Tampilkan postingan dengan label Regenerasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Regenerasi. Tampilkan semua postingan
Maret 28, 2012
Regenerasi
Regenerasi
PROSES REGENERASI EKOR KADAL
Mabouya multifasciata Khul
Regenerasi adalah kemampuan organisme untuk mengganti bagian-bagian tubuh yang hilang baik karena luka, sobek, rusak ataupun karena peristiwa autotomi. Kadal merupakan salah satu lacertilia yang dapat mengalami regenerasi ekor setelah mengalami autotomi. Autotomi ekor adalah peristiwa putus dengan sendirinya sebagian atau seluruh ekor dengan tiba-tiba apabila dikejar atau di tangkap ekornya. Bagian ekor yang lepas akan bergerak beberapa saat untuk menarik perhatian musuh sementara kadal akan melarikan diri. Putusnya ekor terjadi pada tempat-tempat tertentu di sepanjang ekor yang merupakan dataran retakan terletak melintang.
Setelah ekor mengalami autotomi akan diikuti oleh proses regenerasi sehingga tumbuh ekor baru yang ukuran dan bentuknya hampir sama dengan ekor semula tetapi struktur anatominya terutama vertebrae, jaringan syaraf, dan kulit berbeda. Proses regenerasi terbagi menjadi 3 fase yaitu : fase penyembuhan luka, fase pembembentukan blastema dan fase diferensiasi serta pertumbuhan ekor. Setelah ekor diamputasi permukaan luka diisi oleh jaringan dan sel-sel dibagian proksimal luka. Sel-sel epitel kulit melakukan gerakan ameboid, meluas masuk kebagian permukaan luka sehingga menutup luka. Setelah penutupan luka, jaringan syaraf pada ujung ekor yang putus mengalami disintegrasi sebagian. Sel-sel otot, tulang, tulang rawan kehilangan tanda khasnya. Pada saat itu sel-sel semua jaringan menyerupai sel embrional. Sel-sel ini migrasi kearah ujung ekor dan mengadakan proliferasi sehingga tubuh blastema. Kemudian akan mengalami diferensiasi menjadi sel-sel serupa seperti semula.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses regenerasi ekor kadal setelah mengalami autotomi. Dalam penelitian ini digunakan 62 ekor kadal dewasa, dengan panjang tubuh antara 8,5-10 cm, ekor tidak dalam keadaan bunting, serta warna panjang ekor seluruhnya sama untuk setiap hewan. Kadal dipelihara dalam kandang khusus, dibuat dari bak plastik bertutup kawat kasa.
Autotomi dilakukan dengan cara menjepit ekor dengan pinset pada jarak 5cm dari ujungnya sambil diangkat dan dibiarkan selama 10 detik. Pada umumnya 5 detik setelah dijepit akan terjadi autotomi. Kadal yang telah mengalami autotomi ekor dipelihara, kemudian setiap 2 ekor kadal dibunuh yaitu :
1. Pada umur-umur pemeliharaan 1 hari, 2 hari, 3 hari, dan seterusnya sampai 21 hari dengan selang waktu 1 hari.
2. Pada umur-umur pemeliharaan 4 Minggu 5 Minggu, 6 Minggu, dan seterusnya sampai 12 Minggu denagn selang waktu 1 Minggu.
Bagian peralihan antara ekor yang melekat pada tubuh dan ekor yang baru tubuh, dipotong sepanjang 1 m. potongan ekor dibuat sediaan mikroanatomi dengan metode paraffin. Sebagai pembanding, 2 ekor kadal yang tidak mengalami autotomi dipotong ekornya sepanjang 1 cm. pada jarak 5 cm dari ujung ekor,kemudian potongan ekor ini dibuat sediaan mikroanatomi dengan cara yang sama. Karena ekor kadal tersusun atas jaringan tulang dan jaringan bukan tulang maka untuk membuat sediaan mikroanatominya jaringan tulang dilunakkan dengan memfiksasi potongan ekor kedalam larutan ekor HNO3 0,1 % selama 2x24 jam.
Kemudian dilanjutkan dengan metode paraffin, pemulasan hematoxsylin Ehrilich Eosin (HE) serta Mallory Acid Fuchsin (MAF).Sediaan mikroanatomi ini diamati dengan mikroscop cahaya, untuk mengetahui urutan proses regenerasi ekor kadal. Data dikumpulkan dalam bentuk gambar.
Dengan menggunakan metode tersebut dapat dihasilkan bahwa pada sediaan mikroanatomi penampang membujur ekor kadal yang tidak mengalami autotomi menunjukkan pada vertebra caudalis terdapat celah melintang yang membagi vertebra menjadi 2 bagian. Dan didapatan bahwa dataran autotomi ekor kadal terletak melintang pada vertebra caudalis, serta melalui septum interadiposum dan myoseptum.
Satu hari setelah autotomi, permukaan ekor yang putus tertutup oleh darah yang membeku dan sel-sel yang rusak. Dua hari dan tiga hari setelah autotomi terjadi proliferasi epitel kulit yang kemudian migrasi kearah permukaan luka. Lima gari dan enam hari setelah autotomi, permukaan luka bekas putusnya eor telah tertutup oleh epitel kulit. Delapan hari setelah autotomi, dediferensiasi jaringan tersebut bertambah banyak. Empat belas hari setelah autotomi, pada blastema terlihat kelompok-kelompok sel mesenkim tersusun memanjang searah dengan sumbu panjang ekor dan sel-sel mesenkin disekeliling sel-sel ependim berbentk lonjong tersusun tegak lurus terhadap sel-sel ependim. Sel-sel epitel ekor yang mengalami regenerasi tersusun atas beberapa lapisan sel. 21 hari setelah autotomi terlihat sel-sel yang tersusun memanjang tadi akan membentuk jaringan otot sedangkan sel-sel yang tersusun tegak lurus terhadap sel-sel ependim, membentuk jaringan tulang rawan.
Jaringan tulang rawan ini membentuk suatu bangunan seperti pipa. Didalam pipa tulang rawan ini terdapat medulla spinalis yang merupakan medulla spinalis ekor lama. Sisik-sisik sudah mulai terbentuk, yang dimulai dengan penolan epidermis kearah dermis. 28 hari setelah autotomi, jaringan fibrosa padat pada sisik ekor baru telah terbentuk dan saat ini tebal epidewrmis ekor baru ham[ir sama dengan tebal ekor lama.
Pada sediaan mikroanatomi ekor kadal 10 minggu dan 12 minggu setah autotomi terlihat pipa tulang rawan tidak mengalami perubahan menjadi tulang dan didalamnya terdapat medulla spinalis yang merupakn lanjutan medulla spinalis ekor lama.
