsentrasi pasti. Namun untuk mengetahui jumlah hormon yang dibutuhkan dari satu individu ke individu yang lain amat sulit dilakukan. GF sendiri tidak tahu apa yang disebut hormon, dia menyebutnya sebagai "blood factor", suatu faktor dalam darah yang mendorong terjadinya pupasi, berasal dari otak. Pada kurun yang hampir sama, Fukuda dari Jepang mempelajarihal yang sama dengan menggunakan ulat sutera Bombyx mori, mencoba mencari faktor pendorong terjadinya molting dengan teknik ligasi dan ekstirpasi terhadap otak dan juga daerah kelenjar protoraks.Ternyata pupasi tidak terjadi. Namun Fukuda tidak mengetahui hubungan antara otak dengan kelenjar protoraks. Dilakukan pula transplantasi kelenjar protoraks ke abdomen yang tak memiliki kelenjar ini lagi. Hasilnya ternyata banyak yang negatif, hanya karena dia tak mengetahui adanya hubungan antara otak dengan PTG (kelenjar protoraks, prothoracic gland). Ecdyson, hormon molting Peneliti yang lain, Carroll Williams, tahun 1940an, menggunakan larva ngengat Saturniidae (Hyalophora cecropia dan Antherya pernyii). Penelitiannya menghasilkan hormon yang akhirnya teridentifikasi secara lengkap (ecdyson, suatu hormon molting). Temuan juga menunjukkan hubungan antara perubahan suhu dengan kondisi otak yang selanjutnya akan muncul dalam ujud diapause saat pupa, atau akan terus berkembang sehingga stadium pupa tidak mengalami diapause (Diapause Obligat, dan Diapause Fakultatif). [Untuk struktur dan jenis ecdyson selanjutnya dapat dilihat pada hand out bhs. Inggris, demikian juga dengan biosintesisnya]. Yang perlu dicatat adalah, karena ecdyson adalah suatu sterol, yang biosintesisnya berasal dari kholesterol, maka dibutuhkan makanan yang cukup mengandung kholesterol supaya serangga dapat memiliki cukup ecdyson. Sementara itu pada tumbuhan sendiri dijumpai bentukan lanjut sterol yang sangat mirip ecdyson dan disebut sebagai "phytoecdyson". Bahan ini bekerjanya tidak spesifik, karena ternyata dapat digunakan oleh banyak jenis artropoda. Hormon yuwana, Juvenile Hormone (JH) Hormon lain yang juga teridentifikasi dari berbagai percobaan dalam mencari faktor molting adalah JH (hormon yuwana, juvenile hormone). Hormon ini dijumpai hampir pada semua artropoda dan krustasea. JH dipergunakan untuk mempertahankan stadium muda, sehingga apabila dalam suatu instar pradewasa dijumpai titer JH yang sangat rendah, artinya stadium larvanya menjelang selesai. Lebih lengkapnya pada bab Hubungan antara Ecdyson dan JH dalam pengaturan metamorfose. JH merupakan suatu senyawa steroid dengan gugus epoksida disalah satu ujungnya. Dikenal beberapa bentuk/macam JH, misalnya JH diol, hidro JH, metil JH, iso JH dll. Ini disebabkan karena beberapa ujung merupakan gugus yang reaktif, sehingga dalam lingkungan berbeda akan mengikat senyawa lain yang berbeda pula. Sementara itu, meski pada akhir instar pradewasa JH bisa nol sama sekali, tetapi pada stadium dewasa, JH juga kembali disintesis, dan digunakan untuk memberi tanda pada badan lemak bahwa saatnya telah tiba untuk menyusun vitellogenin, suatu senyawa kimia yang merupakan penanda dimulainya proses pemasakan telur, misalnya seperti yang dijumpai pada nyamuk. Bioassay JH dilakukan antara lain dengan teknik RIA atau Radioimmunoassay, menggunakan vertebrata seperti misalnya tikus, ayam atau kelinci. Hewan-hewan tersebut disuntik dengan ekstrak JH dalam bentuk preparasi yang sesuai, maka akan terbentuklah antibody dalam tubuh hewan percobaan (donor antibodi). Antibodi ini spesifik untuk JH (antibodi anti JH), kemudian diisolasi. Anti JH ini dapat diberi label dengan isotop, kemudian digunakan untuk assay dalam hemolimfa serangga. Perhitungannya adalah dengan menghitung nisbah antara antibodi berlabel yang masih bebas dengan antibodi yang sudah mengikat JH, dengan menggunakan alat LSC (Liquid Scintillation Counter), [JH] dapat dihitung. Cara kedua adalah dengan menggunakan HPLC (high pressureliquid chromatography). JH yang ada dalam hemolimf di ekstrak dengan pelarut organik (heksan-eter). Fase organiknya lalu dipartisi cair/cair (karena JH adalah lipid--steroid--, maka akan terlarut pada fasa organik). Setelah pemurnian lewat partisi kemudian disuntikkan ke HPLC. Keunggulan cara ini adalah bahwa sampel ekstrak masih tetap utuh karena tidak diuapkan (berbeda dengan GLC yang menggunakan sampel fase gas). Hubungan antara Ecdyson dan JH dalam mengatur metamorfose. Pengaturan proses metamorfose merupakan mekanisme hormonal yang cukup rumit dan melibatkan beberapa organ secara serentak. Pada mulanya, apabila saat ganti kulit tiba, maka korpora kardiaka pada otak mengeluarkan suatu hormon tropik (hormon yang mengawali keluarnya hormon lain) ke protoraks, sehingga hormonnya disebut hormon protorakotropik. Oleh adanya HPTT (PTTH, prothoracotropic hormone) ini, maka kelenjar protoraks akan mengeluarkan hormon à-ecdyson, karena aktivasi utusan kedua ("second messenger") AMP siklik (cAMP) yang menyebabkan dilepaskannya hormon. à-ecdyson ini kemudian akan mengaktivasi á-ecdyson, dan selanjutnya á-ecdyson menuju ke suatu reseptor protein yang berada pada integumen, dan kemudian terikat ("bound") pada reseptor tersebut. Ikatan ini menandai dimulainya sintesis protein untuk menyusun kutikula baru dan pada prosesnya menyebabkan kutikula baru dan lama saling terpisah (apolisis). Pada waktu yang bersamaan dengan aktivasi oleh HPTT, korpora alata yang terdapat di perbatasan antara protoraks dan otak juga mulai mengeluarkan hormon yuwana (JH). Titer JH ini menentukan jenis kutikula apa yang akan disusun oleh bagian integumen. Apabila titer JH masih cukup tinggi, yang dibentuk adalah kutikula instar berikutnya. Ekskresi JH dari satu instar ke instar berikutnya makin rendah, dan pada batas titer tertentu menyebabkan yang disusun adalah kutikula pupa. Pada pupa, titer JH sudah sama dengan nol, sehingga jika kemudian terjadi pergantian kulit lagi, maka yang muncul adalah kulit serangga dewasa. Demikian yang terjadi