Februari 24, 2012
Regenerasi Cacung Tanah
DAFTAR ISI
I. PENDAUHULAN………………………………………………………………………………. 1
1.1 Latar belakang…………………………………………………………………………….. 1
1.2 Rumusan masalah………………………………………………………………………… 2
1.3 Hipotesis……………………………………………………………………………………. 3
1.4 Tujuan hasil penelitian………………………………………………………………….. 3
1.5 Manfaat hasil penelitian……………………………………………………………….. 3
II. KAJIAN PUSTAKA………………………………………………………………………….. 4
2.1 Cacing Tanah…………………………………………………………………………………….. 4
2.2 Regenerasi………………………………………………………………………………………… 8
III. METODE PENELITIAN…………………………………………………………………. 10
3.1 Alat dan Bahan…………………………………………………………………………. 10
3.2 Prosedur Kerja…………………………………………………………………………… 10
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN………………………………………………………… 11
4.1 Hasil Penelitian………………………………………………………………………….. 11
4.2 Pembahasan Hasil Penelitian……………………………………………………….. 12
V. PENUTUP……………………………………………………………………………………….. 13
5.1 Kesimpulan……………………………………………………………………………….. 13
5.2 Saran………………………………………………………………………………………… 13
DAFTAR RUJUKAN
LAMPIRAN
I. PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Setiap makhluk hidup di dunia ini memiliki kemampuan untuk mempertahankan hidupnya. Memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan hidupnya, melestarikan kehidupannya dengan berkembang biak, dan memiliki kemampuan utuk memperbaiki organ atau jaringan tubuh yang rusakyang disebut dengan daya regenerasi. Setiap makhluk hidup baik itu hewan atau tumbuhan memiliki daya regenerasi yang berbeda-beda.
Pada kecebong yang telah memiliki kaki dengan kecebong yang belum memiliki kaki akan berbeda kemampuannya dalam memperbaiki jaringan atau organ yang rusak atau luka. Daya regenerasi pada kecebong yang telah memiliki kaki akan lambat, sedangkan kecebong yang belum memiliki kaki akan cepat. Hal ini dikateranakan salah satu factor yang mempengaruhi daya regenerasi suatu organisme adalah umur organism tersebut. Semakin bertambahnya umur maka daya regenerasi akan berkurang dan bahkan dapat menghilang.
Meskipun suatu organisme memiliki kemampuan untuk memperbaiki jaringan atau organ yang rusak atau luka pada tubuhnya, namun ada bagian-bagian tubuh tertentu yang tak dapat diregenerasi atau dengan kata lain kemampuan regenerasinya telah hilang. Terkecuali pada planaria, planaria adalah hewan yang memiiki daya regenerasi yang sangat baik. Apabila tubuh panaria dipotong-potong maka setiap potongan tersebut akan menjadi organisme baru. Daya regenerasi ini mengikuti proses fragmentasi yang merupakan cara perkembang biakan aseksual pada planaria yang bertujuan menghasilkan keturunan.
Berdasarkan hal ini praktikan tertarik untuk mengetahui daya regenerasi pada hewan lain. Dalam hal ini praktikan memilih cacing tanah sebagai probandus di penelitian ini. Cacing tanah terdapat banyak di alam dan mudah didapatkan. Cacing tanah adalah hewan bersegmen dan lunak yang panjangnya dapat mencapai >2 m. Cacing tanah memiliki bagian-bagian tubuh antara lain : coelomic (rongga besar), coelomocytes (pembuluh-pembuluh mikro), tabung anterior dan posterior (saluran makanan), anus dan nephridia (alat ekskresi), kulit (untuk respirasi).pada cacing dewasa memiliki klitelum (tabung peranakan atau rahim). Praktikan ingin mengetahui daya regenerasi cacing tanah yang bagian tubuhnya yaitu sebelum dan setelah bagian klitelumnya dipotong.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana daya regenerasi pada cacing tanah ?
2. Apa yang terjadi pada cacing tanah yang bagian tubuh sebelum klitelumnya dipotong?
3. Apa yang terjadi pada cacing tanah yang bagian tubuh setelah klitelumnya dipotong?
1.3 HIPOTESIS
“Cacing tanah yang bagian tubuh setelah klitelumnya dipotong akan menampakan daya regenerasi yang baik dibandingkan cacing tanah yang bagian tubuh sebelum klitelumnya dipotong”
1.4 TUJUAN HASIL PENELITIAN
1. Mengetahui daya regenerasi cacing tanah pada pemotongan bagian tubuh cacing tanah setelah klitelum.
2. Mengetahui daya regenerasi cacing tanah pada pemotongan bagian tubuh cacing tanah sebelum klitelum.
1.5 MANFAAT HASIL PENELITIAN
Dari hasil penelitian ini akan mendapatkan data yang kemudian akan dilaporkan secara tertulis sebagai karya ilmiah yang merupakan syarat untuk memenuhitugas akhir praktikum Perkembangan Hewan
II.KAJIAN PUSTAKA
2.1. Cacing Tanah
Secara sistematik, acing tanah bertubuh tanpa kerangka yang tersusun oleh segmen-segmen (bagian-bagian ) fraksi luar dan fraksi dalamyang saling brhubungan secara integral, diselaputi oleh epidermis (kulit) berupa kutikula (kulit kaku) berpigmen tipis dan setae (lapisan daging semu bawah kulit), kecuali pada dua segmen pertama (bagian mulut) ; bersifat hermaprodit (kelamin ganda) dengan gonads (peranti kelamin) seadanya pada segmen-segmen tertentu. Apabila dewasa bagian epidermis pada posisi tertentu akan membengkak membentuk klitelum (tabung peranakan atau rahim), tempat mengeluarkan kokon (seludang bulat) berisi telur dan ova (bakal telur). Setelah kawin (kopulasi), telur akan berkembang didalamnyadan apabila menetas langsung serupa cacing dewasa.
Secara struktural, cacing tanah mempunyai rongga besar coelomic yang mengandunag coelomocytes (pembuluh-pembuluh mikro), yang merupakan system vaskuler (bejana) tertutup. Saluran makanan berupa tabung anterior dan posterior,ekskresi (kotoran) dikeluarkan lewat anus atau peranti khusus yang disebut nephridia. Respirasi (pernapasan) terjadi melalui kulit (kutikuler).
a. Segmentasi Luar
Bagian luar cacing tanah tersusun oleh barisan segmen-segmen yang diperantai oleh alur atau lekukan antar segmen yang bertepatan dengan posisi septa pembagi badan secara internal. Segmen-segmen ini mempunyai lebar yang bervariasi dan paling lebar pada zona anterior dan zona kliteler. Dalam pendiskripsiannya, segmen-segmen dan alur antarsegmen ini di beri kombinasi nomor urut dari depan ke belakang,3/4 berarti nomor segmen ke-3 (S ke -3) dan nomor alur antar segmen ke-4 (AAS ke-4). Segmen-segmen eksternal juga mempunyai alur-alur sekunder.
Segmen anterior yang paling depan (segmen pertama) yang mengelilingi mulut dan tempat menempelnya prostomium (cuping mulut)dan peristomium (bibir). Sebagai unit mulut peristomium dan prostomium menyatu dalam kombinasi posisi yang bervariasi menurut spesiesnya sehingga karakter ini merupakan salah satu kunci deskripsispesies cacing tanah.
b. Chaeotaxy (pola susunan setae)
Setae adalah struktur fungsional sebagi pemegang substrat dan peranti bergerak termasuk dalam berkopulsi berbentuk serupa bulu yang timbul di dalam kantung rambut pada bagian luar kulita yang dapat dimelarkerutkan melalui otot protractor –retractor. Kedua otot ini tumbuh dari lapisan otot sirkuler, melewati otot longitudinaldi dasar lubang rambut. Setae mempunyai bentuk yang bervariasi tergantung spesiesnya, ada yang berbentuk batang, jamur atau serupa rambut. Bentuk ini juga tergantung posisinya yang paling sering adalah seperti pada Lumbricus, yaitu berbentuk kurva sigmoid dengan panjang sekitar 1mm. Pada L. terrestris, setae ini membesar baik pada ujung anterior maupun posteriornya.
c. Pigmentasi pada kulit
Warna cacing tanah tergantung pada ada tidaknya dan jenis pigmen yang dimilikinya. Sel atau butiran pigmen ini berada di dalam lapisan otot di bawah kulitnya. Paling tidak sebagian warna juga disebabkan oleh adanya cairan kulomik kuning atau sel klorogagen hijau dekat permukaan. Warna bagian dada dan perut umumnya lebih muda ketimbang bagian lainnya, kecuali misalnya Megascolesidae yang berpigmen gelap, berwarma sama. Pigmen cacing tanah umumnya adalah profirins, yang boleh jadi berasal dari hasil hancuran sel klorogagen. Cacing yang tanpa atau berpigmen sedikit jika berkulit transparan biasanya terlihat berwarna merah atau pinkakibat adanya haemoglobin dari zona di permukaan pembuluh kapiler tetapi jika kulitnya tidak transparan akan terlihat putih
d. Kulom (rongga badan)
Kulom merupakan rongga sepanjang badan yang berisi cairan kulomik. Cairan kulomik ini berwarna putih susu dan kadangkala kun ing oleh adanya eleosit, yaitu sel-sel berlemak –butiran, seperti pada Dendrobaena snbrubicunda.
e. Saluran pencernaan
Saluran makanan cacing tanah pada dasarnya berupa tabung yang memanjang dari mulut hingga anus, dengan diferensiasi berupa liang: a. buccal yaitu tabung mulut sepanjang 1-2 segmen pertama, b. pharynx yaitu tabung lanjutan yang melebar ke bawah sepanjang hingga segmen ke-6, atasnya tebal, berlendir, glanduler, dan mempunyai kelenjar pharyngealyang tammapk seperti massa putih ; berfungsi sebagi pompa pengisap, c. oesophagus yaitu terusan pharynx berupa tabung sempit, d. crop adalah modifikasi tabung belakang berbentuk tembolokberfungsi sebagai gudang penyimpanan, e. gizzard empedu dan , f. instestin berupa saluran pencernaan berbentuk lurus yang berakhir pada anus. Namun sebagian besar cacing aquatic tidak mempunyai gizzard dan kadangkala juga crop.
Cacing tanah merupakan makhluk yang telah hidup dengan bantuan sistem pertahanan mereka sejak fase awal evolusi, oleh sebab itu mereka selalu dapat menghadapi invasi mikroorganisme patogen di lingkungan mereka. Penelitian yang telah berlangsung selama sekitar 50 tahun menunjukkan bahwa cacing tanah memiliki kekebalan humoral dan selular mekanisme. Selain itu telah ditemukan bahwa cairan selom cacing tanah mengandung lebih dari 40 protein dan pameran beberapa aktivitas biologis sebagai berikut: cytolytic, proteolitik, antimikroba, hemolitik, hemagglutinating, tumorolytic, dan kegiatan mitogenic.
Cairan dari selom foetida Eisenia Andrei telah diteliti memiliki sebuah aktivitas antimikroba terhadap Aeromonas hydrophila dan Bacillus megaterium yang dikenal sebagai patogen cacing tanah. Setelah itu diperoleh dua protein, bernama Fetidins, dari cairan selom cacing tanah dan menegaskan bahwa aktivitas antibakteri ini disebabkan karena fetidins. Lumbricus rubellus juga memiliki dua agen antibakteri bernama Lumbricin 1 dan Lumbricin 2. Baru-baru ini, dua jenis faktor antibakteri yang mempunyai aktivitas seperti lisozim dengan aktivitas hemolitik serta pengenalan pola protein bernama selom cytolytic faktor (CCF) telah diidentifikasi dalam foetida Eisenia cacing tanah. Lysenin protein yang berbeda dan Eisenia foetida lysenin-seperti protein memiliki beberapa kegiatan yang diberikan cytolytic hemolitik, antibakteri dan membran-permeabilizing property.
2.2. Regenerasi
Regenerasi dalam biologi adalah menumbuhkan kembali bagian tubuh yang rusak atau lepas. Daya regenerasi paling besar pada echinodermata dan platyhelminthes yang dimana tiap potongan tubuh dapat tumbuh menjadi individu baru yang sempurna. Pada Anelida kemampuan itu menurun. Daya itu tinggal sedikit dan terbatas pada bagian ujung anggota pada amfibi dan reptil. Pada mamalia daya itu paling kecil, terbatas pada penyembuhan luka.
Regenerasi berlangsung melalui dua cara yaitu : (1) Epimorfis, apabila perbaikan disebabkan oleh proliferasi jaringan baru yang disebut blastema diatas jaringan lama.(2) Morfalaksis, apabila perbaikan disebabkan oleh reorganisasi jaringan lama.
Pada Annelida daya regenerasinya terbatas. Jika tubuh dipotong-potong, setiap potongan dapat tumbuh menjadi individu baru yang utuh, tapi segmennya tidak selengkap semula. Alat genitalia tak ikut beregenerasi. Jika potongan tak mengandung genitalia asli individu baru yang berasal dari situ tak bergenitalia. Hirudinea (pacet dan lintah) tidak beregenerasi. Nematoda juga tidak beregenerasi. (http://semilirsenja.blogspot.com/2010/03/regenerasi.html)
Pada kebanyakan Annelida terbukti regenerasi dapat dilkukan sangat terbatas, misalnya hanya beberapa segmen saja dari bagian anterior yang dapat dibentuk, dan jumlah segmen ini tergantung pada spesies.Pada cacing tanah Alloobophora foetida jumlah itu empat atau lima saja. Apabila lima segmen itu kurang dipotong dari dari bagian anterior dari cacing ini, maka regenerasi akan terjadi secara lengkap. Tetapi apabila lebih dari lima segmen dipotong, maka hanya empat atau lima segmen baru yang dibentuk, dan dengan demikian cacing ini akan lebih pendek dari aslinya. Apabila potongan dilakukan di belakang segmen genital (segmen 10-14), maka hanya empat atau lima segmen kearah anterior yang dibentuk dan alat genital yang ikut terpotong tidak pernah diperbaharui. Dengan demikian tipe regenerasi yang terjadi adalah epimorfis. Epimorfis umum dijumpai pada hewan tingkat tinggi.