Januari 11, 2012

Fisiologi sekresi lambung

Fisiologi sekresi lambung
Sekresi asam lambung adalah suatu proses kompleks dan berkesinambungan yang dikendalikan oleh beberapa faktor sentral (neural) dan perifer (endokrin). Setiap faktor turut berkontribusi pada peristiwa fisiologis akhir, yaitu sekresi H oleh sel2 parietal yang terletak di badan dan fundus lambung. Faktor neural (asetilkolin), parakrin (histamin), dan endokrin (gastrin) berperan penting dalam pengaturan sekresi asam. Tiap faktor tersebut memiliki reseptor spesifik (reseptor M3, H2, dan CCK2) yang secara anatomi dan/atau farmakologi terlokalisasi di membran basolateral sel parietal. Pada sel parietal terdapat 2 jalur pensinyalan utama; jalur bergantung AMP siklik dan jalur bergantung Ca. Histamin menggunakan jalur yang pertama, sedangkan gastrin dan Ach memberikan efeknya melalui jalur yang kedua. Jalur bergantung AMP siklik menyebabkan terjadinya fosforilasi protein efektor pada sel2 parietal. Jalur bergantung Ca menyebabkan peningkatan Ca di sitosol. Kedua jalur tersebut mengaktivasi H,K ATPase (pompa proton). H,K-ATPase terdiri atas sebuah subunit Alfa dan sebuah subunit beta yang lebih kecil. Pompa ini membangkitkan gradien ion terbesar yang pernah ditemukan pada vertebrata, dengan pH intrasel sekitar 7,3 dan pH intrakanalikula sekitar 0,8.
              Struktur terpenting di SSP yang terlibat dalam stimulasi sentral sekresi asam lambung adalah nukleus dorsal motorik pada saraf vagus (DMNV), hipotalamus, dan nukleus traktus solitarius (NTS). Serabut efferen yang berasal dari DMNV menurun ke arah lambung melalui saraf vagus dan membentuk sinaps dengan sel ganglion sistem saraf enterik (ENS). Pelepasan Ach dari serabut vagus pascaganglion dapat menstimulasi sekresi asam lambung secara langsung melalui subtipe reseptor kolinergik muskarinik spesifik, M3, yang terletak pada membran basolateral di sel-sel parietal. SSP kemungkinan memodulasi aktivitas ENS dengan Ach sebgai neurotransmitter regulator utamanya. Umumnya SSP dianggap sebagai kontributor utama pada inisiasi sekresi asam lambung sebagai respon terhadap penglihatan, aroma, dan antisipasi makanan (fase sefalik). Ach juga secara tidak langsung mempengaruhi sel2 parietal melalui stimulasi pelepasan histamin dari sel-mirip-enterokromafin (ECL) di fundus dan stimulasi pelepasan gastrin dari sel2 G di antrum lambung.
               Histamin dilepaskan dari sel2 ECL melalui jalur2 multifaktor dan merupakan suatu regulator penting dalam produksi asam melalui reseptor subtipe H2. Sel2 ECL biasanya ditemukan di dekat sel parietal. Histamin mengaktivasi sel parietal dengan cara yang mirip parakrin; berdifusi dari tempat pelepasannya ke sel parietal. Keterlibatan histamin dalam sekresi asam lambung (baik sebagai hormon efektor umum terakhir atau bukan) telah dibuktikan secara meyakinkan dengan penghambatan sekresi asam dengan menggunakan antagonis reseptor H2. Sel2 ECL merupakan satu2nya sumber histamin lambung yang terlibat dalam sekresi asam.