III. METODE PENELITIAN
3.1 Alat dan Bahan
- cacing tanah
- silet
- penggaris
- tanah
3.2 Prosedur Kerja
1. Diukur cacing tanah menggunakan penggaris
2. Diamati letak klitelum cacing tanah
3. dipotong bagian tubuh cacing tanah sebelum klitelum , lalu ukur bagian tersebut menggunakan penggaris
4. Masukan potongan tubuh tersebut ke tanah lalu di amati
5. lakukan langkah yang sama pada pemotongan bagian tubuh cacing setelah klitelum.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 HASIL PENELITIAN
Pemotongan bagian tubuh cacing sebelum klitelumPanjang Percobaan 1 Percobaan 2 Percobaan 3
Awal 9 cm 3 cm 8 cm
Setelah dipotong 1 cm 0,3 cm 0,7
1 hari setelah dipotong Mati - mati
Pemotngan bagian tubuh cacing setelah klitelumPanjang Percobaan 1 Percobaan 2 Percobaan 3
Awal 3 cm 3 cm 13 cm
Setelah dipotong 0,7 cm 0,3 cm 1,3 cm
1 hari setelah dipotong - - Hidup, luka telah tertutup.
4.3. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
Cacing tanah adalah nama yang umum digunakan untuk kelompok Oligochaeta , yang kelas dan subkelasnya tergantung dari penemunya dalam filum Annelida . Cacing tanah jenis Lumbricus mempunyai bentuk tubuh pipih. Jumlah segmen yang dimiliki sekitar 90-195 dan klitelum yang terletak pada segmen 27-32.
Cacing tanah jenis Pheretima segmennya mencapai 95-150 segmen. Klitelumnya terletak pada segmen 14-16. Tubuhnya berbentuk gilik panjang dan silindris berwarna merah keunguan. Cacing tanah yang termasuk jenis Pheretima antara lain cacing merah, cacing koot dan cacing kalung.
Sepanjang hidup suatu orgsanisme, beberapa tubuhnya dapat rusak atau lenyap. Sebagaian besar organisme sampa derajat tertentu mempunyai kemampuan mengganti bagian-bagian yang rusak atau lenyap tersebut. Proses penggantian ini diseut regenerasi. (Kimball.1983:415)
Kemampuan hewan untuk meregenerasi bagian-bagian yang hilang sangat bervariasi dari spesies ke spesies. Spon dapat meregenerasi seluruh organisme dari hanya konglomerasi sel-selnya. Hal ini juga terjadi pada hydra. Seekor planaria dapat meregenerasi seluruh organisme dari satu bagian tengah. Bahkan bintang laut dapat meregenerasi seluruh organisme dari hanya satu tangan dan cakra tengah. Cacing tanah tak mempunyai daya regenerasi demikian , yaitu dapat meregenerasi seluruh organisme.akan tetapi mereka dapat meregenerasi dengan cukup kokoh.
Dari hasil pengamatan praktikan menemukan bahwa cacing tanah yang mendapatkan perlakuan berupa pemotongan bagian tubuh sebelum klitelum tidak dapat bertahan hidup , berbeda dengan cacing tanah yang mendapatkan perlakuan berupa pemotongan setelah klitelum. Dan bagian posterior tubuh cacing tanah dari pemotongan tubuh tersebut tidak hidup, hal ini serupa dengan apa yang diungkapkan oleh Vanhoeck “Sebagian besar organ cacing tanah berada di “bagian atas”. Jika anda melihat sebuah cacing, ada sebuah band yang terjadi di sekitarnya sekitar 1 / 3 dari jalan turun dari satu akhir.. Itu adalah akhir “top” dari cacing. Ketika cacing dibelah dua dapat meregenerasi ekor baru, tetapi selebihnya tidak bisa meregenerasi kepala baru. Jadi, tidak mendapatkan dua cacing baru.” http://www.newton.dep.anl.gov/askasci/zoo00/zoo00690.htm
Menurut situs http://www.ehow.com/facts_6373967_do-earthworms-regenerate_.html Untuk regenerasi, tubuh cacing harus terputus di bawah clitellum tersebut. Ini adalah band khas seluruh tubuh cacing dan berisi organ reproduksi. Semua organ-organ lain di atas clitellum tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan regenerasi yang terdapat pada cacing tanah terbatas hanya pada bagian setelah klitelum.
V. PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Dari percobaan pada regenerasi pada cacing tanah ini dapat disimpulkan bahwa :
1. Cacing tanah yang mengalami pemotongan tubuh cacing bagian sebelum klitelum tidak dapat meregenerasikan tubuhnya kembali.
2. Cacing tanah yang mengalami pemotongan tubuh cacing bagian setelah klitelum dapat meregenerasikan tubuhnya kembali
3. Daya regenerasi hanya terbatas setelah bagian klitelum cacing, sebab bagian klitelum ke arah anterior adalah tempat organ reproduksi dan semua organ-organ lain.
5.2. SARAN
Berdasarkan dari hasil percobaan, apabila ingin mengamati daya regenerasi pada cacing tanah. Maka lakukanlah pemotongan bagian tubuh cacing tanah setelah klitelum. Letak klitelum pada cacing tanah tergantung pada spesies dari cacing tanah tersebut.
DAFTAR RUJUKAN
Anonim. 2010 . Cacing tanah. Diakses pada 30 Desember 2010. http://Wikipedia.co.id
Hanafiah,Kemas Ali,dkk.2005.BIOLOGI TANAH Ekologi & Makrobiologi Tanah. Jakarta : Raja Grafindo Persada
Kimball,John W.1983.BIOLOGI Jilid 2.Jakarta : Erlangga
Surjono, Tien Wiati.2001.Perkembangan Hewan.Jakarta : Universitas Jambi
Siburian, Jodion.2005.Penuntun Praktikum Perkembangan Hewan.Jambi: Universitas Jambi
http://www.newton.dep.anl.gov/askasci/zoo00/zoo00690.html
http://www.ehow.com/facts_6373967_do-earthworms-regenerate_.html
http://semilirsenja.blogspot.com/2010/03/regenerasi.html
I. PENDAUHULAN………………………………………………………………………………. 1
1.1 Latar belakang…………………………………………………………………………….. 1
1.2 Rumusan masalah………………………………………………………………………… 2
1.3 Hipotesis……………………………………………………………………………………. 3
1.4 Tujuan hasil penelitian………………………………………………………………….. 3
1.5 Manfaat hasil penelitian……………………………………………………………….. 3
II. KAJIAN PUSTAKA………………………………………………………………………….. 4
2.1 Cacing Tanah…………………………………………………………………………………….. 4
2.2 Regenerasi………………………………………………………………………………………… 8
III. METODE PENELITIAN…………………………………………………………………. 10
3.1 Alat dan Bahan…………………………………………………………………………. 10
3.2 Prosedur Kerja…………………………………………………………………………… 10
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN………………………………………………………… 11
4.1 Hasil Penelitian………………………………………………………………………….. 11
4.2 Pembahasan Hasil Penelitian……………………………………………………….. 12
V. PENUTUP……………………………………………………………………………………….. 13
5.1 Kesimpulan……………………………………………………………………………….. 13
5.2 Saran………………………………………………………………………………………… 13
DAFTAR RUJUKAN
LAMPIRAN
I. PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Setiap makhluk hidup di dunia ini memiliki kemampuan untuk mempertahankan hidupnya. Memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan hidupnya, melestarikan kehidupannya dengan berkembang biak, dan memiliki kemampuan utuk memperbaiki organ atau jaringan tubuh yang rusakyang disebut dengan daya regenerasi. Setiap makhluk hidup baik itu hewan atau tumbuhan memiliki daya regenerasi yang berbeda-beda.
Pada kecebong yang telah memiliki kaki dengan kecebong yang belum memiliki kaki akan berbeda kemampuannya dalam memperbaiki jaringan atau organ yang rusak atau luka. Daya regenerasi pada kecebong yang telah memiliki kaki akan lambat, sedangkan kecebong yang belum memiliki kaki akan cepat. Hal ini dikateranakan salah satu factor yang mempengaruhi daya regenerasi suatu organisme adalah umur organism tersebut. Semakin bertambahnya umur maka daya regenerasi akan berkurang dan bahkan dapat menghilang.
Meskipun suatu organisme memiliki kemampuan untuk memperbaiki jaringan atau organ yang rusak atau luka pada tubuhnya, namun ada bagian-bagian tubuh tertentu yang tak dapat diregenerasi atau dengan kata lain kemampuan regenerasinya telah hilang. Terkecuali pada planaria, planaria adalah hewan yang memiiki daya regenerasi yang sangat baik. Apabila tubuh panaria dipotong-potong maka setiap potongan tersebut akan menjadi organisme baru. Daya regenerasi ini mengikuti proses fragmentasi yang merupakan cara perkembang biakan aseksual pada planaria yang bertujuan menghasilkan keturunan.
Berdasarkan hal ini praktikan tertarik untuk mengetahui daya regenerasi pada hewan lain. Dalam hal ini praktikan memilih cacing tanah sebagai probandus di penelitian ini. Cacing tanah terdapat banyak di alam dan mudah didapatkan. Cacing tanah adalah hewan bersegmen dan lunak yang panjangnya dapat mencapai >2 m. Cacing tanah memiliki bagian-bagian tubuh antara lain : coelomic (rongga besar), coelomocytes (pembuluh-pembuluh mikro), tabung anterior dan posterior (saluran makanan), anus dan nephridia (alat ekskresi), kulit (untuk respirasi).pada cacing dewasa memiliki klitelum (tabung peranakan atau rahim). Praktikan ingin mengetahui daya regenerasi cacing tanah yang bagian tubuhnya yaitu sebelum dan setelah bagian klitelumnya dipotong.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana daya regenerasi pada cacing tanah ?
2. Apa yang terjadi pada cacing tanah yang bagian tubuh sebelum klitelumnya dipotong?
3. Apa yang terjadi pada cacing tanah yang bagian tubuh setelah klitelumnya dipotong?
1.3 HIPOTESIS
“Cacing tanah yang bagian tubuh setelah klitelumnya dipotong akan menampakan daya regenerasi yang baik dibandingkan cacing tanah yang bagian tubuh sebelum klitelumnya dipotong”
1.4 TUJUAN HASIL PENELITIAN
1. Mengetahui daya regenerasi cacing tanah pada pemotongan bagian tubuh cacing tanah setelah klitelum.
2. Mengetahui daya regenerasi cacing tanah pada pemotongan bagian tubuh cacing tanah sebelum klitelum.
1.5 MANFAAT HASIL PENELITIAN
Dari hasil penelitian ini akan mendapatkan data yang kemudian akan dilaporkan secara tertulis sebagai karya ilmiah yang merupakan syarat untuk memenuhitugas akhir praktikum Perkembangan Hewan
II.KAJIAN PUSTAKA
2.1. Cacing Tanah
Secara sistematik, acing tanah bertubuh tanpa kerangka yang tersusun oleh segmen-segmen (bagian-bagian ) fraksi luar dan fraksi dalamyang saling brhubungan secara integral, diselaputi oleh epidermis (kulit) berupa kutikula (kulit kaku) berpigmen tipis dan setae (lapisan daging semu bawah kulit), kecuali pada dua segmen pertama (bagian mulut) ; bersifat hermaprodit (kelamin ganda) dengan gonads (peranti kelamin) seadanya pada segmen-segmen tertentu. Apabila dewasa bagian epidermis pada posisi tertentu akan membengkak membentuk klitelum (tabung peranakan atau rahim), tempat mengeluarkan kokon (seludang bulat) berisi telur dan ova (bakal telur). Setelah kawin (kopulasi), telur akan berkembang didalamnyadan apabila menetas langsung serupa cacing dewasa.
Secara struktural, cacing tanah mempunyai rongga besar coelomic yang mengandunag coelomocytes (pembuluh-pembuluh mikro), yang merupakan system vaskuler (bejana) tertutup. Saluran makanan berupa tabung anterior dan posterior,ekskresi (kotoran) dikeluarkan lewat anus atau peranti khusus yang disebut nephridia. Respirasi (pernapasan) terjadi melalui kulit (kutikuler).
a. Segmentasi Luar
Bagian luar cacing tanah tersusun oleh barisan segmen-segmen yang diperantai oleh alur atau lekukan antar segmen yang bertepatan dengan posisi septa pembagi badan secara internal. Segmen-segmen ini mempunyai lebar yang bervariasi dan paling lebar pada zona anterior dan zona kliteler. Dalam pendiskripsiannya, segmen-segmen dan alur antarsegmen ini di beri kombinasi nomor urut dari depan ke belakang,3/4 berarti nomor segmen ke-3 (S ke -3) dan nomor alur antar segmen ke-4 (AAS ke-4). Segmen-segmen eksternal juga mempunyai alur-alur sekunder.
Segmen anterior yang paling depan (segmen pertama) yang mengelilingi mulut dan tempat menempelnya prostomium (cuping mulut)dan peristomium (bibir). Sebagai unit mulut peristomium dan prostomium menyatu dalam kombinasi posisi yang bervariasi menurut spesiesnya sehingga karakter ini merupakan salah satu kunci deskripsispesies cacing tanah.
b. Chaeotaxy (pola susunan setae)
Setae adalah struktur fungsional sebagi pemegang substrat dan peranti bergerak termasuk dalam berkopulsi berbentuk serupa bulu yang timbul di dalam kantung rambut pada bagian luar kulita yang dapat dimelarkerutkan melalui otot protractor –retractor. Kedua otot ini tumbuh dari lapisan otot sirkuler, melewati otot longitudinaldi dasar lubang rambut. Setae mempunyai bentuk yang bervariasi tergantung spesiesnya, ada yang berbentuk batang, jamur atau serupa rambut. Bentuk ini juga tergantung posisinya yang paling sering adalah seperti pada Lumbricus, yaitu berbentuk kurva sigmoid dengan panjang sekitar 1mm. Pada L. terrestris, setae ini membesar baik pada ujung anterior maupun posteriornya.