              Gastrin terutama terdapat pada sel2 G antral. Sama seperti histamin, pelepasan gastrin diatur melalui jalur multifaktor yang melibatkan aktivasi neural sentral, distensi lokal, serta senyawa2 kimia dalam lambung, dan faktor2 lain. Gastrin menstimulasi sekresi asam terutama secara tidak langsung dengan menyebabkan pelepasan histamin dari sel2 ECL; selain itu, juga terlihat efek langsung gastrin yang kurang begitu penting terhadap sel2 parietal.
               Somatostatin, yang terletak di sel2 D antral, dapat menghambat sekresi gastrin dengan bekerja sebagai parakrin, tetapi peran somatostatin yang sebenarnya dalam menghambat sekresi asam lambung masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Pada pasien yang terinfeksi oleh Helicobacter pylori, tampak adanya penurunan sel2 D, hal ini dapat mengarah pada produksi gastrin yang berlebih akibat berkurangnya penghambatan oleh somatostatin. (Goodman&Gilman;978-979)

Januari 09, 2012

Osmoregulasi

Osmoregulasi Pada Ikan

Dibandingkan dengan ikan nila lokal, maka ikan nila gift mempunyai karakteristik yang lebih unggul. Daya tahan tubuh yang lebih baik memungkinkan ikan nila gift lebih toleran terhadap kisaran nilai salinitas air yang lebih tinggi dan lebih tahan terhadap serangan penyakit. Ikan nila gift merupakan varietas unggul yang dikembangkan oleh Internasional Centre for Living Resources Management (ICLARM). Nama GIFT dari ikan nila gift berasal dari singkatan Genetic Improvement of Farmed Tilapias. Ikan nila gift toleran terhadap kadar salinitas dengan kisaran 0-29 per mil.

Salinitas adalah jumlah total material dalam gram yang terdapat dalam 1 kg air laut. Dimana seluruh karbonat telah dikonversi menjadi oksida, bromida dan iodida diganti oleh klorin dan seluruh material organik telah dioksidasi sempurna. Peristiwa pengaturan proses osmosis dalam tubuh ikan dikenal dengan sebutan osmoregulasi. Tujuan utama osmoregulasi adalah untuk mengontrol konsentrasi larutan dalam tubuh ikan. Apabila ikan tidak mampu mengontrol proses osmoregulasi yang terjadi ikan yang bersangkutan akan stres dan mati. Hal ini karena tidak terjadi keseimbangan konsentrasi larutan tubuh, yang akan berada diluar batas toleransinya. Osmoregulasi berbeda antara ikan air tawar dan ikan air laut dan proses ini penting untuk menjaga keseimbangan osmotik ikan pada lingkungan hidupnya.

Pada ikan air tawar, air secara terus menerus masuk kedalam tubuh ikan melalui insang. Ini secara pasif berlangsung melalui suatu proses osmosis yaitu, terjadi sebagai akibat dari kadar garam dalam tubuh ikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan lingkungannya. Dalam keadaan normal proses ini berlangsung seimbang. Ikan air tawar harus selalu menjaga dirinya agar garam tidak melarut dan lolos ke dalam air. Garam-garam dari lingkungan akan diserap oleh ikan menggunakan energi metaboliknya. Apabila hal ini terjadi maka ikan yang bersangkutan akan mengalami masalah. Ikan mempertahankan keseimbangannya dengan tidak banyak minum air, kulitnya diliputi mucus, melakukan osmosis lewat insang, produksi urinnya encer, dan memompa garam melalui sel-sel khusus pada insang. Secara umum kulit ikan merupakan lapisan kedap, sehingga garam di dalam tubuhnya tidak mudah bocor kedalam air. Satu-satunya bagian ikan yang berinteraksi dengan air adalah insang.