c. Pigmentasi pada kulit
Warna cacing tanah tergantung pada ada tidaknya dan jenis pigmen yang dimilikinya. Sel atau butiran pigmen ini berada di dalam lapisan otot di bawah kulitnya. Paling tidak sebagian warna juga disebabkan oleh adanya cairan kulomik kuning atau sel klorogagen hijau dekat permukaan. Warna bagian dada dan perut umumnya lebih muda ketimbang bagian lainnya, kecuali misalnya Megascolesidae yang berpigmen gelap, berwarma sama. Pigmen cacing tanah umumnya adalah profirins, yang boleh jadi berasal dari hasil hancuran sel klorogagen. Cacing yang tanpa atau berpigmen sedikit jika berkulit transparan biasanya terlihat berwarna merah atau pinkakibat adanya haemoglobin dari zona di permukaan pembuluh kapiler tetapi jika kulitnya tidak transparan akan terlihat putih
d. Kulom (rongga badan)
Kulom merupakan rongga sepanjang badan yang berisi cairan kulomik. Cairan kulomik ini berwarna putih susu dan kadangkala kun ing oleh adanya eleosit, yaitu sel-sel berlemak –butiran, seperti pada Dendrobaena snbrubicunda.
e. Saluran pencernaan
Saluran makanan cacing tanah pada dasarnya berupa tabung yang memanjang dari mulut hingga anus, dengan diferensiasi berupa liang: a. buccal yaitu tabung mulut sepanjang 1-2 segmen pertama, b. pharynx yaitu tabung lanjutan yang melebar ke bawah sepanjang hingga segmen ke-6, atasnya tebal, berlendir, glanduler, dan mempunyai kelenjar pharyngealyang tammapk seperti massa putih ; berfungsi sebagi pompa pengisap, c. oesophagus yaitu terusan pharynx berupa tabung sempit, d. crop adalah modifikasi tabung belakang berbentuk tembolokberfungsi sebagai gudang penyimpanan, e. gizzard empedu dan , f. instestin berupa saluran pencernaan berbentuk lurus yang berakhir pada anus. Namun sebagian besar cacing aquatic tidak mempunyai gizzard dan kadangkala juga crop.
Cacing tanah merupakan makhluk yang telah hidup dengan bantuan sistem pertahanan mereka sejak fase awal evolusi, oleh sebab itu mereka selalu dapat menghadapi invasi mikroorganisme patogen di lingkungan mereka. Penelitian yang telah berlangsung selama sekitar 50 tahun menunjukkan bahwa cacing tanah memiliki kekebalan humoral dan selular mekanisme. Selain itu telah ditemukan bahwa cairan selom cacing tanah mengandung lebih dari 40 protein dan pameran beberapa aktivitas biologis sebagai berikut: cytolytic, proteolitik, antimikroba, hemolitik, hemagglutinating, tumorolytic, dan kegiatan mitogenic.
Cairan dari selom foetida Eisenia Andrei telah diteliti memiliki sebuah aktivitas antimikroba terhadap Aeromonas hydrophila dan Bacillus megaterium yang dikenal sebagai patogen cacing tanah. Setelah itu diperoleh dua protein, bernama Fetidins, dari cairan selom cacing tanah dan menegaskan bahwa aktivitas antibakteri ini disebabkan karena fetidins. Lumbricus rubellus juga memiliki dua agen antibakteri bernama Lumbricin 1 dan Lumbricin 2. Baru-baru ini, dua jenis faktor antibakteri yang mempunyai aktivitas seperti lisozim dengan aktivitas hemolitik serta pengenalan pola protein bernama selom cytolytic faktor (CCF) telah diidentifikasi dalam foetida Eisenia cacing tanah. Lysenin protein yang berbeda dan Eisenia foetida lysenin-seperti protein memiliki beberapa kegiatan yang diberikan cytolytic hemolitik, antibakteri dan membran-permeabilizing property.
2.2. Regenerasi
Regenerasi dalam biologi adalah menumbuhkan kembali bagian tubuh yang rusak atau lepas. Daya regenerasi paling besar pada echinodermata dan platyhelminthes yang dimana tiap potongan tubuh dapat tumbuh menjadi individu baru yang sempurna. Pada Anelida kemampuan itu menurun. Daya itu tinggal sedikit dan terbatas pada bagian ujung anggota pada amfibi dan reptil. Pada mamalia daya itu paling kecil, terbatas pada penyembuhan luka.
Regenerasi berlangsung melalui dua cara yaitu : (1) Epimorfis, apabila perbaikan disebabkan oleh proliferasi jaringan baru yang disebut blastema diatas jaringan lama.(2) Morfalaksis, apabila perbaikan disebabkan oleh reorganisasi jaringan lama.
Pada Annelida daya regenerasinya terbatas. Jika tubuh dipotong-potong, setiap potongan dapat tumbuh menjadi individu baru yang utuh, tapi segmennya tidak selengkap semula. Alat genitalia tak ikut beregenerasi. Jika potongan tak mengandung genitalia asli individu baru yang berasal dari situ tak bergenitalia. Hirudinea (pacet dan lintah) tidak beregenerasi. Nematoda juga tidak beregenerasi. (http://semilirsenja.blogspot.com/2010/03/regenerasi.html)
Pada kebanyakan Annelida terbukti regenerasi dapat dilkukan sangat terbatas, misalnya hanya beberapa segmen saja dari bagian anterior yang dapat dibentuk, dan jumlah segmen ini tergantung pada spesies.Pada cacing tanah Alloobophora foetida jumlah itu empat atau lima saja. Apabila lima segmen itu kurang dipotong dari dari bagian anterior dari cacing ini, maka regenerasi akan terjadi secara lengkap. Tetapi apabila lebih dari lima segmen dipotong, maka hanya empat atau lima segmen baru yang dibentuk, dan dengan demikian cacing ini akan lebih pendek dari aslinya. Apabila potongan dilakukan di belakang segmen genital (segmen 10-14), maka hanya empat atau lima segmen kearah anterior yang dibentuk dan alat genital yang ikut terpotong tidak pernah diperbaharui. Dengan demikian tipe regenerasi yang terjadi adalah epimorfis. Epimorfis umum dijumpai pada hewan tingkat tinggi.
III. METODE PENELITIAN
3.1 Alat dan Bahan
- cacing tanah
- silet
- penggaris
- tanah
3.2 Prosedur Kerja
1. Diukur cacing tanah menggunakan penggaris
2. Diamati letak klitelum cacing tanah
3. dipotong bagian tubuh cacing tanah sebelum klitelum , lalu ukur bagian tersebut menggunakan penggaris
4. Masukan potongan tubuh tersebut ke tanah lalu di amati
5. lakukan langkah yang sama pada pemotongan bagian tubuh cacing setelah klitelum.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 HASIL PENELITIAN
Pemotongan bagian tubuh cacing sebelum klitelumPanjang Percobaan 1 Percobaan 2 Percobaan 3
Awal 9 cm 3 cm 8 cm
Setelah dipotong 1 cm 0,3 cm 0,7
1 hari setelah dipotong Mati - mati
Pemotngan bagian tubuh cacing setelah klitelumPanjang Percobaan 1 Percobaan 2 Percobaan 3
Awal 3 cm 3 cm 13 cm
Setelah dipotong 0,7 cm 0,3 cm 1,3 cm
1 hari setelah dipotong - - Hidup, luka telah tertutup.