Pada ikan air laut terjadi kehilangan air dari dalam tubuh melalui kulit dan kemudian ikan akan mendapatkan garam-garam dari air laut yang masuk lewat mulutnya. Organ dalam tubuh ikan menyerap ion-ion garam seperti Na+, K+ dan Cl-, serta air masuk ke dalam darah dan selanjutnya disirkulasi. Kemudian insang ikan akan mengeluarkan kembali ion-ion tersebut dari darah ke lingkungan luar.

Pada saat ikan sakit, luka, atau stres proses osmosis akan terganggu sehingga air akan lebih banyak masuk kedalam tubuh ikan, dan garam lebih banyak keluar dari tubuh. Akibatnya beban kerja ginjal ikan untuk memompa air keluar dari dalam tubuhnya meningkat. Bila hal ini terus berlangsung bisa sampai menyebabkan ginjal menjadi rusak sehingga ikan mati. Dalam keadaan normal ikan mampu memompa air kurang lebih 1/3 dari berat total tubuhnya setiap hari. Penambahan garam kedalam air diharapkan dapat membantu menjaga ketidakseimbangan ini, sehingga ikan tetap bertahan hidup dan mempunyai kesempatan untuk memulihkan dirinya dari luka atau penyakit. Tentunya dosis untuk ikan harus diantur sedemikian rupa sehingga kadar garamnya tidak lebih tinggi dari pada kadar garam dalam darah ikan. Apabila kadar garam dalam air lebih tinggi dari kadar garam darah, efek sebaliknya akan terjadi, air akan keluar dari tubuh ikan, dan garam masuk kedalam darah, akibatnya ikan terdehidrasi dan akhirnya mati.

Pada kadar garam yang tinggi garam sendiri akan berfungsi untuk mematikan penyakit terutama yang diakibatkan oleh jamur dan bakteri. Meskipun demikian lama pemberiannya harus diperhatikan secara seksama agar jangan sampai ikan mengalami dehidrasi. Osmoregulasi merupakan suatu fungsi fisiologis yang membutuhkan energi, yang dikontrol oleh penyerapan selektif ion-ion melewati insang dan beberapa bagian tubuh lainnya dikontrol oleh pembuangan yang selektif terhadap garam-garam. Kemampuan osmoregulasi bergantung suhu, musim, umur, kondisi fisiologis, jenis kelamin dan perbedaan genotip.

Osmoregulasi sangat penting pada hewan air karena tubuh ikan bersifat permeabel terhadap lingkungan maupun lautan garam. Sifat fisik lingkungan yang berbeda menyebabkan ada perbedaan proses osmoregulasi antara ikan air tawar dengan ikan air laut. Urea merupakan produk metabolisme nitrogen, yang dikeluarkan dari tubuh ikan berupa urin tetapi jumlahnya sedikit. Pada ikan air tawar penyerapan urea dan TMAO berfungsi untuk mempertahankan tekanan osmotik dalam tubuh.

Januari 06, 2012

Sistem Sirkulasi pada hewan dan Manusia

A. Sistem Sirkulasi pada Hewan
Sistem sirkulasi pada hewan dibedakan menjadi 3, yaitu :
Sistem difusi : terjadi pada avertebrata rendah seperti paramecium, amoeba maupun hydra belum mempunyai sistem sirkulasi berupa jantung dengan salurannya yang merupakan jalan untuk peredaran makanan. Makanan umumnya beredar keseluruh tubuh karena adanya aliran protoplasma.
Sistem peredaran darah terbuka : jika dalam peredaran-nya darah tidak selalu berada di dalam pembuluh.
Misal : Arthropoda
Sistem peredaran darah tertutup : jika dalam peredaran-nya darah selalu berada di dalam pembuluh.
Misal : Annelida, Mollusca, Vertebrata.
1. Porifera

Belum memiliki sistem sirkulasi khusus, tubuhnya terdiri atas dua lapisan sel, lapisan dalam terdiri atas sel-sel yang disebut koanosit. Koanosit berfungsi menangkap makanan secara fagosit yang selanjutnya disebarkan keseluruh tubuh oleh amoebosit.
2. Hydra
Pada dinding sebelah dalam dari tubuh Hydra berfungsi sebagai pencerna dan juga berfungsi sebagai sirkulasi.
3. Platyhelminthes


Sel mesenkim berrfungsi membantu distribusi makanan yang telah dicernakan. Makanan yang tidak dicerna dikeluarkan melalui mulut, misal pada Planaria.
4. Annelida
Memiliki sistem peredaran darah tertutup, yang terdiri dari pembuluh darah dorsal, pembuluh darah ventral dan lima pasang lengkung aorta yang berfungsi sebagai jantung, misal pada cacing tanah (Pheretima).
Arah aliran darah :
Lengkung aorta  pembuluh ventral  kapiler (seluruh jaringa tubuh)  pembuluh dorsal  lengkung aorta (pembuluh jantung).
Oksigen diabsorbsi melalui kulit dan dibawa pembuluh kapiler menuju ke pembuluh dorsal. Pertukaran darah terjadi paad kapiler. Darah cacing tanah mengandung haemoglobin yang terlarut dalam cairan darahnya.
5. Mollusca
Memiliki sistem peredaran darah tertutup. Jantung pada hewan ini sudah terdapat atrium (serambi) dan ventrikel (bilik) serta terdapat pembuluh darah vena dan arteri, misal pada keong (Pila globosa).
6. Arthropoda
Memiliki sistem peredaran darah terbuka. Jantung disebut jantung pembuluh. Darah dan cairan tubuh serangga disebut hemolimfa.
Arah aliran darah :
Bila jantung pembuluh berdenyut maka hemolimfe mengalir melalui arteri ke rongga tubuh  jaringan tubuh tanpa melalui kapiler  jantung pembuluh melalui ostium.
Fungsi hemolimfa adalah mengedarkan zat makanan ke sel-sel. Hemolimfe tidak mengandung haemoglobin sehingga tidak mengikat oksigen dan darah tidak berwarna merah. O2 dan CO2 diedarkan melalui sistem trakea.
7. Pisces
Jantung ikan terdiri :
- 2 ruang : meliputi 1 atrium (serambi) dan 1 ventrikel (bilik)
- Sinus venosus : yang menerima darah dari vena kardinalis anterior dan vena kardinalis posterior.
Arah aliran darah :
Darah dari jantung keluar melalui aorta ventral menuju insang. Di insang aorta bercabang menjadi arteri brankial dan akhirnya menjadi kapiler-kapiler (terjadi pertukaran gas yaitu pelepasan CO2 dan pengambilan O2 dari air. Dari kapiler insang darah mengalir ke aorta dorsal, kemudian ke kapiler seluruh tubuh untuk memberikan O2 dan sari makanan serta mengikat CO2 . Selanjutnya darah kembali ke jantung melalui vena kardinalis anterior dan vena kardinalis posterior.
Peredaran ikan termasuk peredaran darah tunggal (dalam satu kali peredarannya, darah melalui jantung satu kali).
8. Amphibia
Jantung katak terdiri :
- 3 ruang : 2 atrium dan 1 ventrikel
- Sinus venosus : menampung darah dari pembuluh
besar yang akan masuk ke atrium kanan.
Arah aliran darah :
Darah yang kaya O2 dari paru-paru dan kulit masuk ke atrium kiri. Darah yang miskin O2 masuk ke atrium kanan dengan perantaraan sinus venosus. Dari atrium darah masuk ke ventrikel sehingga terjadi percampuran darah yang kaya O2 dan darah yang miskin O2 . Dari ventrikel darah yang kaya O2 dipompa ke jaringan tubuh dan pada saat darah yang miskin O2 dialirkan ke paru-paru ke kulit untuk memperoleh O2.
Peredaran darah katak termasuk peredaran darah ganda (dalam satu kali peredarannya, darah melewati jantung 2 kali).
9. Reptilia
Jantung reptilia terbagi menjadi 4 ruang, yaitu :
- 2 atrium : – 1 atrium dekster (serambi kanan)
– 1 atrium sinister (serambi kiri)
- 2 ventrikel : – 1 ventrikel dekster (bilik kanan)
– 1 ventrikel sinister (bilik kiri)
Sekat di antara ventrikel kiri dan ventrikel kanan belum sempurna.
Peredaran darah reptilia merupakan peredaran darah ganda.
Pada buaya, sekat ventrikel terdapat suatu lobang yang disebut foramen panizzae yang memungkinkan pemberian O2 ke alat pencernaan dan untuk keseimbangan tekanan dalam jantung sewaktu penyelam di air.
10. Aves
Jantung aves terbagi menjadi 4 ruang, yaitu :
- 2 atrium : – 1 atrium dekster (serambi kanan)