4.3. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
Cacing tanah adalah nama yang umum digunakan untuk kelompok Oligochaeta , yang kelas dan subkelasnya tergantung dari penemunya dalam filum Annelida . Cacing tanah jenis Lumbricus mempunyai bentuk tubuh pipih. Jumlah segmen yang dimiliki sekitar 90-195 dan klitelum yang terletak pada segmen 27-32.
Cacing tanah jenis Pheretima segmennya mencapai 95-150 segmen. Klitelumnya terletak pada segmen 14-16. Tubuhnya berbentuk gilik panjang dan silindris berwarna merah keunguan. Cacing tanah yang termasuk jenis Pheretima antara lain cacing merah, cacing koot dan cacing kalung.
Sepanjang hidup suatu orgsanisme, beberapa tubuhnya dapat rusak atau lenyap. Sebagaian besar organisme sampa derajat tertentu mempunyai kemampuan mengganti bagian-bagian yang rusak atau lenyap tersebut. Proses penggantian ini diseut regenerasi. (Kimball.1983:415)
Kemampuan hewan untuk meregenerasi bagian-bagian yang hilang sangat bervariasi dari spesies ke spesies. Spon dapat meregenerasi seluruh organisme dari hanya konglomerasi sel-selnya. Hal ini juga terjadi pada hydra. Seekor planaria dapat meregenerasi seluruh organisme dari satu bagian tengah. Bahkan bintang laut dapat meregenerasi seluruh organisme dari hanya satu tangan dan cakra tengah. Cacing tanah tak mempunyai daya regenerasi demikian , yaitu dapat meregenerasi seluruh organisme.akan tetapi mereka dapat meregenerasi dengan cukup kokoh.
Dari hasil pengamatan praktikan menemukan bahwa cacing tanah yang mendapatkan perlakuan berupa pemotongan bagian tubuh sebelum klitelum tidak dapat bertahan hidup , berbeda dengan cacing tanah yang mendapatkan perlakuan berupa pemotongan setelah klitelum. Dan bagian posterior tubuh cacing tanah dari pemotongan tubuh tersebut tidak hidup, hal ini serupa dengan apa yang diungkapkan oleh Vanhoeck “Sebagian besar organ cacing tanah berada di “bagian atas”. Jika anda melihat sebuah cacing, ada sebuah band yang terjadi di sekitarnya sekitar 1 / 3 dari jalan turun dari satu akhir.. Itu adalah akhir “top” dari cacing. Ketika cacing dibelah dua dapat meregenerasi ekor baru, tetapi selebihnya tidak bisa meregenerasi kepala baru. Jadi, tidak mendapatkan dua cacing baru.” http://www.newton.dep.anl.gov/askasci/zoo00/zoo00690.htm
Menurut situs http://www.ehow.com/facts_6373967_do-earthworms-regenerate_.html Untuk regenerasi, tubuh cacing harus terputus di bawah clitellum tersebut. Ini adalah band khas seluruh tubuh cacing dan berisi organ reproduksi. Semua organ-organ lain di atas clitellum tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan regenerasi yang terdapat pada cacing tanah terbatas hanya pada bagian setelah klitelum.
V. PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Dari percobaan pada regenerasi pada cacing tanah ini dapat disimpulkan bahwa :
1. Cacing tanah yang mengalami pemotongan tubuh cacing bagian sebelum klitelum tidak dapat meregenerasikan tubuhnya kembali.
2. Cacing tanah yang mengalami pemotongan tubuh cacing bagian setelah klitelum dapat meregenerasikan tubuhnya kembali
3. Daya regenerasi hanya terbatas setelah bagian klitelum cacing, sebab bagian klitelum ke arah anterior adalah tempat organ reproduksi dan semua organ-organ lain.
5.2. SARAN
Berdasarkan dari hasil percobaan, apabila ingin mengamati daya regenerasi pada cacing tanah. Maka lakukanlah pemotongan bagian tubuh cacing tanah setelah klitelum. Letak klitelum pada cacing tanah tergantung pada spesies dari cacing tanah tersebut.
DAFTAR RUJUKAN
Anonim. 2010 . Cacing tanah. Diakses pada 30 Desember 2010. http://Wikipedia.co.id
Hanafiah,Kemas Ali,dkk.2005.BIOLOGI TANAH Ekologi & Makrobiologi Tanah. Jakarta : Raja Grafindo Persada
Kimball,John W.1983.BIOLOGI Jilid 2.Jakarta : Erlangga
Surjono, Tien Wiati.2001.Perkembangan Hewan.Jakarta : Universitas Jambi
Siburian, Jodion.2005.Penuntun Praktikum Perkembangan Hewan.Jambi: Universitas Jambi
http://www.newton.dep.anl.gov/askasci/zoo00/zoo00690.html
http://www.ehow.com/facts_6373967_do-earthworms-regenerate_.html
http://semilirsenja.blogspot.com/2010/03/regenerasi.html
Januari 01, 2012
Tahap Pasca Embrio Hewan
Pada tahap pasca embrio, terjadi pertumbuhan dan perkembangan menjadi individu dewasa. individu dewasa artinya siap menghasilkan keturunan atau bereproduksi.
Beberapa hewan invertebrata mengalami regenerasi atau metamorfosis selama pertumbuhan dan perkembangannya. Sedangkan hewan vertebrata mengalami pertumbuhan dan perkembangan dari hewan muda (anak) menjadi hewan dewasa.
Regenerasi
Regenerasi adalah proses perbaikan tubuh yang luka atau rusak. Proses ini ditentukan oleh set-set batang dalam tubuh hewan yang belum mengalami diferensiasi. Pada organisme yang berkembang biak secara aseksual, regenerasi berarti juga sebagai proses reproduksi atau berkembang biak. Contohnya cacing pipih. Cacing pipih memiliki kemampuan regenerasi yang sangat tinggi. Apabila tubuhnya dipotong„ setiap potongan akan menjadi individu baru dan lengkap.
Metamorfosis
Metamorfosis adalah perubahan ukuran, bentuk, dan bagian-bagian tubuh hewan dari suatu stadium ke stadium berikutnya. Metamorfosis merupakan proses pertumbuhan dan perkembangan hewan khususnya serangga dan amfibi menuju dewasa. Dalam siklus hidupnya, hewan memiliki struktur dan fungsi tubuh yang berbeda pada setiap stadium. Metamorfosis dikendalikan oleh hormon. Di bawah pengaruh hormon, ukuran tubuh hewan bertambah, jaringan terorganisasi, dan bagian-bagian tubuh kembali dibentuk.
Metamorfosis serangga (insekta)
Berdasarkan tidak terjadinya atau terjadinya tahap metamorfosis yang dialami, serangga dibedakan menjadi kelompok serangga ametabola, holometabola, dan hemimetabola.