– 1 atrium sinister (serambi kiri)
- 2 ventrikel : – 1 ventrikel dekster (bilik kanan)
– 1 ventrikel sinister (bilik kiri)
Sekat di antara ventrikel kiri dan ventrikel kanan sempurna sehingga tidak terjadi percampuran darah yang kaya O2 dan yang miskin O2 . Peredaran darah reptilia merupakan peredaran darah ganda.
11. Mamalia
Jantung mamlia terbagi menjadi 4 ruang, yaitu :
- 2 atrium : – 1 atrium dekster (serambi kanan)
– 1 atrium sinister (serambi kiri)
- 2 ventrikel : – 1 ventrikel dekster (bilik kanan)
– 1 ventrikel sinister (bilik kiri)
Sekat di antara ventrikel kiri dan ventrikel kanan sempurna sehingga tidak terjadi percampuran darah yang kaya O2 dan yang miskin O2 . Peredaran darah reptilia merupakan peredaran darah ganda.
B. Sistem Sirkulasi pada Manusia
Fungsi darah :
1. Sebagai alat transport :
- O2 dari paru-paru diangkut keseluruh tubuh
- CO2 diangkut dari seluruh tubuh ke paru-paru
- Sari makanan diangkut dari jonjot usus ke seluruh
jaringan yang membutuhkan.
- zat sampah hasil metabolisme dari seluruh tubuh
ke alat pengleluaran.
- Mengedarkan hormon dari kelenjar endokrin (ke-
lenjar buntu) ke bagian tubuh tertentu.
2. Mengatur keseimbangan asam dan basa
3. Sebagai pertahanan tubuh dari infeksi kuman
4. Untuk mengatur stabilitas suhu tubuh
1. Sel-sel darah (bagian padat)
a. Eritrosit (sel darah merah)
Tidak berinti, mengandung Hb (protein yang mengandung senyawa hemin dan Fe yang mempunyai daya ikat terhadap O2 dan CO2), bentuk bikonkav, dibuat dalam sumsum merah tulang pipih sedang pada bayi dibentuk dalam hati. Dalam 1 mm3 terkandung  5 juta eritrosit (laki-laki) dan  4 juta eritrosit (wanita).
Setelah tua sel darah merah akan dirombak oleh hati dan dijadikan zat warna empedu (bilirubin).
b. Leukosit (leukosit)
Mempunyai inti, setiap 1 mm3 mengandung 6000 – 9000 sel darah putih, bergerak bebas secara ameboid, berfungsi melawan kuman secara fagositosis, dibentuk oleh jaringan retikulo endothelium disumsum tulang untuk granulosit dan kelenjar limpha untuk agranulosit.
Leukosit, meliputi :
- Granulosit : merpakan sel darah putih yang
bergranula :
Neutrofil : granula merah kebiruan, bersifat fagosit.
Basofil : granula biru, fagosit.
Eosinofil : granula merah, fagosit.
- Agranulosit : merupakan sel darah putih yang
sitoplasmanya tidak bergranula :
Monosit : inti besar, bersifat fagosit, dapat bergerak cepat.
Limphosit : inti sebuah, untuk imunitas, tidak dapat bergerak.
c. Trombosit (sel darah pembeku)
Tidak berinti dan mudah pecah, bentu tidak teratur, berperan dalam pembekuan darah, keadaan normal 1 mm3 mengandung 200.000 – 300.000 butir trombosit.
Mekanisme pembekuan darah :
mengeluarkan
a. Trombosit pecah tromboplastin/
faktor antihemofili trombokinase.
b. Protombin trombin
Ca++ dan Vit.K
c. Fibrinogen fibrin
Untuk keperluan tertentu, misal dalam proses pengambilan darah dari donor, maka pembekuan darah dapat dihindarkan dengan jalan :
- Mendinginkan darah mendekati titik bekunya. Tujuannya untuk menhalangi pembentukan trombin.
- Memberi garam natrium oksalat atau natrium sitrat. Tujuan mengendapkan ion Ca, sehingga pengubahan protrombin menjadi trombin terhambat.
- Pemberian heparin atau dikumarol yang merupakan zat antikoagulan (anti pembekuan darah). Zat ini digunakan untuk mencegah pembekuan darah dalam transfusi darah dan pada saat operasi.
- Mencegah persentuhan dengan permukaan yang kasar, misal menggunakan alat pengambil darah yang sangat tajam dan permukaan alat yang licin dan halus.
2. Plasma darah (cairan darah)
a. Protein, meliputi :
- fibrinogen : untuk pembekuan darah
- albumin : menjaga tekanan osmotik darah
- globulin : membentuk zat kebal / zat antibodi
Berdasarkan kerjanya zat anti dibedakan :
- prepsipitin : kerjanya menggumpalkan darah
- lisin : memecah antigen
- antitoksin : menetralkan racun
b. Sari-sari makanan, meliputi :
- glukosa
- asam amino
- asam lemak
- gliserin
c. Garam mineral, meliputi :
- kation : Na+, K++, Ca++, Mg++
- anion : Cl-, HCO3-, PO4-
d. Zat hasil produksi sel, meliputi :
- hormon
- enzim
- antibodi
e. Zat hasil sisa metabolisme, meliputi :
- urea
- asam ureat
f. Gas-gas pelepasan, meliputi :
- O2
- CO2
- N2
1. Jantung (cor)
Merupakan alat pemompa darah. Jantung terdiri dari otot jantung (miokardium), selaput jantung (perikardium) dan selaput yang membatasi ruangan jantung (endokardium).
Otot jantung mendapatkan zat makanan dan O2 dari arah melalui arteri koroner. Peristiwa penyumbatan arteri koroner disebut koronariasis.
Jantung terdiri dari 4 ruang, yaitu 2 atrium dan 2 ventrikel.
- Atrium (serambi)
Merupakan ruangan tempat masuknya darah dari pembuluh balik (vena). Atrium kanan (dekter) dan atrium kiri (sinister) terdapat katup valvula bikuspidalis. Pada fetus antara atrium kanan danatrium kiri terdapat lubang disebut foramen ovale.
- Ventrikel (bilik)
Ventrikel mempunyai otot lebih tebal dari atrium, dan ventrikel kiri lebih tebal daripada ventrikel kanan, karena berfungsi memompakan darah keluar jantung. Antara ventrikel kanan dan ventrikel kiri terdapat katup valvula trikuspidalis.
Saat ventrikel berkontraksi, darah dari ventrikel kiri yang kaya O2 dipompakan menuju aorta. Sedangkan darah dari ventrikel kanan yang kaya CO2 dipompakan melalui arteri paru-paru (arteri pulmonalis). Bila ventrikel mengendur (relaksasi) maka jantung akan menerima darah vari vena cava superior, dan vena cava inferior yang kaya CO2 masuk ke dalam atrium kanan. Sedangkan darah dari pembuluh balik paru-paru (vena pulmonalis) yang kaya O2 masuk ke atrium kiri.
Pada jantung yang mengempis (kontraksi) maka tekanan jantung menjadi maksimum disebut sistole. Keadaan jantung yang relaksasi (mengendur) maksimum, maka tekanan ruang jantung menjadi minimum disebut diastole.
Jantung manusia berdenyut kira-kira 70 – 80 kali setiap menit, sehingga dalam sehari  100.000 kali. Pada bayi yang baru lahir berdenyut  130 setiap menit. Umur 20 tahun  72 / menit dan 45 tahun  75 / menit.
2. Pembuluh darah
- Pembuluh nadi (arteri) : pembuluh darah yang membawa darah dari jantung.
- Pembuluh vena (balik) : pembuluh darah yang membawa darah ke jantung.
Perbedaan antara arteri dan vena.
Obyek
Arteri (pembuluh nadi)
Vena (pembuluh balik)
Dinding
Aliran
Darah
Tekanan
Letak
Katup
Nama
Tebal, elastis
Meninggalkan jantung
Kaya O2 kecuali arteri pulmonalis.
Jika terpotong darah memancar.
Agak ke dalam
Hanya satu dipangkal aorta.
Sesuai dengan organ yang dituju.
Tipis, kurang elastis
Menuju ke jantung
Kaya CO2 kecuali vena pulmonalis.
Jika terpotong, darah hanya menetes.
Di permukaan tubuh
Banyak terdapat di sepanjang vena yang besar.
Sesuai dengan organ yang ditinggalkan.
Macam-macam peredaran darah :
1. Peredaran darah kecil, melalui :
Ventrikel kanan  arteri pulmonalis  paru-paru  vena pulmonalis  atrium kiri.
Atau :
Jantung  paru-paru  jantung
2. Peredaran darah besar, melalui :
Ventrikel kiri  aorta  arteri  arteriola  kapiler  venula  vena  vena cava superior dan vena cava inferior  atrium kanan.
Atau :
Jantung  seluruh tubuh  jantung
3. Sistem portae
Darah sebelum masuk kembali ke jantung terlebih dahulu masuk ke dalam suatu organ yang disebut sistem portae.
Pada mamalia/ manusia hanya terdapat satu sistem portae yaitu sistem portae hepatica.
Pembuluh limpha (pembuluh getah bening)