• Ametabola
Ametabola merupakan organisme yang tidak mengalami proses metamorfosis. Stadium yang dimiliki adalah stadium telur dan stadium imago (dewasa). Contohnya kutu buku yang bertelur kemudian berkembang menjadi dewasa tanpa melakukan metamorfosis.
• Holometabola
Biolometabola merupakan organisme yang mengalami metamorfosis sempurna. 1 hewan ini memiliki stadium telur, larva (ulat), pupa (kepompong), dan imago (dewasa). Contoh hewan yang mengalami metamorfosis sempurna adalah kupu-kupu. Stadium telurnya dapat kita amati pada daun jeruk nipis. Telur menjadi larva yang sangat aktif mencari makan dengan cara memakan daun jeruk nipis. Pada stadium larva terjadi beberapa kali pergantian kulit yang disebut dengan ekdisis. Setelah itu larva akan berubah menjadi pupa (kepompong). Fase pupa merupakan fase istirahat. Kemudian, pupa berkembang menjadi kupu-kupu yang mampu terbang dan berkembang biak kembali untuk menghasilkan telur. Contoh lain holometabola adalah kumbang, ngengat, semut, dan lebah.
• Heminietaboin
Elemimetabola merupakan organisme yang mengalami metamorfosis tidak sempurna. Stadium yang dimiliki oleh hewan ini adalah telur, larva atau nimfa, semi-imago,dan imago (dewasa). Contoh hewan kelompok ini adalah kumbang. Stadium Mtr dapat kita amati pada pasir sebagai medium peletakan telur. Setelah telur menetas, terbentuk stadium larva.
Setelah itu akan terbentuk stadium semi-imago. Stadium ini memiliki bentuk morfologi yang sama dengan kumbang imago, tetapi belum memiliki kemampuan untuk bereproduksi, karena organ reproduksinya belum tumbuh sempurna. Setelah itu kumbang memasuki stadium imago yang mampu bereproduksi atau berkembang biak menghasilkan telur. Contoh lain hemimetabola adalah metamorfosis belalang, walang sangit, dan lipas.
Metamorfosis katak (amfibi)
Tahap metamorfosis katak pada umumnya dibagi menjadi 3 stadium, yaitu premetamorfosis, prometamorfosis, dan metamorfosis klimaks. Selama stadium premetamorfosis, telur yang telah dibuahi tumbuh menjadi berudu (kecebong). Berudu bertambah ukurannya dengan sedikit perubahan bentuk tubuh. pada stadium prometamorfosis, kaki bagian belakang muncul dan pertumbuhan tubuh terjadi secara lambat. Selama metamorfosis klimaks, kaki bagian depan muncul dan ekor mulai menghilang.
Pstaka
BIOLOGI : - Jilid 3 Oleh Diah Aryulina, Dkk
Beberapa hewan invertebrata mengalami regenerasi atau metamorfosis selama pertumbuhan dan perkembangannya. Sedangkan hewan vertebrata mengalami pertumbuhan dan perkembangan dari hewan muda (anak) menjadi hewan dewasa.
Regenerasi
Regenerasi adalah proses perbaikan tubuh yang luka atau rusak. Proses ini ditentukan oleh set-set batang dalam tubuh hewan yang belum mengalami diferensiasi. Pada organisme yang berkembang biak secara aseksual, regenerasi berarti juga sebagai proses reproduksi atau berkembang biak. Contohnya cacing pipih. Cacing pipih memiliki kemampuan regenerasi yang sangat tinggi. Apabila tubuhnya dipotong„ setiap potongan akan menjadi individu baru dan lengkap.
Metamorfosis
Metamorfosis adalah perubahan ukuran, bentuk, dan bagian-bagian tubuh hewan dari suatu stadium ke stadium berikutnya. Metamorfosis merupakan proses pertumbuhan dan perkembangan hewan khususnya serangga dan amfibi menuju dewasa. Dalam siklus hidupnya, hewan memiliki struktur dan fungsi tubuh yang berbeda pada setiap stadium. Metamorfosis dikendalikan oleh hormon. Di bawah pengaruh hormon, ukuran tubuh hewan bertambah, jaringan terorganisasi, dan bagian-bagian tubuh kembali dibentuk.
Metamorfosis serangga (insekta)
Berdasarkan tidak terjadinya atau terjadinya tahap metamorfosis yang dialami, serangga dibedakan menjadi kelompok serangga ametabola, holometabola, dan hemimetabola.
• Ametabola
Ametabola merupakan organisme yang tidak mengalami proses metamorfosis. Stadium yang dimiliki adalah stadium telur dan stadium imago (dewasa). Contohnya kutu buku yang bertelur kemudian berkembang menjadi dewasa tanpa melakukan metamorfosis.
• Holometabola
Biolometabola merupakan organisme yang mengalami metamorfosis sempurna. 1 hewan ini memiliki stadium telur, larva (ulat), pupa (kepompong), dan imago (dewasa). Contoh hewan yang mengalami metamorfosis sempurna adalah kupu-kupu. Stadium telurnya dapat kita amati pada daun jeruk nipis. Telur menjadi larva yang sangat aktif mencari makan dengan cara memakan daun jeruk nipis. Pada stadium larva terjadi beberapa kali pergantian kulit yang disebut dengan ekdisis. Setelah itu larva akan berubah menjadi pupa (kepompong). Fase pupa merupakan fase istirahat. Kemudian, pupa berkembang menjadi kupu-kupu yang mampu terbang dan berkembang biak kembali untuk menghasilkan telur. Contoh lain holometabola adalah kumbang, ngengat, semut, dan lebah.
• Heminietaboin
Elemimetabola merupakan organisme yang mengalami metamorfosis tidak sempurna. Stadium yang dimiliki oleh hewan ini adalah telur, larva atau nimfa, semi-imago,dan imago (dewasa). Contoh hewan kelompok ini adalah kumbang. Stadium Mtr dapat kita amati pada pasir sebagai medium peletakan telur. Setelah telur menetas, terbentuk stadium larva.
Setelah itu akan terbentuk stadium semi-imago. Stadium ini memiliki bentuk morfologi yang sama dengan kumbang imago, tetapi belum memiliki kemampuan untuk bereproduksi, karena organ reproduksinya belum tumbuh sempurna. Setelah itu kumbang memasuki stadium imago yang mampu bereproduksi atau berkembang biak menghasilkan telur. Contoh lain hemimetabola adalah metamorfosis belalang, walang sangit, dan lipas.
Metamorfosis katak (amfibi)
Tahap metamorfosis katak pada umumnya dibagi menjadi 3 stadium, yaitu premetamorfosis, prometamorfosis, dan metamorfosis klimaks. Selama stadium premetamorfosis, telur yang telah dibuahi tumbuh menjadi berudu (kecebong). Berudu bertambah ukurannya dengan sedikit perubahan bentuk tubuh. pada stadium prometamorfosis, kaki bagian belakang muncul dan pertumbuhan tubuh terjadi secara lambat. Selama metamorfosis klimaks, kaki bagian depan muncul dan ekor mulai menghilang.
Pstaka
BIOLOGI : - Jilid 3 Oleh Diah Aryulina, Dkk
Langganan:
Postingan (Atom)