1. Pembuluh limpha dada kanan (ductus limfaticus dekster).
Menerima aliran limpha dari daerah kepala, leher, dada, paru-paru, jantung, lengan kanan yang bermuara di pembuluh balik di bawah selangka kanan.
2. Pembuluh limpha dada kiri (ductus thoracikus).
Menerima aliran limpha dari bagian lain danbermuara di pembuluh balik di bawah selangka kiri. Pembuluh inimerupakan tempat bermuaranya pembuluh-pembuluh kil atau pembuluh lemak, yaitu pembuluh yang mengumpulkan asam lemak, yang diserap oleh usus.
Pada kelenjar limpha dibuat sel-sel darah putih limfosit yang berperan dalam pemberantasan kuman penyakit.
Perbedaan peredaran limpha dengan peredaran darah
Peredaran darah
Peredaran limpha
 ( limpha )
Sistem per-edaran.
Yang dialir kan.
Tenaga pendorong.
Zat yang di angkut.
Pembuluh-nya
Tertutup
Darah, berwarna merah.
Kontraksi otot jantung.
O2, CO2, protein, gula.
Arteri dan vena.
Terbuka
Getah bening, ber-warna kuning ke-putihan.
Kontraksi otot rangka.
Lemak (asam lemak + gliserin).
Pembuluh getah be-ning (duktus torak-sikus dan duktus limfatikus dekster)
Gangguan pada sistem sirkulasi
1. Hemofili : darah sukar membeku akibat faktor keturunan (genetis).
2. Anemia : penyakit kurang darah, akibat kandungan Hb rendah, kurangnya eritrosit atau menurunnya volume darah dari normal.
3. Polistemia : kelebihan eritrosit akibat meningkatnya viskositas (kekentalan) darah.
4. Leukimia : kanker darah, akibat bertambahnya leukosit yang tidak terkendali.
5. Leukopenia : menurunnya jumlah leukosit karena infeksi kuman tifus sehingga eritrosit dapat menurun hingga 3000 per mm3.
6. Thalasemia : rendahnya daya ikat eritrosit terhadap O2 karena kegagalan pembentukan haemoglobin (eritrosit pecah). Penyakit ini genetis.
7. Sklerosis : pengerasan pembuluh nadi akibnat endapan senyawa lemak atau zat kapur.
Aterosklerosis, bila endapannya lemak.
Arteriosklerosis, bila endapannya zat kapur.
8. Trombus & embolus : penyakit jantung yang disebabkan oleh penggumpalan di dalam arteri koroner.
9. Koronarialis : penyempitan arteri koroner pada jantung.
10. Varises : pelebaran pembuluh vena dan umumnya di bentis, sedang yang di anus disebut ameien (hemoroit).
11. Hipertensi : tekanan darah tinggi.
12. Hipotensi : tekanan darah rendah.
13. Eritroblastosis fetalis : penyakit kuning bayi, karena kerusakan darah bayi yang baru lahir akibat kemasukan aglutinin dari luar.
14. Blue baby : bayi warna biru waktu lahir akibat kelainan jantung (foramen ovale tidak menutup).
C. Sistem Imunitas (Kekebalan) pada Manusia
Sel darah putih bertanggungjawab dalam respons kekebalan. Jika ada zat asing (kuman) masuk ke dalam tubuh, maka beberapa leukosit akan membuat antibodi. Antibodi adalah protein sederhana (gamaglobulin) yang dihasilkan oleh limphosit atau larut ke dalam plasma darah sebagai reaksi terhadap serangan suatu antigen.
Macam-macam kekebalan tubuh :
1. Kekebalan aktif : kekebalan tubuh yang diperoleh karena tubuh membuat antibodi sendiri, meliputi :
- kekebalan aktif buatan : kekebalan tubuh yang di
peroleh setelah mendapatkan vaksinasi.
- kekebalan aktif alami : kekebalan tubuh yang di
peroleh setelah seseorang sembuh dari sakit.
2. Kekebalan pasif : kekebalan yang terjadi bukan karena tubuh membuat antibodi sendiri, meliputi :
- kekebalan pasif buatan : diperoleh setelah tubuh
mendapat antibodi sudah jadi yang terlarut
dalam serum. Kekalan ini bersifat sementara.
Misal suntikan ATS (Anti Tetanus Serum).
- kekebalan pasif alamiah : bila kekebalan diperoleh
dari ibu selama di dalam kandungan.
Antibodi masuk dari ibu ke fetus melalui pla-
senta atau melalui air susu (ASI) setelah lahir.